Bayang Risiko dan Kisah Sunyi Para Pengamat Gunung Lewotobi

Bekerja dalam zona bahaya, petugas tak boleh tanggalkan sepatu. Sepeda motor wajib hadap halaman supaya, jika terjadi apa-apa, bisa langsung lari.

18 Nov 2024 14:55 WIB · Lingkungan

Oleh Fransiskus Pati Herin

Pos yang biasa dikunjungi tamu,  Jumat (15/11/2024) pagi, sepi. Dua sepeda motor diparkir menghadap pintu keluar, tanda siaga kala datang keadaan darurat. Dari situ terdengar gemuruh hebat dan semburan erupsi setinggi ribuan meter di puncak Gunung Lewotobi Laki-Laki. 

Emanuel Bere menatap layar komputer untuk membaca sinyal gelombang radio yang terpancar dari alat yang dipasang di gunung. Ia tekun mencatatkan perkembangan gempa tremor yang terekam seismograf serta durasi erupsi.

Ia lalu ke luar ruangan melihat kolom erupsi dari kawah berketinggian 1.584 meter di atas permukaan laut itu. Selesai mendata, ia merilisnya. Laporan Emanuel yang merupakan pengamat gunungapi di pos itu telag ditunggu-tunggu oleh banyak orang, tak terkecuali masyarakat di sekitar gunung yang terletak di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Dalam laporannya, Emanuel merekomendasikan zona aman untuk aktivitas warga berjarak di atas sembilan kilometer dari puncak gunung. Padahal, pos tempatnya menulis laporan itu berjarak hanya tujuh kilometer dari puncak. Itu berarti pos telah masuk dalam zona bahaya. 

Sadar akan itu, Emanuel selalu siaga. Ia tak menanggalkan kasut di pintu masuk, sebagaimana kebiasaan di Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-laki. "Sepatu tidak boleh lepas. Barang penting melekat di badan. Sepeda motor stand by menghadap ke luar. Kalau terjadi apa-apa, langsung lari," katanya.

Jumat pagi itu, Emanuel dan seorang temannya datang melihat kondisi pos serta peralatan di dalamnya yang bekerja 24 jam. Selama dua hari, pos di Desa Pululera, Kecamatan Wulanggitang, itu dikosongkan karena dianggap tidak aman ketika terjadi erupsi pada Selasa (12/11/2024) malam.

Quote

Sepatu tidak boleh lepas. Barang penting melekat di badan. Sepeda motor stand by menghadap ke luar. Kalau terjadi apa-apa, langsung lari.

Emanuel, salah satu yang lari dari pos pada malam itu saat hujan kerikil mulai mengguyur pos dan sekitarnya. Mereka pun khawatir terkena lontaran batu api dari mulut gunung. "Malam itu kami lari, dan bermalam di tengah kebun masyarakat. Tidak ada pilihan lain," katanya.

Lontaran batu api

Emanuel tidak bisa menyembunyikan trauma ketika letusan eksplosif terjadi pada Minggu (3/11/2024) sekitar pukul 23.52 Wita. Saat itu, gunung memuntahkan material panas termasuk batu api, yang kemudian menghujani daerah itu. Batu pijar bahkan melewati pos pengamatan. Sebuah batu seberat lebih kurang 3 kilogram ditemukan di sana.

Sebagian batu itu kini tersimpan di pos dan akan menjadi cerita sejarah di masa depan. Sebagian lagi dibawa ke kantor Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung, Jawa Barat, untuk diteliti. Hasil penelitian itulah yang nanti akan mengungkapkan berbagai misteri gunungapi.

Sejumlah pengungsi menyaksikan lava pijar dan kolom asap keluar dari kawah Gunung Lewotobi Laki-laki di lokasi pengungsian swadaya di perbukitan Desa Pululera, Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Senin (11/11/2024) malam. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan hingga Selasa (13/11) pagi Gunung Lewotobi Laki-laki masih mengalami erupsi dengan ketinggian kolom abu setinggi 3.500-4.000 meter dan terus mengeluarkan lava ke arah barat laut. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/Spt.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-laki Herman Yosef Mboro, mengatakan, pos masih tetap berfungsi merekam aktivitas gunung. Semua peralatan dalam keadaan baik. Dari jauh, petugas bisa memantau rekaman data serta gambar. "Komputer bisa di-remote dari jauh. Ada juga CCTV untuk melihat visual gunung bisa akses dari jauh," katanya.

Menurut Herman, ada opsi pemindahan pos pengamatan ke tempat yang lebih aman namun itu tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat. Pemindahan dimulai dari pengadaan lahan, pembangunan pos, dan pemasangan berbagai peralatan. Hal itu butuh waktu.

Opsi yang dilakukan saat ini adalah pengosongan pos ketika dalam keadaan darurat sambil melihat kondisi gunung. Pengosongan ini baru pertama kali dilakukan sejak pos berdiri. Pengosongan dilakukan demi keselamatan petugas. Herman memastikan, pengosongan tidak memengaruhi proses pelaporan informasi gunungapi.

Kompas dan sejumlah awak media pernah dalam kondisi darurat saat sedang berada di pos pada Kamis (7/11/2024) lalu. Kala itu, tinggi kolom erupsi mencapai 8.000 meter di atas kawah. Boby Lamanepa, salah satu pengamat gunungapi, memerintahkan semua orang di pos segera keluar.

"Pakai sepatu dan segera keluar. Jangan panik," ujar Bobby. Para awak media langsung meraih peralatan kerja dan bergerak ke arah barat laut menuju perkampungan Pululera. Selama lebih kurang 4 jam, awak media terisolasi di sana. 

Tak ada jalan keluar. Satu-satunya jalur adalah melalui Jalan Trans Flores di Desa Hokeng Jaya yang berjarak lebih kurang 5 kilometer dari puncak gunung. Ketika erupsi besar, jalur itu tidak boleh dilewati karena khawatir terjadi lontaran batu api serta luncuran awan panas.

Wartawan, relawan dan petugas di Pos Pengamatan Gunung Api Lewotobi Laki-laki bergegas mencari titik aman setelah gunung itu erupsi lagi pada Kamis (7/11/2023) pukul 10.30 wib atau 12.30 wita. Letusan yang terjadi kamis menjelang siang itu membuat jalur trans Flores diguyur hujan abu.

Erupsi terus menerus ini mulai terjadi sejak Minggu (3//11/2024) malam. Jumlah korban meninggal 9 orang, luka berat 1 orang, luka ringan 32 orang, dan dalam perawatan 6 orang. Para korban kebanyakan terkena material batu api yang terlontar dari kawah gunung.

Dalam catatan Kompas, erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki pertama kali tercatat dalam sejarah manusia terjadi pada tahun 1861. Gunung Lewotobi Laki-laki memiliki kembaran bernama Gunung Lewotobi Perempuan yang memiliki ketinggian 1.708 meter di atas permukaan laut. 

Puncak kedua gunung itu terpisah jarak lebih kurang 2 kilometer. Pelana yang memisahkan kedua puncak itu berketinggian 1.232 meter di atas permukaan laut. Adapun erupsi Gunung Lewotobi Perempuan pertama kali tercatat adalah pada tahun 1921. Gunung Lewotobi Laki-laki lebih banyak erupsi dibandingkan Gunung Lewotobi Perempuan.

Hingga Senin (18/11/2024) ini, erupsi masih terus terjadi. Tak tahu kapan akan berakhir. Setiap waktu, para pengamat gunungapi terus bekerja melihat dan melaporkan kondisi gunung. Dalam sunyi, mereka berkerja dengan risiko tinggi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Pati Herin
 | 

Editor:

Irma Tambunan