Terputusnya akses jalan darat membuat petugas kesulitan mengevakuasi korban serta menyalurkan bantuan logistik dan makanan di sejumlah titik bencana di Agam, Sumbar.
30 Nov 2025 19:05 WIB · Nasional
ANTARA/Iggoy el Fitra
PADANG PANJANG, KOMPAS-Sejumlah titik bencana banjir bandang dan longsor di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, masih terisolasi akibat putusnya akses jalan darat. Petugas menggunakan helikopter dan perahu karet untuk mengevakuasi korban dan menyalurkan logistik ke lokasi.
"Kami masih kesulitan mendistribusikan logistik dan makanan. Masih banyak daerah terisolir karena perhubungan darat terputus akibat longsor dan jalan terban," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Agam Rahmad Lasmono, ketika dihubungi dari Padang Panjang, Minggu (30/11/2025).
Menurut Rahmad Lasmono, setidaknya ada tiga titik bencana di Agam yang jalan daratnya terisolasi, yaitu Kecamatan Palembayan, Malalak, dan Kecamatan Tanjung Raya.
Rahmad melanjutkan, untuk menjangkau lokasi itu, petugas menggunakan jalur udara dan perairan. Di Palembayan dan Malalak, petugas menggunakan helikopter untuk mengevakuasi korban luka-luka dan sakit serta menyalurkan bantuan logistik dan makanan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/27/d7092f2416f4110fc8f3fb1996dfbab6-WhatsApp_Image_2025_11_27_at_11.09.10.jpeg)
Adapun ke Tanjung Raya, petugas menggunakan perahu karet melewati Danau Maninjau. "Kami sampai sekarang masih terus berupaya membuka dan memperbaiki akses jalan agar daerah-daerah tersebut tidak lagi terisolir," ujar Rahmad.
Bencana banjir bandang dan longsor melanda Agam pada 26-27 November. Posko tanggap darurat bencana Kabupaten Agam mencatat, hingga Minggu pukul 12.00 WIB, jumlah korban meninggal mencapai 87 orang dan korban hilang 76 orang.
Total korban itu tersebar di lima kecamatan, yaitu Palembayan dengan 69 korban jiwa dan 71 korban hilang, Malalak (10 korban jiwa dan 5 korban hilang), Tanjung Raya (6 korban jiwa, Matur 1 korban jiwa), dan Palupuh (1 korban jiwa).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/30/544d27de-cc38-4f35-a712-1c38c2825432_jpg.jpg)
Secara terpisah, Wakil Wali Kota Padang Panjang Allex Saputra mengatakan, mengatakan, tim SAR gabungan masih berupaya mengevakuasi korban banjir bandang atau galodo di jembatan kembar di Kelurahan Silaing Bawah. Pencarian dilakukan di titik bencana dan aliran Sungai Batang Anai.
"Hingga Minggu sore, data jumlah korban jiwa yang masuk ke kami, yaitu 26 orang. Rinciannya, 14 orang warga Padang Panjang dan sisanya warga luar Padang Panjang," katanya.
Di Kota Padang Panjang, akses jalan nasional Padang-Bukittinggi masih lumpuh. Meski jembatan kembar mulai dapat dilewati secara darurat, jalan nasional di kawasan Lembah Anai di Kabupaten Tanah Datar masih terputus lebih dari 100 meter.
Sementara itu, Polres Padang Panjang mulai Minggu ini menerapkan sistem transfer jenazah atau pasien dari ambulan ke ambulan di Lembah Anai untuk menyambung akses Padang ke Padang Panjang. Cara ini diharapkan lebih efektif dan efisien daripada melewati jalur alternatif memutar ke Danau Singkarak dan Sitinjau Lauik.
"Ambulan standby di dua titik. Petugas berjalan kaki sekitar 100-150 meter menggotong korban melewati pinggir jalan dan hutan," kata Kepala Polres Padang Panjang Ajun Komisaris Besar Kartyana Widyarso Wardoyo Putro, Minggu sore.
Penulis:
Yola SastraEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra