Kirim Panglima Perang ke Perundingan, Isyarat Trump Tetap Mau Serang Iran

Laksamana Brad Cooper hadir sebagai wujud tekad kuat Trump menggunakan militer jika perundingan gagal. AS sudah biasa mengutus jenderal ke meja perundingan.

08 Feb 2026 12:00 WIB · Internasional

US Centcom

Oleh Kris Mada

TEHERAN, MINGGU — Perundingan lanjutan Amerika Serikat-Iran dijadwalkan berlangsung beberapa hari mendatang. Meski setuju berunding, AS tetap mempertahankan persiapan menyerang Iran.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan, Iran tak akan meninggalkan program nuklirnya. ”Tak ada ada siapapun berhak mendikte kami,” ujarnya di Teheran, Minggu (8/2/2026).

Iran akan mempertahankan hak memperkaya uranium sekalipun diancam diserang AS. ”Pengerahan militer mereka di kawasan tidak menakutkan kami,” ujarnya.

Ia menyampaikan itu dua hari setelah AS-Iran berunding di Oman. Presiden AS Donald Trump mengutus Laksamana Brad Cooper menjadi anggota delegasi.

Hadir dengan seragam lengkap, Cooper mendampingi Utusan Khusus AS untuk Perdamaian Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner. Mereka berunding delapan jam dengan delegasi Iran yang dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

Selepas dari Oman, tiga perunding AS berkunjung ke kapal induk USS Abraham Lincoln. Sejak akhir Januari 2026, kapal induk itu bersama sejumlah kapal perusak berpeluncur rudal dan setidaknya 60 jet tempur serta helikopter telah berada di Laut Arab.

Mereka di perairan yang menjadi wilayah operasi Komando Tengah (Centcom) AS. Cooper adalah Panglima Centcom. Pada Sabtu malam, Centcom menyiarkan lawatan Cooper ke kapal induk itu. Centcom juga menyiarkan foto-foto USS Abraham Lincoln dan pengiringnya.

Trump menyatakan ada cukup waktu bagi AS untuk menanti kesepakatan. ”Kalau anda ingat Venezuela, kami menanti beberapa waktu. Kami tidak terburu-buru,” ujarnya.

Ia merujuk fakta AS mengerahkan armada perang beberapa bulan ke Karibia sebelum akhirnya menyerang Venezuela pada 3 Januari 2026. Sementara di sekitar Iran, pembangunan kekuatan AS baru dimulai akhir Januari lalu.

AS telah menambah jet tempur dan armada pendukung di Timur Tengah. Pesawat angkut militer AS disebut memindahkan artileri pertahanan udara besar-besaran ke sekitar Iran dan Israel.

Meremehkan diplomat

Mantan staf ahli Dewan Keamanan Nasional AS, Elisa Ewers, menyebut kehadiran Cooper sebagai cara Trump meremehkan para diplomat. Trump juga mengisyaratkan ketergantungan pada militer untuk menyelesaikan isu luar negeri.

Sementara mantan Penasihat Departemen Luar Negeri AS, Eliot Cohen, menyebut bahwa AS sudah biasa mengutus perwira militer ke meja perundingan. Selama perundingan dengan Uni Soviet di era Perang Dingin, AS melakukan itu. ”Ada tradisi panjang presiden Amerika menggunakan orang-orang yang tidak biasa sebagai utusan jika mereka memercayai mereka dan berpikir mereka dapat menyampaikan pesan,” kata Cohen.

Analis pertahanan pada Brookings Institution, Michael O’Hanlon, menyebut bahwa kehadiran Cooper jelas untuk mengintimidasi Iran. Cooper hadir sebagai wujud tekad kuat Trump menggunakan militer apabila perundingan gagal.

Mantan direktur di Dewan Keamanan Nasional AS, Michael Singh, menilai Cooper hadir karena keahliannya. Sebagai Panglima Centcom, Cooper disebut memiliki pemahaman memadai soal kawasan. Ia juga punya akses langsung ke penilaian versi militer atas perkembangan di kawasan. Dengan demikian, Cooper dapat segera menganalisis perkembangan perundingan dari sisi militer.

Witkoff dan Kusner, lanjut Singh, mungkin saja punya akses pada sudut pandang militer soal kondisi kawasan dan dampak perundingan dengan Iran. Walakin, Cooper jelas punya akses lebih baik. ”Witkoff dan Kushner bukan ahli Iran. Mereka fokus soal mencapai kesepakatan,” kata Singh.

Sementara perundingan dengan Iran, lanjut Singh, kerap kali amat teknis dan menyangkut aspek militer. Tuntutan Trump pada Iran jelas soal militer. Trump menuntut Iran tak cuma berhenti memperkaya uranium.

AS juga mau Iran menghentikan pengembangan rudal dan relasi dengan milisi di kawasan. Bagi Iran, nuklir bisa dibicarakan, sementara rudal adalah soal pertahanan nasional. Dengan demikian, isu rudal sulit dirundingkan.

Peneliti Institute for National Security Studies (INSS) Israel Danny Citrinowicz mengatakan, dilema kini ada di AS. Washington harus memutuskan kelanjutan perundingan hanya soal nuklir saja atau tidak.

Jika fokus pada nuklir, peluang kesepakatan tercapai terbuka. Kalau melebarkan isu, perundingan mungkin akan gagal.

Iran jelas tak mau membuat konsesi apa pun di luar soal nuklir. Tekanan AS selama bertahun-tahun terbukti tak mampu membuat Iran menyerah.

AFP PICTURES OF THE YEAR 2025Israeli air defence systems are activated to intercept Iranian missiles over the Israeli city of Tel Aviv early on June 18, 2025.. Israel and Iran exchanged fire again on June 17, the fifth day of strikes in their most intense confrontation in history, fuelling fears of a drawn-out conflict that could engulf the Middle East. (Photo by Menahem Kahana / AFP) / AFP PICTURES OF THE YEAR 2025

Kalau AS memutuskan menyerang Iran, eskalasi akan meningkat dan amat mungkin tak terkendali. Sebab, Iran pasti akan membalas dan diragukan Teheran akan menahan diri seperti dilakukan pada Juni 2025.

Serangan Juni dan kini, lanjut Citrinowicz, jelas akan sangat berbeda. Serangan Juni dimulai Israel dan AS ikut belakangan. Hasilnya, Israel digempur Iran dengan ribuan pesawat nirawak dan rudal. Lapisan pertahanan udara yang disediakan AS dan sekutunya tetap gagal mencegah rudal Iran menghancurkan berbagai lokasi di Israel.

Serangan sekarang amat mungkin dimulai AS. Reaksi Iran amat mungkin seperti dilakukan terhadap Israel Juni lalu. ”Mempertimbangkan kesiapan Iran saat ini, tak ada pilihan untuk serangan terbatas,” ujar Citrinowicz, mantan Kepala Bagian Iran di intelijen pertahanan Israel.

Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute for Responsible Statecraft di AS, Trita Parsi, menyebut Iran dalam kondisi siap perang. “Ada pandangan kuat dari Iran bahwa Trump memiliki asumsi yang berlebihan soal kelemahan Iran,” ujarnya.

Oleh karena itu, Iran percaya perang singkat dan intens mungkin diperlukan untuk memperbaiki persepsi Trump dan memaksanya untuk mengadopsi tuntutan yang lebih realistis. ”Jika Iran mengalami kerugian besar dalam perang semacam itu, begitu pula Amerika dan Israel. Trump kurang toleran terhadap kerugian atau perang yang berkepanjangan,” kata Parsi kepada The New York Times. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji