Kemenangan di Kualifikasi Piala Asia 2026 atas Kirgistan menunjukkan pula pentingnya pembenahan teknik dasar timnas sepak bola putri Indonesia.
30 Jun 2025 12:47 WIB · Olahraga
Seperti halnya kekalahan, kemenangan dalam suatu pertandingan juga memberi pelajaran berharga. Itu pula yang diterima timnas sepak bola putri Indonesia ketika memenangi laga perdana mereka di Kualifikasi Piala Asia 2026 kontra Kirgistan. Lawan menyingkap beberapa kelemahan ”Garuda Pertiwi”, terutama menggaungkan lagi urgensi pembenahan fondasi bermain sepak bola.
Tidak ada euforia berlebih dari para pemain timnas putri Indonesia ketika wasit meniup peluit panjang untuk mengakhiri laga Grup D Kualifikasi Piala Asia 2026 di Stadion Indomilk Arena, Kabupaten Tangerang, Banten, Minggu (29/6/2025) malam. Indonesia menang dengan skor minimalis, 1-0, lewat gol pemain yang baru dinaturalisasi pertengahan bulan ini, Isa Warps, pada menit ke-65.
Wajar para pemain Indonesia merayakan secukupnya raihan tiga poin perdana itu. Mereka hanya berdoa dan bersyukur di lapangan. Lalu, beberapa pemain menghibur lawan yang kecewa.
Indonesia menang dan menjaga peluang untuk bisa lolos ke putaran final, tetapi perjalanan masih panjang. Masih banyak pula hal yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan.
”Garuda Pertiwi” dominan hampir sepanjang laga. Kapten Kirgistan, Aizhan Boronbekova, bahkan mengakui timnya kesulitan menghadapi Indonesia. Apalagi, Indonesia berstatus sebagai tuan rumah. Namun, skor tipis 1-0 untuk Indonesia juga menunjukkan Kirgistan mampu memberikan perlawanan berarti.
Kirgistan memang berhasil berkali-kali memutus serangan tuan rumah hingga tampak buntu pada paruh pertama. Timnas Kirgistan, yang dihuni oleh para pemain yang pada Maret lalu memperkuat timnas futsal putri dan juga berhadapan dengan timnas futsal Indonesia, menunjukkan, ada beberapa aspek yang memang perlu diperbaiki oleh Indonesia.
Kelemahan-kelemahan itu diakui pelatih timnas putri Indonesia, Satoru Mochizuki. Menurut Mochizuki, salah satu kelemahan yang terlihat adalah aspek penyelesaian akhir. Anak-anak asuhannya punya banyak peluang, tetapi hanya satu yang berbuah gol.
”Memang dalam sepak bola, penting untuk mencetak banyak gol. Apalagi, dalam persaingan di grup, tidak hanya butuh menang, tapi juga banyak gol,” ucap Mochizuki.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/29/615ca44defeeb8bf0b13aa164df90e23-20250629YGA01.jpg)
Pada delapan menit pertama, misalnya, Indonesia sudah mampu mengemas empat peluang lewat empat pemain berbeda, yakni Claudia Scheunemann, Viny Silfianus, Rosdilah Siti, dan Gea Yumanda. Namun, semua peluang itu berakhir bisa dimentahkan kiper lawan atau berakhir melebar dari gawang.
Tujuan utama pertandingan sepak bola adalah mencetak gol sebanyak-banyaknya ke gawang lawan. Seperti Mochizuki sampaikan, di Kualifikasi Piala Asia 2026 ini, menang saja tidak cukup. Tim juga harus mencetak banyak gol.
Terlebih, Indonesia akan bersaing dengan lawan terberat di Grup D, Taiwan, untuk menjadi juara grup. Hanya juara grup yang berhak mendapatkan tiket ke Piala Asia. Meski sama-sama meraih tiga poin dengan Indonesia, Taiwan kini memimpin klasemen sementara setelah menang 8-0 atas Pakistan.
Mochizuki mengapresiasi anak-anak asuhannya yang mencoba mengatasi problem finishing itu dengan melepaskan tendangan-tendangan langsung ke gawang dari luar kotak penalti. Namun, dia juga akan berusaha mengatasi kesulitan para pemain untuk menembus area dekat gawang dan menciptakan peluang dari sana.
Meski demikian, Mochizuki percaya, problem penyelesaian akhir itu akan teratasi jika para pemain punya fondasi, yakni teknik dasar sepak bola yang mumpuni. ”Hari ini Indonesia bisa lebih banyak pegang bola, tetapi masih banyak salah kontrol, hilang bola, salah mengumpan. Jadi, kalau lawan Taiwan, ini bakal bisa dimanfaatkan mereka. Maka dari itu, kami harus meningkatkan kemampuan dasar,” kata Mochizuki.
”Akurasi akan meningkat kalau kemampuan dasar pemain juga meningkat. Sebab, mereka akan bisa lebih dekat ke gawang, menendang bola pun bisa lebih akurat,” tutur pelatih asal Jepang ini.
Sejak menangani timnas mulai 2024, Mochizuki memang menekankan soal pentingnya penguatan teknik dasar bermain sepak bola, seperti mengumpan, mengontrol, dan menggiring bola, serta menempatkan posisi. Apalagi, menurut pelatih yang pernah menjadi bagian tim kepelatihan timnas putri Jepang yang menjuarai Piala Dunia 2011, para pemain Indonesia masih perlu penguatan fondasi tersebut.
”Bukan hanya di Jepang, tapi di seluruh dunia, tim-tim kuat seperti Spanyol, Inggris, dan lainnya juga berangkat dari hal-hal mendasar, teknik-teknik dasar seperti ini. Mereka mengutamakan fondasinya biar kuat dan sekarang jadilah tim-tim seperti mereka,” kata Mochizuki pertengahan tahun lalu ketika ditanya mengapa selalu memberi latihan teknik dasar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/29/231fb7c5b892cf6960dac71831931a11-20250629YGA05.jpg)
Problem teknik dasar ini memang cukup terlihat dalam 90 menit lebih laga kontra Kirgistan. Serangan-serangan Indonesia banyak terputus bukan hanya karena intervensi pemain lawan, melainkan juga karena kesalahan operan atau operan yang tidak sempurna dari pemain Indonesia. Ketika mendapatkan umpan untuk memulai serangan, sering kali pemain juga belum bisa mengontrol bola dengan baik.
Masalah tersebut sebenarnya tak hanya mengemuka di timnas putri. Mantan timnas putra, Shin Tae-yong, juga pernah mengeluhkan kurangnya kemampuan mengoper dan mengontrol bola dari para pemain Indonesia. Secara kecepatan dan stamina, para pesepak bola Indonesia tidak kalah dari negara lain. Namun, untuk urusan teknik dan visi bermain, masih banyak hal yang harus dibenahi.
Bagi para pesepak bola putri, problem ini diperparah dengan ketiadaan kompetisi dalam enam tahun terakhir. Setelah Liga 1 Putri, kompetisi kasta tertinggi sepak bola putri, mati suri setelah digelar pada 2019, para pemain praktis tak bisa mengasah kemampuan mereka lewat pertandingan reguler. Mereka hanya mengandalkan turnamen yang juga tidak konsisten digelar, sisanya bersiasat dengan mencari pengalaman di luar negeri.
Mengandalkan latihan dari Mochizuki di timnas pun sebenarnya tidak akan cukup. Terbukti dalam satu tahun sejak kedatangannya, kemampuan dasar ini masih jadi aspek yang perlu ditingkatkan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/29/b1a9186ab5d1836d5960ad6a6db7b38a-20250629YGA04.jpg)
Pada akhirnya, persoalan ini juga menggaungkan soal pentingnya pembinaan yang berkelanjutan. Saat menangani tim putri U-17 di Piala Asia 2024, Mochizuki pernah menyampaikan, dirinya membawa pemahanan dari Jepang soal permainan sepak bola itu difokuskan pada keterampilan mendasar, seperti umpan, kontrol bola, dan menembak bola.
”Seharusnya memang teknik dasar ini diajarkan sejak dini sehingga saat remaja sudah bisa lebih memahami dan kemampuannya meningkat. Namun, tidak masalah, kita akan memulainya pada tim U-17 ini,” tutur Mochizuki.
Kendati masih ada aspek-aspek yang perlu ditingkatkan, timnas putri juga menunjukkan hal positif dalam soliditas tim. Hal ini juga diamini oleh Claudia Scheunemann yang menilai kerja sama tim sudah terbentuk. Hanya, saat menyerang, mereka masih terlalu terburu-terburu.
”Paling harus lebih tenang lagi mainnya, umpan satu-dua, jangan buru-buru mau bermain ke depan. Clau yakin, di pertandingan berikutnya, kami akan kasih 100 persen lagi dan semoga bisa dapet tiga poin lagi,” tutur pemain yang baru berusia 16 tahun ini.
Ibarat sebuah bangunan, timnas sepak bola putri harus punya fondasi kuat agar kokoh berdiri. Masih ada dua laga tersisa di Kualifikasi Piala Asia 2026, melawan Pakistan pada Rabu (2/7/2025) dan Taiwan pada Sabtu (5/7/2025).
Masih ada pula kesempatan untuk meraih mimpi mencapai level Asia serta dunia nantinya. Dari peningkatan hal mendasar, yang juga seharusnya juga dibarengi pembinaan berjenjang dan berkelanjutan, mimpi itu bisa terus coba diwujudkan.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji