Kehabisan stok pangan, para korban bencana berusaha menembus keterisolasian dengan berjalan kaki berhari-hari. Cerita mirip di adegan film, tetapi ini nyata.
01 Des 2025 07:00 WIB · Lingkungan
KOMPAS/NIKSON SINAGA
Setelah tiga hari berjalan kaki dari Kota Sibolga yang terisolasi akibat banjir bandang dan longsor, Desinta Hutabarat (30) bersama kakaknya, Septiana, akhirnya tiba di Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Minggu (30/11/2025). Mereka akhirnya bisa menembus daerah bencana itu dengan melewati jalan hutan, timbunan lumpur, menembus hujan, dan menahan lapar di jalan.
”Kondisi di Sibolga dan Tapanuli Tengah sudah kacau. Tidak ada yang berjualan beras, ikan, telur, atau makanan apa pun. Beberapa warung dan minimarket dijarah warga,” kata Desinta.
Desinta berjalan dari Kota Sibolga untuk mencari bahan pokok dan menemui keluarga. Kaus, celana pendek, kaki, dan tangannya penuh lumpur. Dia membawa bekal makanan dan pakaian dalam dua tas ransel. Sendal jepit yang dia pakai sudah hilang entah di mana.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/30/38a2d35f-5071-4eb2-a89c-f54aa36e94b0.jpg)
Desinta meninggalkan ibu, ayah, dan adiknya di Kota Sibolga. Stok beras mereka hampir habis. Mereka juga tidak tahu kondisi di luar Kota Sibolga karena akses komunikasi dari daerah itu putus total. Listrik juga padam sejak bencana banjir bandang dan longsor terjadi pada Selasa (25/11/2025).
Desinta memutuskan berjalan kaki ke arah Tapanuli Utara sejak Kamis pagi. Dia berjalan bersama 30 orang dari Kota Sibolga.
Setelah berjalan mendaki beberapa jam dari pesisir pantai Kota Sibolga menuju daerah pegunungan Tapanuli, mereka berhadapan dengan puluhan titik longsor di sepanjang Jalan Tarutung-Sibolga. Di beberapa lokasi, jalan juga ambles. Orang-orang langsung berpencar mencari jalan sendiri.
Ada yang memillih melewati timbunan lumpur, sedangkan Desinta memilih masuk ke hutan menghindari lumpur. Saat malam tiba, Desinta bersama beberapa orang masih berada di jalan di pinggir hutan. Mereka kelelahan sehingga memilih tidur di atas aspal. Mereka melanjutkan perjalanan besok paginya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/30/8a27157d-6e2d-4720-a991-48fde1c6630a.jpg)
Pada Jumat pagi, Desinta melanjutkan perjalanan. Tanpa sengaja dia justru bertemu dengan kakaknya, Septina Hutabarat (42), yang datang dari arah Tapanuli Utara untuk mencari kabar orangtua dan adik-adiknya. ”Setelah saya beri tahu bahwa orangtua dan adik kami selamat dari banjir bandang dan longsor, kami memutuskan berjalan ke arah Tapanuli Utara untuk mencari makanan,” kata Desinta.
Di jalan, mereka hanya memakan biskuit seadanya. Mereka akhirnya bisa makan nasi setelah bertemu dengan dapur umum di desa terisolasi yang mereka lewati. Di malam-malam berikutnya, mereka juga diizinkan tidur di teras rumah warga desa.
Desinta merupakan perantau di Kota Batam. Dia kebetulan sedang pulang kampung saat banjir bandang dan longsor. Mereka awalnya bertahan di Sibolga menunggu bantuan. Namun, setelah beberapa hari melihat jalan tak kunjung terbuka, listrik mati, dan tidak ada akses komunikasi, mereka memilih berjalan kaki mencari bantuan.
Sanak saudara juga harap-harap cemas menanti kabar keluarganya di Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah. ”Saya tidak tahu kabar orangtua dan adik-adik saya. Karena itu saya juga memutuskan berjalan kaki ke Sibolga,” kata Septiana yang merupakan petani di Tapanuli Utara.
Septiana juga berjalan dari Tapanuli Utara sejak Kamis. Dia juga melewati jalan hutan bersama beberapa orang yang juga ingin menemui keluarga yang terjebak di Sibolga dan Tapanuli Tengah. Dia mengenakan kaus, celana panjang, dan sendal jepit yang ditenteng hampir di sepanjang perjalanan.
Septiana bersama warga lainnya juga beberapa kali tidur di aspal karena kelelahan. Mereka tidak bisa menembus jalan yang tertimbun longsor. Dia lega setelah akhirnya bisa bertemu dengan adiknya dan mengetahui bahwa orangtuanya selamat dari bencana. Mereka memutuskan berjalan ke arah Tapanuli Utara agar bisa mendapatkan bahan pokok.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/28/a80d1185-a3c8-4ca7-9b12-d9c7767e95a6.jpg)
Warga lainnya, Charli Simorangkir (50), berjalan dua hari dari Tapanuli Tengah agar tiba di Tapanuli Utara. Dia berjalan bersama lima rekannya sesama pekerja bangunan. Mereka merupakan warga Tapanuli Utara yang sedang berkerja di Tapanuli Tengah saat bencana terjadi.
”Awalnya kami bertahan karena masih punya stok beras. Setelah beras terakhir kami habis, kami pikir harus cepat-cepat meninggalkan daerah itu. Di Tapanuli Tengah, orang-orang sudah berebut beras. Ada beberapa minimarket yang dijarah untuk mengambil beras dan bahan pokok lainnya,” kata Charli.
Warga lainnya, Edi Lumban Tobing (60), berjalan dari Tapanuli Utara menuju Tapanuli Tengah. Dia memanggul satu karung beras, sementara adiknya membawa satu kardus mi instan dan minyak goreng. Mereka hendak bertemu dengan orangtuanya di Kecamatan Sitahuis, Tapanuli Tengah.
Awalnya kami bertahan karena masih punya stok beras. Setelah beras terakhir kami habis, kami pikir harus cepat-cepat meninggalkan daerah itu.
Sebelumnya, satu anggota keluarga dari Edi Lumban telah berjalan kaki ke Tapanuli Utara untuk menyampaikan kabar bahwa keluarga mereka selamat dari bencana. Namun, stok bahan pokok mereka juga menipis. Masyarakat di desa-desa terisolasi itu memakan ubi dan umbi talas dari ladang mereka.
Edi harus berjalan dari pagi sampai malam agar bisa sampai ke Kecamatan Sitahuis. Mereka membawa bahan pokok karena khawatir orangtuanya kehabisan pangan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Suharyanto mengatakan, saat ini pemerintah berfokus membuka jalur darat ke kawasan Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga.
Pembukaan jalan ke daerah tersebut terus dikebut agar bisa mengirim bantuan bahan pokok, mengevakuasi korban, dan melakukan tanggap darurat bencana. Suharyanto mengatakan, pemerintah juga mengirim bantuan lewat jalur udara menggunakan helikopter TNI Angkatan Udara, Polri, BNPB, dan lembaga lain.
”Di Sumut, 166 orang dilaporkan meninggal dan 143 lainnya dinyatakan hilang. Korban paling banyak di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga,” kata Suharyanto.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/27/c1d04d29490e9f85405722e495020209-WhatsApp_Image_2025_11_27_at_1.36.16_PM.jpeg)
Sepanjang Sabtu hingga Minggu, kata Suharyanto, tim gabungan pencarian dan pertolongan berhasil mengevakuasi lebih dari 60 korban meninggal di Sumut. Ribuan warga juga masih mengungsi di berbagai daerah akibat kondisi permukiman yang rusak dan akses yang terputus.
Hingga Minggu malam, akses jalan ke kawasan bencana Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga masih putus total.
”Masih ada sekitar 30 km lagi jalan yang belum bisa dilalui karena tertimbun longsor. Di beberapa tempat, jalan juga ambles,” kata Kepala Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera II Indra Kurnia.
Petugas gabungan telah membuka jalan dari Kilometer 14 sampai Kilometer 36. Namun, material longsor dan banjir bandang berupa lumpur dan batang pohon masih menumpuk di puluhan lokasi lainnya.
Pantauan Kompas, sejumlah ekskavator digunakan untuk membuka akses Km 36. Lokasi itu merupakan titik longsor yang paling parah. Lumpur dan batang pohon menumpuk di jalan hingga ketinggian 4 meter di sepanjang 300 meter badan jalan. Warga yang mencari bantuan melintas di antara alat berat yang bekerja.
Para penyintas bencana ini berharap mereka bisa menemukan keluarga dan mendapatkan pertolongan segera. Semoga.
Penulis:
Nikson SinagaEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari