Pelari Master di Borobudur Marathon, Lebih Jauh Berlari, Lebih Bahagia

Pelari master tak mementingkan adu cepat. Bagi mereka, keberhasilan menyelesaikan lomba lebih berharga. Lomba lari jarak jauh adalah urusan mencari kebahagiaan.

30 Nov 2024 08:00 WIB · Gaya Hidup

Oleh Nino Citra Anugrahanto

Bagi pelari master atau berusia lebih dari 40 tahun, lomba lari jarak jauh bukan soal adu cepat untuk sampai ke garis finis. Keberhasilan menyelesaikan lomba yang jaraknya puluhan kilometer itu adalah urusan mencari kebahagiaan. Dengan usia tak lagi muda, semangat menjalani hidup justru bertumbuh dari setiap langkah kaki yang melaju jauh. 

Widodo Dwi Santosa (61) berbaring santai di kasur portabel pada salah satu stan krim pereda nyeri di Race Expo Bank Jateng Borobudur Marathon 2024 di Grand Artos Hotel and Convention, Magelang, Jawa Tengah, Jumat (29/11/2024) siang. Kedua kakinya dipijat seorang terapis. Raut mukanya yang rileks menandakan ia benar-benar menikmati pijatan itu.

Hari itu, Widodo baru saja mengambil race pack atau alat kelengkapan lomba untuk Borobudur Marathon 2024 kategori maraton sejauh 42,195 kilometer (km). Kejuaraan itu bakal menjadi lomba lari jarak jauh pertamanya tahun ini.

”Ini jadi satu-satunya maraton yang saya ikuti tahun ini. Mudah-mudahan nanti lancar. Tidak ada kendala apa-apa sehingga sampai finis dengan bahagia,” ujar Widodo sambil tersenyum.

Peserta lari Bank Jateng Borobudur Marathon 2024 melewati lorong yang menampilkan nama dan foto mereka di area race expo Borobudur Marathon 2024, Jumat (29/11/2024), di Hotel Artos, Kota Magelang, Jawa Tengah. Sebanyak 10.500 pelari akan ikut Borobudur Marathon pada 1 Desember 2024 mendatang. KOMPAS/HERU SRI KUMORO 29-11-2024

Widodo mempersiapkan lomba ini sebenarnya sejak empat bulan lalu. Baru sempat berlatih sebulan, ia terpaksa libur sementara akibat pekerjaannya sebagai pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalimantan Utara. Ketika itu, waktunya disibukkan untuk mengurus persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON) di Sumatera Utara dan Aceh. 

Waktu liburnya pun tak tanggung-tanggung. Lebih kurang sebulan lamanya ia harus mandek berlatih. Baru setelah PON selesai, ia bisa kembali berlatih guna mempersiapkan lomba tersebut. Hanya saja, waktu persiapan baginya tinggal tersisa dua bulan. Sisa waktu itu dimanfaatkannya semaksimal mungkin.

Walaupun begitu, Widodo sadar ihwal umurnya yang tidak lagi muda. Kulitnya sudah keriput. Seluruh rambutnya beruban. Kondisi itu mendorongnya untuk menyesuaikan porsi latihan sebagaimana kemampuan fisiknya. Dia pun enggan terlalu memaksakan diri. 

”Terus terang, kita (pelari senior) ikut event semacam ini buat enjoy saja. Tidak ada target untuk podium dan sebagainya,” ujar Widodo.

Peserta lari Bank Jateng Borobudur Marathon 2024 mengambil perlengkapan lari di Hotel Artos, Kota Magelang, Jawa Tengah, Jumat (29/11/2024). Sebanyak 10.500 pelari akan ikut Borobudur Marathon pada 1 Desember 2024 mendatang. KOMPAS/HERU SRI KUMORO 29-11-2024

Bagi Widodo, yang juga mantan pelari profesional, ajang lomba lari jarak jauh sekaligus momentum bernostalgia. Kerap kali ia berjumpa sesama rekan atletnya semasa muda. Oleh karena itu, ia selalu merasa terhibur walau raga tuanya itu harus berlari jauh pada lomba-lomba itu. 

Bukan sekadar mengobati rindu, Widodo juga merasa terlecut semangatnya setiap kali terjun berlomba. Itu karena keberadaan sejumlah pelari master dunia yang umurnya terkadang lebih tua darinya.

”Sering-sering ikut event begini bikin semangat hidup itu tinggi. Kita terpacu dengan master-master dunia atau juga master Indonesia yang sampai umur 80 tahunan bisa berlari. Bahkan, finis maraton. Ini membuat kita yang masih 60 tahunan terpancing,” kata Widodo. 

Pelari master asal Kalimantan Utara, Widodo Dwi Saputra, menunjukkan bibnya sewaktu pengambilan racepack Borobudur Marathon 2024, di Magelang, Jawa Tengah, Jumat (29/11/2024).

Hal serupa diyakini Deni Ramdani Ismail (50), pelari asal Singapura, yang akan terjun dalam nomor 10 km pada Borobudur Marathon. Itu merupakan pengalaman pertamanya mengikuti ajang ini. Setahun lalu, ia mencoba mendaftarkan diri, tetapi belum berhasil mendapatkan slot dari panitia.

Biasanya, Deni berlomba pada nomor half marathon atau 21,0975 km. Namun, pada Borobudur Marathon, ia memilih nomor 10 km karena belum pulih sepenuhnya dari cedera punggung akibat olahraga angkat beban yang dialaminya, Agustus lalu. 

”Kali ini ingin sebatas finis saja. Belum 100 persen sembuh dari cedera. Jika dapat waktu terbaik, itu sepertinya bonus saja. He-he-he,” kata Deni. 

Pelari master asal Singapura, Deni Ramdani Ismail menunjukkan bibnya sewaktu pengambilan racepack Borobudur Marathon 2024, di Magelang, Jawa Tengah, Jumat (29/11/2024).

Untuk menyambut lomba itu, Deni berlatih setidaknya tiga kali dalam sepekan. Sekali latihan, ia berlari sejauh 3 km hingga 5 km. Sebulan sekali, ia juga menyempatkan untuk mengambil jarak yang lebih jauh, yakni 10 km hingga 15 km, demi membentuk ketahanan fisiknya. 

Seperti Widodo, Deni juga tidak akan memaksakan diri dalam lomba nanti. Menurut dia, langkah demi langkah sepanjang rute lomba wajib dilalui dengan rileks. Tak perlu terlalu terburu-buru. Fisiknya yang sudah tua itu akan kepayahan jika terlalu dipaksakan.

Hanya saja, hasrat Deni untuk mengikuti lomba lari jarak jauh tidak pernah hilang. Ada semacam gairah yang mendorongnya agar terus melaju. Dari satu finis ke finis lain, ia semakin termotivasi menjaga kesehatan raganya. 

”Biar sudah tua, lomba-lomba begini bikin kita selalu berolahraga. Kalau tidak ikut lomba, kan, akan malas. Itu malah tidak sehat. Dengan lomba kita semangat terus,” tutur Deni. 

Peserta lari Bank Jateng Borobudur Marathon 2024 mengambil perlengkapan lari di Hotel Artos, Kota Magelang, Jawa Tengah, Jumat (29/11/2024). Sebanyak 10.500 pelari akan ikut Borobudur Marathon pada 1 Desember 2024 mendatang. KOMPAS/HERU SRI KUMORO 29-11-2024

Sri Supadmi (50), pelari asal Ungaran, Kabupaten Semarang, Jateng, memiliki pandangan yang sama. Kesuksesannya menyelesaikan satu lomba lari jarak jauh justru menuntunnya ke lomba-lomba lainnya. Lari dengan jarak puluhan kilometer mengasah mentalnya untuk tidak menyerah. 

”Tantangannya lari jauh itu sering kali bikin mau menyerah. Tetapi, sekalinya sudah menetapkan target, itu bagaimana caranya harus bisa. Ketika selesai, ada rasa bangga pada diri sendiri. Itu yang menyenangkan dari olahraga lari,” kata perempuan yang karib disapa Jeng Sri itu.

Tahun ini, Sri mengikuti nomor half marathon. Persiapannya sekadar konsisten latihan harian. Hari-hari biasa rutenya tidak perlu terlalu jauh, hanya sekitar 5 km. Pada akhir pekan, ia menambah jarak larinya menjadi 15 km hingga 21 km untuk membentuk ketahanan larinya.

Quote

Sering-sering ikut event begini bikin semangat hidup itu tinggi. Kita terpacu dengan master-master dunia atau juga master Indonesia yang sampai umur 80 tahunan bisa berlari.

Lomba itu, lanjut Sri, adalah ajang half marathon ketiganya tahun ini. Namun, ia baru pertama kali mengikuti Borobudur Marathon. Hal yang agak membuatnya khawatir ialah jalur dengan tanjakan yang cukup tinggi.

Bahkan, salah satu tanjakan di Borobudur Marathon dijuluki ”Tanjakan Cinta”. Curamnya elevasi tanjakan itu cukup kondang menggagalkan pelari menuntaskan lomba. Untuk itu, targetnya sebatas finis tanpa cedera. 

”Yang penting tidak DNF (did not finish). Elevasinya agak bikin deg-degan. Harapannya, bisa menyelesaikan lomba. He-he-he,” kata Sri.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nino Citra Anugrahanto
 | 

Editor:

Haris Firdaus