Di balik citra perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia terdapat kisah yang nyaris tak terdengar dari perjuangan para fotografer yang mengabadikannya.
12 Agt 2025 07:00 WIB · Klinik Foto
Suatu siang, di tahun 1970-an, fotografer Kompas, Kartono Ryadi, yang akrab disapa KR, menyempatkan mampir ke sebuah kantor kecil di kawasan Jalan Hayam Wuruk, Jakarta. Kantor yang berada tak jauh dari Redaksi Harian Kompas tersebut menjadi tempat KR berteduh dari hujan dan mengedit berita setelah merekam denyut kehidupan dengan berkeliling Jakarta.
Saat di dalam ruang kantor, pandangan matanya tertuju pada tetesan air hujan yang menimpa tumpukan karung. Insting sebagai pewarta foto menggerakkan dirinya untuk memeriksa karung yang ternyata berisi tumpukan lembaran foto-foto lama hitam putih. Betapa terkejutnya saat ia mengetahui foto tersebut berisi rekaman berbagai peristiwa bersejarah bangsa Indonesia dari zaman Kemerdekaan tahun 1945. Dari beberapa tumpukan karung tersebut, sebagian terlihat kusam dan lengket bekas terkena air.
KR kemudian menanyakan ke petugas di kantor tersebut mengenai tumpukan foto bersejarah yang terbengkalai. Album-album tersebut merupakan koleksi foto karya fotografer kantor berita Indonesian Press Photo Service (IPPHOS) yang dicetak untuk dijual.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/11/3b9c2cce-3d82-4b91-af6a-69cf2977e0f5_jpg.jpg)
Saat kembali ke kantor Redaksi Harian Kompas, KR melaporkan ke pimpinannya mengenai kondisi foto-foto bersejarah yang terbengkalai itu. Kemudian, Kompas pun membeli foto-foto tersebut dari IPPHOS. Dua kali Kompas membeli berbentuk foto dan kumpulan album. Semua foto dicetak berukuran 3R jumbo atau seukuran kartu pos. Ada ribuan foto dari foto Proklamasi Kemerdekaan RI hingga peristiwa di awal tahun 1960-an.
Semua foto-foto tersebut karya fotografer IPPHOS yang merupakan agensi foto jurnalistik swasta pertama di Indonesia. IPPHOS didirikan oleh 4 orang dari keluarga Mendur dan Umbas. Dua fotografer Alexius Impurung Mendur dan adiknya, Frans Sumarto Mendur, yang berkolaborasi dengan dua bersaudara Ferdinand Frans Umbas dan Justus Kopit Umbas. Mereka sebelumnya sudah berpengalaman bekerja untuk beberapa media baik di zaman Belanda, Jepang, maupun kemerdekaan.
IPPHOS didirikan pada 2 Oktober 1946 dengan nama NV IPPHOS Coy Ltd. Selain ada duo Mendur dan duo Umbas, turut bergabung juga Alex Mamusung yang lebih banyak mengurusi proses cuci cetak di kamar gelap. Selain itu, di kemudian hari, juga bergabung nama-nama seperti Melvin Jacob dan Aniem Abdul Rachman, serta adik duo Umbas, yaitu Jan Umbas.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/11/9b8a549e-8bc7-472a-b5ae-5791cfbe9940_jpg.jpg)
Kantor IPPHOS menempati sebuah bangunan bekas gedung Fermount & Cuipers di Jalan Molenvliet Oost yang sekarang dikenal sebagai Jalan Hayam Wuruk, Jakarta. Hingga pertengahan tahun 1970-an, IPPHOS menempati kantor tersebut yang akhirnya pindah ke kawasan Kampung Melayu Kecil, tak jauh dari Sungai Ciliwung.
Dari foto-foto arsip IPPHOS yang menjadi koleksi Kompas dapat dilihat kalau kantor berita foto ini sudah merekam banyak peristiwa bersejarah selama perjalanan bangsa Indonesia merdeka. Foto-foto tersebut menunjukkan kerja jurnalistik tingkat tinggi yang penuh integritas, dedikasi, dan perjuangan.
Dari detik-detik Proklamasi Kemerdekaan, perjuangan bangsa Indonesia di medan pertempuran, hingga proses diplomatik perundingan pengakuan kedaulatan negara mereka rekam. Semua foto tersebut tersebar ke berbagai penjuru dunia melalui media-media yang menjadi pelanggan IPPHOS.
Kerja keras jurnalistik para punggawa IPPHOS ini seperti tak pernah terekspos ke publik sebagai sebuah hasil perjuangan insan pers dalam mendukung Kemerdekaan Republik. Hingga memasuki zaman pemerintahan Orde Baru, IPPHOS seperti dilupakan. Meskipun banyak media yang tumbuh, tak banyak yang menjadi pelanggannya.
Krisis mulai menerpa IPPHOS sebagai sebuah institusi industri. Hingga akhirnya berbagai cara ditempuh untuk bisa bertahan, salah satunya pindah kantor dari kawasan strategis di Jalan Hayam Wuruk ke kawasan Kampung Melayu Kecil.
Fotografer senior dan pendiri Yayasan Matawaktu, Oscar Motuloh, menyatakan, pada pertengahan tahun 1970-an IPPHOS pernah memproduksi serial album foto berisi foto-foto hitam putih koleksi mereka. Album-album tersebut kemudian dijual dengan cara ditawarkan kepada instansi-instansi pemerintah.
”Pada saat itu, mereka mulai terguncang keuangannya sehingga menjual album foto tersebut sebagai upaya untuk bisa survive,” ujar Oscar.
Menurut fotografer yang pernah menjabat sebagai Kepala Divisi Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara tersebut, saat itu banyak instansi pemerintah yang membeli koleksi album foto IPPHOS. Oleh karena itulah, foto-foto bersejarah koleksi IPPHOS tersebut bisa tersebar ke banyak tempat. Album foto yang dibeli Kompas bisa jadi merupakan bagian dari koleksi foto-foto yang memang diproduksi untuk dijual itu.
Sepeninggal para pendirinya, IPPHOS pun perlahan meredup kiprahnya karena tak ada pembaruan dalam manajemen usaha dan sumber daya manusia. Bersamaan dengan itu, juga bermunculan media-media yang memiliki tenaga pewarta foto sendiri. IPPHOS kalah bersaing dengan kantor berita asing serta kantor berita dalam negeri seperti Antara.
Hingga tahun 2002, Kompas yang menjadi pelanggan IPPHOS masih menerima kiriman foto harian dalam bentuk tercetak dengan keterangan foto tertempel di belakang foto. Tak hanya di kantor redaksi di Jakarta, kantor Biro Kompas di Surabaya, Jawa Timur, juga masih rutin menerima setoran foto harian tiap sore dari Kantor IPPHOS Biro Surabaya yang berada di Jalan Urip Sumoharjo.
Tak ada keterangan siapa fotografer yang memotret, hanya selembar keterangan foto tertempel di belakangnya. Foto-foto dari IPPHOS tersebut saat ini sudah dialihmediakan dalam bentuk digital dan menjadi arsip untuk mendukung pemberitaan di Kompas.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/11/616fbeee-bb95-492f-ad08-30dd479e587e_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/11/ef9eb5e9-9a85-4f2f-ae28-0f5b6927df0b_jpg.jpg)
Di awal tahun 2000-an, IPPHOS yang saat itu diwakili beberapa keturunan pendirinya bersepakat untuk menyerahkan koleksi mereka ke kantor berita Antara. Menurut Oscar, proses negosiasi pengalihan perawatan tersebut sudah lama, tetapi baru terjadi kesepakatan pada awal tahun 2000-an. Dipilihnya Antara untuk merawat arsip foto tersebut karena merupakan lembaga resmi negara yang juga menjadi kantor berita negara.
”Saat itu yang diserahkan ada ribuan film negatif, tapi gak semuanya dalam kondisi bagus. Hanya sekitar berapa persen yang layak. Semua kemudian dialihmediakan dan negatifnya kemudian kami serahkan ke ANRI (Arsip Negara Republik Indonesia),” kata Oscar.
Rusaknya ribuan film negatif tersebut diduga karena perawatan tak memadai dan terbengkalai. Selain itu, menurut Oscar, saat IPPHOS pindah kantor ke Kampung Melayu pernah dua kali terkena banjir besar luapan Sungai Ciliwung, akhir 1970-an dan awal tahun 2002.
Setelah tahun 2002 tersebut, kiprah IPPHOS tak terdengar lagi. Tak ada lagi kurir yang rutin dan setia mengantar sebuah amplop berisi foto-foto tercetak ke Kantor Redaksi Harian Kompas, baik di Jakarta maupun Surabaya.
Kini foto-foto arsip IPPHOS yang selamat masih tersimpan rapi di Kompas ataupun Antara. Tak sedikit pula kolektor dan pemerhati sejarah yang juga menyimpan koleksinya. Entah bagaimana nasib album-album foto yang sempat terjual ke berbagai instistusi tersebut.
Di balik citra perjuangan kemerdekaan bangsa terdapat kisah yang nyaris tak terdengar dari perjuangan para fotografer yang mengabadikannya. Mereka juga pejuang yang mengorbankan jiwa raga untuk merekam dan mewartakan kemerdekaan serta perjuangan bangsa ini ke seluruh dunia.
Penulis:
Iwan SetiyawanEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto