Lewat alegori visual dan karakternya, Brown sangat mengaburkan batas antara realitas dan fiksi.
05 Feb 2025 12:33 WIB · Hiburan
Cerita klasik manusia terdampar di suatu pulau mungkin sudah biasa dalam dunia sinema. Namun, di tangan Matty Brown, kisah satu keluarga yang terdampar di pulau antah berantah ini menjadi renungan kemanusiaan.
The Sand Castle yang tayang 24 Januari 2025 di Netflix merupakan film produksi Lebanon dan Uni Emirat Arab (UEA). Premis film ini sederhana, yakni satu keluarga terdampar di suatu pulau dan berusaha mencari pertolongan walaupun pertolongan yang sangat diharapkan itu tak kunjung tiba.
Adegan film dibuka oleh seorang anak kecil perempuan, Jana (Riman Al Rafeea), yang muncul dari kain biru misterius. Tampak dirinya sedang berlari-lari di hamparan pasir. Lalu, kamera berganti ke sosok perempuan dewasa, yakni Yasmine (Nadine Labaki), yang sedang menggunakan teropong, mengharapkan seseorang datang dari kejauhan.
Setelah itu, penonton akan diperkenalkan dengan sosok kepala keluarga, yakni Nabil (Ziad Bakri), dan kakak laki-laki, Adam (Zain Al Rafeea).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/04/4908536886a9588fbbb78a12908bb131-5.jpg)
Sebagai satu keluarga, mereka harus bahu-membahu untuk bertahan hidup. Satu-satunya akses ke dunia luar hanya melalui radio usang yang sekarat. Nabil akan terus-terusan mencari pertolongan lewat radio, sedangkan Yasmine rutin memantau laut dari kejauhan.
Jana yang masih kecil akan mengeksplorasi pulau dengan dunia khayalnya. Adam yang lelah dengan situasi selalu menyendiri dari keluarga. Sehari-hari, ia selalu mendengarkan musik dari walkman usangnya. Berusaha kabur dari situasi yang memuakkan.
Sedari awal, konflik film sudah ditunjukkan terang benderang. Namun, seiring berjalannya waktu, The Sand Castle membuka tirai kisah yang semakin rumit.
Bisakah film horor berdiri tanpa adegan mengejutkan (jumpscare)? Dalam The Sand Castle, definisi horor layaknya dipikirkan ulang sebab film ini menyeramkan secara tersirat. Jika kebanyakan film horor mandi darah, hanya ada satu adegan dalam The Sand Castle yang menampilkan darah.
Oleh karena itu, tidak heran The Sand Castle digadang-gadang sebagai film horor sunyi. Menariknya, film ini merupakan film thriller psikologis yang bermain-main dengan alegori lewat masing-masing tokoh. Dari situ, penonton dapat merasakan ketegangan horor dari tiap karakter yang saling merepresentasikan sesuatu.
Misalnya Nabil yang rendah diri. Sebagai seorang kepala keluarga, dirinya tidak lepas dari ekspektasi untuk menyatukan keluarga tetap utuh. Tidak hanya itu, Nabil yang paling bertanggung jawab dalam kelangsungan teknis rumah mercusuar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/04/8c8d8cfd252ab676030a0f1fba0fd8b8-4.jpg)
Sementara Yasmine adalah seorang ibu yang bertekad kuat dan protektif terhadap kedua anaknya. Jana dan Adam dilarang untuk bermain dekat laut. Sebagaimana ibu pada umumnya, Yasmine akan memasak dan memastikan kelancaran hubungan emosional dengan anggota keluarga lain.
Perang bikin gila! Saat hidup di tengah konflik, dunia seakan-akan terasa ingin runtuh saja. Realitas dan fiksi tak dapat lagi dipisahkan.
Sementara Adam berperan sebagai pelindung adiknya, Jana. Karakter Jana sendiri berhasil mengambil hati penonton. Jana yang polos kekanak-kanakan menjadi penyegar dalam film yang depresif. Ia menyimbolkan trauma anak-anak korban perang yang hidup lewat imajinasinya.
Dari semua itu, The Sand Castle mengisahkan tentang isu kemanusiaan dalam menghadapi migran pencari suaka. Film ini didedikasikan untuk semua anak yang terpaksa hidup dalam khayalannya sendiri agar bisa bertahan hidup.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/04/7d31ef8ae44c67c5039ab480eb37bb38-1.jpg)
Dalam wawancara dengan Variety (15/1/2025), salah satu produser The Sand Castle, Mandy Ward, mengatakan, kisah film ini berkesinambungan dengan apa yang terjadi di Suriah dan Palestina. Saat perang berkecamuk, para korban berusaha untuk mencari ”rumah” sebagai tempat aman.
Selain itu, film ini turut mengeksplorasi tema kehilangan dan rasa bersalah. Setelah paruh pertama film, ada tokoh anak kecil perempuan, Yara, yang hadir sebagai penambah kisah. Yara yang telah meninggal menyimbolkan luka para korban perang, yakni kehilangan anggota keluarga dan perasaan ketika kita tidak mampu menyelamatkan orang tercinta.
Layar penuh dengan warna biru laut. Matty Brown tidak sembarangan dengan pengambilan gambar. Walaupun hanya berlokasi di satu tempat, mata penonton akan dimanjakan dengan visual yang cantik selama 98 menit film berlangsung. Gambar yang tajam menyorot birunya lautan, coklatnya pasir, rumah mercusuar yang berdiri di pinggir pulau, dan obyek lain yang kaya akan warna.
Ditambah lagi kamera sangat canggih bermain-main dalam gerakan tiap karakter. Walaupun alur lambat, tidak jarang kamera akan berpindah-pindah dalam rentang waktu yang cepat. Ditambah latar musik yang mendukung kecepatan tersebut, terciptalah adegan yang mendebarkan. Film ini semakin kaya visualnya dengan efek slow motion dan filter film yang tebal.
The Sand Castle berusaha menciptakan pengalaman horor lewat refleksi psikologis korban perang. Saat hidup di tengah letusan tembakan atau bom setiap hari, bagaimana seseorang bisa bertahan waras?
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/04/e0e0f5d1e19f3c863e23aa87b07eff94-2.jpg)
Lewat alegori visual dan karakternya, Brown sangat mengaburkan batas antara realitas dan fiksi. Jana yang tenggelam dalam khayalannya akan membayangkan dunianya sendiri di pulau itu. Dirinya yang masih kecil tidak boleh terganggu oleh huru-hara orang dewasa. Ayahnya terluka? Jana tidak boleh lihat. Mereka lagi di mana? Jana tidak usah tahu. Yang penting Jana akan segera bisa pulang.
Jika ada sebagian orang yang menonton film untuk relaksasi, tampaknya The Sand Castle bukan pilihan yang tepat. Kelemahan film terletak pada cerita yang tidak lengkap. Keganjilan pun tampak dari barang-barang yang ada di dalam rumah mercusuar. Dari mana munculnya aliran listrik? Jika dari generator, mengapa bisa ada generator di pulau yang tak berpenghuni?
Sejak awal film, ceritanya terkesan sederhana. Tidak ada tanda-tanda bahwa mereka adalah korban perang atau semacamnya. Namun, di akhir film, Brown menumpahkan semua kilas balik yang dirasa perlu.
Ada satu pertanyaan yang sangat membingungkan penonton, yakni bagaimana cara mereka tiba di pulau tersebut? Kapan mereka tiba? Dan yang krusial, mengapa mereka pergi ke pulau itu?
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/04/ce439d7a744d8825a0904cc097124ec9-6.jpg)
Karena tidak adanya kejelasan kronologi cerita, waktu tidak menjadi elemen yang diperhatikan betul dalam film. The Sand Castle telah menghipnotis penonton dalam alur cerita yang tidak menunjukkan waktu sebelumnya, tetapi terus maju ke depan.
Waktu yang tidak jelas tersebut semakin membuat penasaran saja. Di dalam rumah mercusuar itu, tampak banyak barang seperti rumah pada umumnya. Di mana mereka bisa mendapatkan kelambu, cangkir cantik, dan bahkan bubuk kopi? Sungguh ajaib!
Sepanjang film, tidak banyak petunjuk yang bisa dipegang oleh penonton. Menuju akhir, Yara yang tewas akibat perang ternyata sedikit banyak memberikan kunci untuk menyusun cerita. Dari dialog yang kaya akan makna, tanda tanya masih bertengger.
Berbaring di kasurnya, Nabil yang sedang sekarat berkata kepada Adam, ”Pikirmu, kenapa kita pergi ke sini? Kami mengira bisa menyelamatkanmu. Namun, tak ada yang bisa menghindar dari masa lalunya.”
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/04/d082c94468940169a11f9ed847701afa-3.jpg)
Di akhir cerita, Brown tidak memberikan penutup yang utuh, melainkan akhir yang bebas diinterpretasikan oleh penonton (open ending). Sampai akhir pun penonton akan dibuat bertanya, apakah ini sebatas halusinasi? Bisakah mereka benar-benar selamat? The Sand Castle meninggalkan penonton dengan spekulasi saja.
Pada akhirnya, film ini bukan sebatas hiburan horor belaka, tetapi menjadi kontemplasi tentang korban perang di belahan dunia sana.
Catatan: Artikel ini merupakan hasil kolaborasi dengan peserta magang Harian Kompas, yakni Giofanny Sasmita, mahasiswi Jurusan Jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara.
Penulis:
Dahono FitriantoEditor:
Moh. Hilmi Faiq