Kisah Guru Gen Z Hadapi Risiko Tinggi dan Murid Masa Kini

Guru gen Z memikul beban yang tidak proporsional; gaji rendah, ekspektasi tinggi, konflik dengan orangtua, dan dinamika karakter siswa masa kini.

26 Nov 2025 12:26 WIB · Pendidikan & Kebudayaan

DOKUMEN KOMPAS

Oleh Stephanus Aranditio

Tidak mudah bagi para guru gen Z yang lahir di masa cepatnya perkembangan teknologi, tumbuh dalam budaya media sosial, dan kini masuk ke ruang kelas yang sistemnya masih mewarisi tradisi puluhan tahun. Mereka tetap bertahan pada profesi guru meski menghadapi tekanan ekonomi, tuntutan sosial, dan kompleksitas generasi siswa masa kini.

Tidak seperti generasi sebelumnya, guru gen Z hampir selalu menjadikan teknologi sebagai titik mula. Miftahul Haryani Haeruddin (26), salah satunya, yang memanfaatkan gawai dan media sosial untuk lebih interaktif dengan murid-muridnya.

Guru Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di SMK Negeri 7 Makassar, Sulawesi Selatan, ini bercerita, tekadnya untuk menjadi guru bermula saat ia terinspirasi dari sosok guru kimianya semasa dia SMA. Menurut dia, cara mengajar guru itu cukup unik, yakni melalui permainan di kelas.

Namun, tidak semua murid bisa memahami permainan tersebut sehingga murid sering kali diminta untuk mengulang-ulang materi sampai bisa. Dari cara mengajar itu, Miftahul senang dan ingin mencontohnya saat dewasa kelak.

”Jadi saya bilang ke gurunya; nanti kalau saya jadi guru, saya yang akan menggantikan ibu,” kata Miftahul saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (26/11/2025).

Miftahul Haryani Haeruddin (26), Guru Gen Z tengah mengajar anak muridnya di SMK Negeri 7 Makassar, Sulawesi Selatan.

Lulus dari SMA, Miftahul tanpa ragu langsung mendaftar jurusan pendidikan kimia di Universitas Negeri Makassar. Sosok ibu guru kimia-nya terus menjadi penyemangatnya selama berkuliah hingga lulus.

Quote

Dampak negatifnya perkembangan teknologi itu degradasi moral pada murid.

Pengabdiannya menjadi guru baru dimulai pada 2020, ia menjadi guru honorer di salah satu SMA negeri di Makassar. Honor pertamanya sebagai pendidik hanya Rp 90.000 dan selama dua tahun di SMA tersebut, honor paling besar yang pernah ia terima adalah Rp 270.000 per bulan. Mengajar les privat di luar sekolah menjadi ”jalan ninja” untuk menambah penghasilan.

”Awalnya menangis, sedih, malu sama orangtua karena cuma bisa kasih dapat gaji segini. Enggak bisa kasih apa-apa,” ungkapnya.

Tahun 2024, dia mencoba memperbaiki nasib dengan mengikuti seleksi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) hingga lolos dan ditempatkan di SMKN 7 Makassar. Di sini, tugasnya tidak hanya mengajar IPAS, dia juga ditugaskan menjadi wali kelas, guru wali, dan pembina ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR).

Ekspektasinya menjadi guru yang menyenangkan seketika berubah saat ia terjun langsung bekerja sebagai guru. Menghadapi murid-murid yang karakternya berbeda-beda dengan tuntutan tetap menjadi guru yang baik bagi mereka, diakuinya, tidaklah mudah.

Miftahul Haryani Haeruddin (26), Guru Gen Z mengajar murid-muridnya di SMK Negeri 7 Makassar, Sulawesi Selatan.

Tak cuma berhadapan dengan murid, guru gen Z juga harus berhadapan dengan guru-guru generasi baby boomer yang tak jarang melimpahkan tugas-tugas administrasi sekolah ke mereka yang muda. Tak ada kata lain selain ”siap” yang bisa diucapkan kepada senior.

”Namun, tuntutan untuk memanusiakan manusia itu kayaknya sangat membuat saya tertantang. Saya rasa lebih hidup kalau saya jadi guru. Kalau saya sakit, saya ketemu mengajar anak-anak, justru pulangnya sembuh,” ujar Miftahul mensyukuri setiap prosesnya.

Seperti bunga teratai

Proses serupa dialami pula oleh Diki Bayu Aji (28), guru Bahasa Indonesia di SMPN 154 Jakarta Selatan. Dia mengawali karier sebagai guru sejak 2019 sebagai guru honorer dengan honor hanya Rp 1,8 juta di salah satu sekolah swasta di Jakarta, lalu menjadi PPPK sejak 2023.

Masa kecilnya Diki tidaklah mudah, ia nyaris tidak melanjutkan ke SMK hingga sekarang S-2 jika tanpa bantuan dari orangtua angkatnya. Kesempatan itu tak disia-siakan Diki dengan memikirkan diri sendiri, ia memilih karier untuk menjadi guru agar semua anak bisa mengenyam pendidikan.

”Saya selalu menganalogikan bunga teratai. Walaupun ia tumbuh dalam kondisi lingkungannya tidak baik dan kurang mendukung, tetapi kalau jati diri kita pengin sukses, kita bisa kok,” kata Diki.

Diki Bayu Aji (28), guru gen Z, berfoto bersama murid-muridnya di SMP Negeri 154 Jakarta Selatan saat perayaan Hari Guru Nasional, Selasa (25/11/2025).

Kini, di SMP Negeri 154 Jakarta Selatan, Diki menjadi guru Bahasa Indonesia dengan jam mengajar 36 jam seminggu, ditambah wali kelas untuk 36 murid, guru wali untuk 20 murid, dan pembina Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) yang di dalamnya ada 74 murid.

Beban kerja itu, diakuinya, tidak enteng di tengah pengabdiannya tebersit untuk berhenti dan mencari pekerjaan lain. Namun, ia selalu teringat akan masa depan anak-anak didiknya.

”Saya berusaha semaksimal mungkin untuk jadi guru. Gen Z ini tulang punggungnya pendidikan sekarang. Kalau kami hanya pikir gaji dan mundur, mungkin masa depan negara ini akan hancur,” ujarnya.

Media sosial pun menjadi sarana mereka berekspresi. Miftahul dan Diki sama-sama memanfaatkan medsos untuk berbagi pengalaman mengajar di antara mereka para guru gen Z. Tak jarang pula mereka berbagi cerita tentang kelakuan murid-murid zaman sekarang.

Bagi Miftahul, khususnya, medsos juga jadi sarana mendidik karakter anak. Jika ada murid yang bandel, akan direkam dan diunggah ke medsos miliknya. Tentu semua ini berdasarkan kesepakatan di awal antara guru, murid, dan orangtua.

”Misalnya anak-anak melanggar disiplin bajunya kurang rapi atau mungkin tidak pakai sepatu, saya langsung kasih tahu mau perbaiki bajunya atau saya video,” ungkap Miftahul.

Diki Bayu Aji (28), guru gen Z, berfoto bersama murid-muridnya di SMP Negeri 154 Jakarta Selatan.

Dua guru gen Z ini menunjukkan bahwa mereka adalah generasi yang adaptif, tahan banting, dan penuh kreativitas. Mereka juga memikul beban yang tidak proporsional; gaji rendah, ekspektasi tinggi, konflik dengan orangtua, dan dinamika siswa digital-native. Namun, keduanya tetap bertahan.

”Dampak negatifnya teknologi itu, kan, degradasi moral ya. Jadi, kami sering banget di kelas mendengar kata-kata yang tidak enak didengar dari anak dan mereka kadang sulit diatur. Itu memang efek dari digital,” kata Diki.

Namun, di tengah kisah guru-guru muda yang terpanggil ini, saat ini hanya sedikit anak muda yang tertarik menjadi guru. Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Unifah Rosyidi mengungkapkan hasil survei PGRI, hanya 11 persen anak yang tertarik menjadi guru, itu pun hanya di daerah-daerah, bukan pada anak muda di perkotaan. Ini bisa mengancam masa depan pendidikan Indonesia.

Dia mengatakan, harus ada upaya agar anak muda seperti Diki dan Miftahul diperbanyak dengan meningkatkan kesejahteraan, kompetensi, dan perlindungan guru. ”Jadi kalau mau banyak yang mau jadi guru, profesi guru ini harus dimuliakan dan dilindungi,” kata Unifah.


Kerabat Kerja

Penulis:

Stephanus Aranditio
 | 

Editor:

Ichwan Susanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan