Ratusan pelari asing bakal mewarnai lintasan lari Bank Jateng Borobudur Marathon 2024. Mereka berharap bisa menikmati perlombaan hingga naik podium.
30 Nov 2024 12:36 WIB · Olahraga
Sejumlah pelari dari berbagai negara antusias menyambut lomba lari Bank Jateng Borobudur Marathon yang akan digelar di kawasan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (1/12/2024). Ekspektasi mereka pun beragam, dari sekadar bersenang-senang hingga naik podium.
Beberapa bulan lalu, sebuah video yang menginformasikan perlombaan Borobudur Marathon melintas di linimasa media sosial Ella Bon. Pelari perempuan asal Malaysia tersebut lantas mencari tahu lebih lanjut mengenai Borobudur Marathon.
Kebetulan, salah satu teman Ella pernah berlari dalam lomba yang digelar atas kerja sama Pemerintah Provinsi Jateng, Bank Jateng, Yayasan Borobudur Marathon, dan harian Kompas tersebut. Dari temannya itu, Ella mendapatkan kesan bahwa Borobudur Marathon merupakan perlombaan yang memiliki rute cukup menantang. Hal itu memacunya untuk berpartisipasi.
”Saya berharap bisa bersenang-senang di perlombaan ini. Tapi, saya juga menargetkan untuk bisa finis dalam waktu 2 jam,” kata peserta Borobudur Marathon kategori separuh maraton tersebut di sela-sela pengambilan perlengkapan lomba, Jumat (29/11/2024) malam, di Magelang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/29/fb638cdd-5f0e-4374-b4a2-fa7bbddf208e_jpg.jpg)
Untuk bisa mencapai target tersebut, Ella rutin berlatih lari jarak jauh, lari cepat, dan latihan kekuatan. Latihan kekuatan dinilai Ella penting karena rute lari di Borobudur Marathon berbukit dengan elevasi yang cukup tinggi.
Tahun ini, Ella telah menjalani sejumlah perlombaan separuh maraton di Malaysia. Oleh karena itu, ia optimistis bisa menyelesaikan perlombaan dengan baik.
Borobudur Marathon adalah lomba lari kedua di Indonesia yang diikuti oleh Ella. Selama ini, Ella sudah beberapa kali mengikuti lomba lari di luar Malaysia, misalnya di Vietnam.
”Saya terkesan dengan Borobudur Marathon. Suasana tempat pengambilan paket lomba, misalnya, sangat menyenangkan. Cukup meriah, tetapi tidak terlalu padat, jadi tenang,” ujar Ella.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/30/60438578015fa3efce712ed0fd9cfc8d-IMG_9366.jpg)
Borobudur Marathon 2024 juga menjadi pengalaman pertama bagi Pieter Jesse Krikken, pelari asal Belanda. Sejak tinggal di Yogyakarta beberapa bulan terakhir, Pieter mulai menekuni olahraga lari.
”Waktu di Belanda, olahraga saya adalah bermain sepak bola. Di sini, saya ingin melatih kemampuan berlari saya sehingga saya daftar saja. Borobudur Marathon adalah lomba lari pertama dalam hidup saya,” ucap Pieter.
Pada lomba separuh maraton yang akan dijalani pada Minggu, Pieter tak memasang target khusus. Baginya, yang terpenting adalah bisa menyelesaikan perlombaan. ”Tapi, kalau boleh berharap, saya ingin bisa finis dalam waktu 2 jam 30 menit,” ujarnya.
Pieter mengaku telah menjalani latihan untuk menghadapi perlombaan sejak tiga bulan terakhir. Dalam sepekan, ia berlatih lari 2-3 kali.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/30/0c80ac2d-dca2-4fe7-b524-b27f8926a2e1_jpg.jpg)
Menurut Pieter, salah satu tantangan dalam perlombaan lari di Indonesia adalah cuaca dan kelembaban udara. Sinar matahari di Indonesia pada musim hujan disebut, menurut Pieter, terasa jauh lebih terik daripada cuaca di musim panas di negaranya.
”Supaya bisa bertahan pada situasi tersebut, saya memastikan agar asupan hidrasi saya cukup dengan cara banyak minum pada saat maupun sebelum lomba. Selain itu, saya juga mengonsumsi makanan sehat dan bergizi,” ujar Pieter.
Tak hanya bagi pelari yang pertama kali menjajal Borobudur Marathon, lomba itu juga disambut antusias oleh pelari asing yang sudah beberapa kali berpartisipasi.
Alice Muthoni Koigi, pelari asal Kenya, misalnya, sudah dua kali mengikuti Borobudur Marathon. Perlombaan pada Minggu merupakan Borobudur Marathon ketiga baginya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/29/48af7312-aa79-45ef-a2f1-bb1c9a2f900f_jpg.jpg)
”Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini saya kembali mengikuti kategori 10 kilometer. Pada lomba yang saya ikuti tahun 2018 dan 2019, saya ikut kategori 10K dengan catatan waktu 34-35 menit,” kata Alice.
Tahun ini, Alice menargetkan bisa finis dalam waktu kurang dari 30 menit. Alice juga berharap bisa naik podium serta menyabet gelar juara pertama.
Alice mengaku terkesan dengan penyelenggaraan Borobudur Marathon yang selama ini ia ikuti. Selain rute yang menantang, Alice juga diiuji ketahanan tubuhnya dalam menghadapi cuaca dalam perlombaan yang tahun ini mengangkat tema ”Run On, Mark It” tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/29/738ae3de-5b95-4ce3-956f-3920ed41bd73_jpg.jpg)
Tahun ini, Borobudur Marathon mendapatkan status label dari World Athletics atau Federasi Atletik Dunia setelah pengajuan yang dilakukan penyelenggara pada tahun lalu. Terdapat empat status lomba lari yang diberikan World Athletics, mulai dari tingkat dasar atau Label sampai tingkat lanjutan, yakni Elite Label, Gold Label, dan Platinum Label.
Predikat label yang diberikan kepada Borobudur Marathon disebut Alice semakin memacu dirinya untuk berlatih lebih keras. Ia memperkirakan, label tersebut akan berpengaruh terhadap performa yang ditunjukkan oleh para peserta selama perlombaan.
”Menurut saya, dengan adanya label itu, persaingan antarpelari akan lebih sengit. Tidak hanya akan bersaing dengan pelari internasional, saya juga harus bersaing dengan pelari nasional yang performanya bagus-bagus. Saya masih ingat, di tahun 2019, saya bersaing ketat dengan salah satu pelari nasional perempuan yang performanya sangat bagus,” ungkapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/30/547cc49abbc1dc1c7e24c5cc97dd9106-IMG_9389.JPG)
James Ndungu Kahura, pelari lain asal Kenya, menuturkan, dirinya juga bersemangat menyambut predikat baru Borobudur Marathon. Dengan mengikuti perlombaan berlabel dari World Athletics, seperti Borobudur Marathon, peluangnya untuk mengikuti kompetisi serupa kian terbuka.
”Saya sangat senang dengan label yang didapatkan Borobudur Marathon. Dengan label itu artinya saya bisa dapat platform yang bagus untuk kembali diundang pada lomba lain yang juga berlabel,” ucap James.
Perlombaan pada Minggu menjadi yang kedua bagi James berkompetisi di Borobudur Marathon. Ia menargetkan bisa finis tercepat pada lomba kategori 10 kilometer.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/30/abd9b90acfb28f0cff571b9985f04e5d-IMG_9386.JPG)
”Saya terinspirasi untuk kembali mengikuti lomba ini karena ingin meningkatkan capaian saya. Di tahun 2019, saya finis di posisi kedua. Tahun ini, saya berjuang supaya bisa finis pertama,” ungkap James.
James mengaku berlatih keras untuk bisa meraih target tersebut. Dalam seminggu ia latihan dari Senin hingga Sabtu. Setiap harinya, ia berlatih sebanyak dua kali.
James berharap, lomba tahun ini berjalan mulus dengan cuaca yang bersahabat. Ia juga mengharapkan lintasan lari tetap steril seperti tahun-tahun sebelumnya sehingga dia bisa finis dalam waktu di bawah 30 menit.
Saya terinspirasi untuk kembali mengikuti lomba ini karena ingin meningkatkan capaian saya. Di tahun 2019, saya finis di posisi kedua. Tahun ini, saya berjuang supaya bisa finis pertama.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/30/982b9600-aeba-4590-89bc-bd197b26a10a_jpg.jpg)
Wakil General Manager Event Kompas Budhi Sarwiadi mengatakan, jumlah peserta Borobudur Marathon tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya, dari 10.000 orang menjadi 10.500 orang.
Pada perlombaan tahun ini, tingkat keikutsertaan pelari asing juga disebut Budhi meningkat. Jumlah pelari asing pada Borobudur Marathon tahun ini mencapai ratusan orang.
Budhi menuturkan, para pelari asing di Borobudur Marathon adalah pelari yang mendapatkan undangan ataupun yang mendaftar secara mandiri. Undangan biasanya diberikan kepada pelari-pelari elite.
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Haris Firdaus