EKONOMI POPULER

Kita adalah Manusia-manusia Plastik

Harga bahan baku plastik melonjak tajam, dipicu oleh gangguan pasokan energi dan bahan baku petrokimia akibat konflik di Timur Tengah yang berdampak ke warga.

18 Apr 2026 07:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS

Oleh Aguido Adri

Sulit membayangkan kehidupan modern tanpa plastik. Dari botol air minum di meja, kemasan makanan instan, gawai yang tak pernah lepas dari genggaman, hingga kendaraan bermotor, hampir seluruh aktivitas manusia hari ini bersentuhan dengan material sintetis tersebut.

Plastik telah menjelma menjadi tulang punggung gaya hidup praktis karena ringan, tahan lama, dan yang terpenting: murah.

Namun, di balik kemudahan itu, tersimpan ketergantungan yang kian menguat, seolah manusia modern tak lagi sekadar menggunakan plastik, tetapi hidup di dalam ekosistemnya. Kita adalah manusia-manusia plastik.

Dalam beberapa hari terakhir, harga bahan baku plastik melonjak tajam, dipicu oleh gangguan pasokan energi dan bahan baku petrokimia akibat konflik di Timur Tengah.

Pekerja melayani pembeli di industri tempe Murni, Kecamatan Mlati, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (14/4/2026). Industri tersebut terkendala kenaikan harga plastik kemasan untuk membungkus tempe hingga hampir dua kali lipat dibanding sekitar sebulan sebelumnya. Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS juga membuat harga bahan baku kedelai naik Rp 1.000 per kilogram. Kenaikan harga tersebut membuat industri itu harus mengurangi bobot dan ukuran tempe yang dibuat agar harga jual ke konsumen dapat dipertahankan. 

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko

Lalu, kenapa dan bagaimana harga plastik bisa mahal?

Untuk memenuhi kebutuhan industri manufaktur di dalam negeri, Indonesia mengimpor sekitar 70 persen bahan baku industri petrokimia dari kawasan Timur Tengah.

Konflik Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memicu gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz sehingga membuat pasokan bahan baku tersendat. Tidak hanya tersendat, tetapi juga membuat bahan baku menjadi mahal.

Konflik geopolitik yang memanas dan tingginya kebutuhan industri petrokimia dalam negeri terhadap bahan baku itu kini mengerus pasokan untuk industri manufaktur dan turunannya.

Dalam industri petrokimia, nafta menjadi bahan baku penting karena digunakan untuk membuat berbagai macam bahan kimia, seperti butadiene (untuk sarung tangan, ban kendaraan, karet sintetis).

Foto udara  yang diambil pada Minggu (21/7/2019) menunjukkan kapal cepat Garda Revolusi Iran bermanuver di sekitar kapal tanker berbendera Inggris, Stena Impero, yang ditahan di Selat Hormuz, Jumat (19/7/2019) di pelabuhan Iran, Bandar Abbas. Situasi di Teluk Persia semakin menghangat pasca-penahanan Stena Impero. Penahanan itu adalah balasan atas penahanan tanker Iran, Grace 1, di Gibraltar oleh Angkatan Laut Inggris.

Lalu, etilena untuk menghasilkan polietilena (botol plastik, kontainer, dan produk plastik lainnya. Ada pula propilena (suku cadang otomotif, mainan, kemasan) dan lainnya. 

Selain itu, dalam industri tekstil, misalnya, tergantung pada bahan baku turunan minyak bumi, terutama serat sintetis atau poliester. Fluktuasi harga minyak dunia mendorong lonjakan harga bahan baku berbasis petrokimia, seperti paraxylene (PX) dan monoethylene glycol (MEG). PX dan MEG ini merupakan bahan baku utama poliester.

Terganggunya pasokan bahan baku itulah yang saat ini mengguncang industri dalam negeri dari hulu hingga hilir. Dari semua itu, konsekuensinya sederhana, tetapi luas, yaitu harga barang-barang sehari-hari ikut merangkak naik dan masyarakat, termasuk pedagang, yang menanggung akibatnya.

Seorang pengujung sedang memilih minuman dalam kemasan di salah satu toko modern di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (16/3/2026). Sejumlah toko sudah sudah mengalami kenaikan harga produk minuman kemasan.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengatakan, laporan dari sejumlah produsen menunjukkan harga kemasan plastik mengalami kenaikan signifikan. Beberapa pemasok bahkan memperkirakan harga dapat naik antara 30 persen dan 50 persen, tergantung jenis kemasan.

Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada kemasan plastik, tetapi juga pada produk minuman dalam kemasan serta berbagai produk yang menggunakan plastik sebagai bahan pembungkus.

Kondisi ini membuat pelaku usaha, terutama usaha kecil dan menengah, tidak memiliki pilihan selain menyesuaikan harga produk mereka.

”Di pasar ritel untuk kemasan yang tidak berbasis kontrak besar, kenaikannya bahkan bisa lebih dari 50 persen, bahkan ada yang mendekati 100 persen. Nah, ini yang menyebabkan, terutama untuk yang UKM, pasti mereka langsung menaikkan harga (produk),” tutur Adhi.

Suasana pameran industri tekstil dan produk tekstil Indo Intertex - Inatex 2026 di Jakarta Internasional Expo Kemayoran, Jakarta, Rabu (15/5/2026). Pameran yang akan berlangsung hingga Sabtu (18/4/2026) ini diikuti oleh lebih dari 800 peserta dari 29 negara. Tidak hanya sebagai ajang promosi, pameran ini juga diharapkan menjadi sarana membangun koneksi dan kolaborasi antarpelaku industri.



TOTOK WIJAYANTO (TOK)
15-04-2026

Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia Danang Girindrawardana menambahkan, meski sudah ada laporan mengenai kenaikan harga bahan baku 30-40 persen, sejauh ini untuk produk jadi baju domestik belum ada kenaikan harga.

”Bahan baku polimer (sintetis-poliester) naik seperti kenaikan harga bahan baku untuk plastik. Meski begitu, untuk produk jadi baju domestik kita masih sama, harganya belum naik,” ujar Danang.

Meski begitu, Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta memprediksi, harga pakaian jadi akan ikut naik jika kondisi konflik geopolitik tidak mereda.

Efek domino dari bahan baku tekstil akan berimbas secara bertahap. Sektor ritel yang menjual produk jadi diperkirakan akan menyesuaikan harga. Redma memperkirakan penyesuaian harga di tingkat ritel dapat mencapai 10 persen.

”Minggu ini kenaikan sudah sampai di kain. Jadi, di garmen-garmen kira-kira minggu depan dan di ritel sekitar dua minggu lagi,” ujar Redma.

Warga berbelanja barang berbahan plastik di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (3/4/2026). Harga produk plastik berbasis minyak bumi beranjak naik sejak awal Maret seiring dengan memanasnya konflik di Timur Tengah. Harga naik antara 30 persen hingga 80 persen, tergantung jenis kemasan.



KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK)
03-04-2026

Daya beli

Kenaikan harga plastik ini mengungkap paradoks yang selama ini tersembunyi. Plastik selama ini dianggap solusi ekonomis dan murah. Namun, ketika ada gangguan, para pedagang dan masyarakat dihadapkan pada situasi yang tidak mudah. Di titik ini, persoalan plastik tak lagi semata isu lingkungan, tetapi juga soal daya beli dan ekonomi warga.

Di sinilah relevansi perubahan gaya hidup menemukan momentumnya. Pengurangan konsumsi plastik bukan lagi sekadar kampanye moral, melainkan juga kebutuhan rasional di tengah tekanan harga.

Arya Nurseno (35), pekerja swasta di Jakarta, merasakan perubahan itu secara langsung. Sekitar sepekan lalu, ia terkejut saat harus membayar lebih mahal untuk sebungkus makanan di warung langganannya. Menu berupa ayam, sayur, dan tempe yang biasanya seharga Rp 25.000, kini menjadi Rp 27.000.

Infografik Harga Bahan Baku Plastik Nafta

Kenaikan Rp 2.000 itu mungkin terdengar kecil. Namun, bagi Arya, angka tersebut tidak berdiri sendiri. Ia menumpuk dengan pengeluaran lain yang juga cenderung naik.

”Dua ribu itu jadi terasa mahal karena ditambah harga makanan juga,” ujarnya.

Perubahan harga itu kemudian memicu penyesuaian dalam kebiasaan sehari-hari. Jika sebelumnya ia kerap membeli makanan lalu dibungkus, kini Arya lebih sering memilih makan di tempat. Pilihan itu bukan semata soal kenyamanan, melainkan strategi sederhana untuk menghindari biaya tambahan dari kemasan plastik.

Fenomena serupa tidak hanya terjadi di Jakarta. Di Tangerang Selatan, tempat Arya tinggal, sejumlah warung makan juga mulai menaikkan harga, seiring mahalnya harga plastik kemasan.

Seorang warga membeli kopi kekinian menggunakan botol atau tumbler di Jalan Tentara Pelajar, Jakarta Selatan, Kamis (16/4/2026).

Dalam skala yang lebih luas, kenaikan ini menciptakan efek berantai yang langsung dirasakan konsumen. Dalam rutinitas harian, Arya kini membawa botol minum sendiri, sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia lakukan.

”Istri saya sekarang menyiapkan tumbler supaya saya tidak beli minum kemasan plastik. Dulu tidak pernah bawa, sekarang mau tidak mau harus. Bahkan, istri ngide agar saya membawa tempat makan sendiri. Jadi, kalau mau bungkus, makanan masukin ke tempat makan itu. Repot gini, ya, gara-gara harga plastik naik” katanya, Kamis (17/4/2026).

Kisah serupa juga dialami Indira Inggrid Safitri (29), pekerja di bidang agensi periklanan di Jakarta. Kenaikan harga tidak saja pada sebungkus makanan, tetapi juga merambat ke urusan mencuci pakaian.

Pramuniaga melayani pembeli di  salah satu toko penjual plastik di Kecamatan Bantul, Bantul, DI Yogyakarta, Sabtu (11/4/2026). Kenaikan harga plastik kemasan sejak sekitar 1,5 bulan terakhir membuat pelaku industri yang tergantung pada plastik  harus bersiasat untuk mengurangi risiko kerugian.

Sebagai anak kos, Inggrid tidak memiliki banyak pilihan selain mengandalkan jasa laundry. Namun, dalam beberapa hari terakhir, biaya laundry ikut merangkak naik, sekitar mencapai Rp 4.000.

”Kalau laundry, kan, pakaian kita dibungkus plastik. Semakin banyak pakaian, plastiknya juga makin banyak. Jadi berasa banget kenaikannya. Biasanya aku laundry bayar Rp 30.000. Eh, pas ngelaundry lagi harganya sudah naik. Kata ibunya laundry, harga naik karena harga plastik naik. Naiknya bisa sampai Rp 4.000, mahal banget,” tutur Inggrid.

Inggrid bukannya tidak mau menyuci pakaian sendiri, tetapi di tempat kosnya tidak cukup luas untuk menjemur pakaian. ”Masa jemur pakaian di dalam kamar. Aku akhirnya bilang ke ibu laundry supaya tidak usah dibungkus plastik. Langsung dimasukkan ke kantong kain yang sudah aku siapkan,” lanjutnya.

Dalam keseharian, Inggrid sudah cukup terbiasa menjalani gaya hidup hemat plastik. Saat berbelanja, ia selalu membawa tas sendiri. Tumbler pun hampir tak pernah absen dari tas kerjanya.

Pedagang membungkus bahan pangan yang dibeli pelanggan dengan tas plastik di Pasar Jatinegara, Jakarta Selatan, Jumat (3/4/2026). Harga produk plastik berbasis minyak bumi beranjak naik sejak awal Maret seiring dengan memanasnya konflik di Timur Tengah. Harga naik antara 30 persen hingga 80 persen, tergantung jenis kemasan.



KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK)
03-04-2026

Kebiasaan itu awalnya dilandasi kesadaran untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai. Namun, dalam situasi saat ini, pilihan tersebut menemukan relevansi baru, membantu menjaga pengeluaran tetap terkendali di tengah naiknya harga plastik.

”Selain laundry, coba deh beli minuman teh atau kopi susu, yang gelas plastik. Itu juga naik, seribu, loh. Ini kayaknya barang-barang yang bungkusnya plastik naik, deh. Gawat juga, ya, efek dari plastik ini,” ujar Inggrid.

Meski demikian, Inggrid mengakui bahwa menghindari plastik sepenuhnya bukan perkara mudah. ”Kalau diet plastik yang ketat, susah sih. Karena kebutuhan harian, produk-produk, kita memang banyak yang dibungkus plastik dan berbahan plastik,” ujarnya.

Bagi Arya dan Inggrid, perubahan harga mencerminkan pergeseran cara pandang, bahwa plastik bukan lagi sekadar barang murah, melainkan komoditas yang ikut menentukan keseimbangan antara kebutuhan, kebiasaan, dan kemampuan ekonomi.

Anggota Komunitas Hijau RW 009 Nusa Loka memilah sampah yang dikumpulkan warga di Balai Warga RW 009 Nusa Loka, Kelurahan Lengkong Gudang Timur, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (11/4/2026). Sampah yang dikumpulkan dipisahkan menurut jenisnya seperti plastik, kertas, botol, dan sampah elektronik. Selain mengurangi beban sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA), sampah yang terkumpul juga memberi pemasukan setelah dibeli pengepul sampah.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
11-04-2026

Ketergantungan

Lebih jauh, krisis harga plastik menjadi sinyal peringatan. Ketergantungan berlebih pada satu jenis material, terlebih yang berbasis fosil, membuat sistem ekonomi rentan terhadap gejolak global.

Manajer Program Yayasan Kehati Christian Natalie melihat bahwa persoalan plastik selama ini bukan semata pada penggunaannya, melainkan pada nasib akhirnya sebagai sampah. Plastik sekali pakai kerap berujung di tempat pembuangan akhir, bahkan mencemari sungai dan saluran air.

”Ketika plastik itu berakhir di TPA atau sungai, itu artinya dia sudah menjadi sampah, tidak lagi ada ekonomi sirkular. Bahkan, dalam beberapa kasus, ikut memicu bencana, seperti longsor di timbunan sampah di Bantargembang,” ujarnya.

Dalam konteks terkini, lonjakan harga plastik yang merembet hingga ke tingkat ritel atau pedagang kecil, secara tidak langsung mengubah struktur insentif konsumsi. Konsumen dipaksa mempertimbangkan ulang penggunaan plastik yang sebelumnya dianggap murah dan nyaris tak bernilai.

Foto udara penumpukan sampah di Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) Waduk Cincin, Jakarta Utara, Selasa (7/4/2026). TPS Waduk Cincin sudah tidak bisa lagi menampung tumpukan sampah sehingga meluber memenuhi jalan masuk menuju TPS. Menurut warga, penumpukan sampah di TPS ini jarang terjadi. Namun seiring pembatasan jumlah truk yang masuk ke TPST Bantargebang akibat longsor, sampah di TPS Waduk Cincin menumpuk hingga meluber ke jalan akses masuk. Selain itu, penutupan TPS Ilegal di kawasan Jakarta Utara pun membuat warga membuang sampah langsung ke TPS Waduk Cincin.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
07-04-2026

Di sisi lain, perubahan harga tersebut dapat menjadi pemicu kesadaran baru. Praktik sederhana seperti membawa tas belanja sendiri, wadah makanan, atau botol minum dinilai sebagai langkah konkret yang terasa sangat relevan. Gagasan ”bring your own bag” yang telah lama digaungkan kini menemukan momentumnya.

Meski demikian, tantangan terbesar tetap berada di kawasan perkotaan dengan tingkat konsumsi tinggi. Oleh karena itu, Christian menekankan pentingnya membangun kesadaran bahwa plastik berasal dari sumber daya tak terbarukan, yakni minyak bumi, yang ketersediaannya terbatas dan rentan terhadap gejolak geopolitik. Kedua, mendorong tindakan nyata melalui substitusi dan reduksi penggunaan plastik.

Upaya lain yang tak kalah penting adalah pengelolaan sampah dari hulu. Pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, menjadi fondasi bagi pengolahan lanjutan, termasuk pemanfaatan teknologi waste-to-energy yang telah diterapkan di sejumlah negara maju, salah satunya Singapura. Tanpa pemilahan, sampah plastik yang seharusnya bernilai ekonomi justru tercampur dan sulit diolah.

Anggota Komunitas Hijau RW 009 Nusa Loka memilah sampah yang dikumpulkan warga di Balai Warga RW 009 Nusa Loka, Kelurahan Lengkong Gudang Timur, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (11/4/2026). Sampah yang dikumpulkan dipisahkan menurut jenisnya seperti plastik, kertas, botol, dan sampah elektronik. Selain mengurangi beban sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA), sampah yang terkumpul juga memberi pemasukan setelah dibeli pengepul sampah.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
11-04-2026

Senada, juru kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia, Ibar Akbar, mengatakan, situasi kenaikan harga plastik hingga dampaknya ke pedagang dan masyarakat sejatinya bukan hal yang mengejutkan. Situasi itu sebagai konsekuensi logis dari sistem ekonomi yang sejak awal bertumpu pada minyak bumi.

”Ketergantungan pada minyak bumi dan plastik sekali pakai adalah bom waktu. Risiko itu kini menjadi nyata ketika konflik global langsung memukul rantai pasok plastik,” ujarnya.

Dalam ekosistem konsumsi modern, plastik bukan sekadar pembungkus, melainkan bagian dari sistem distribusi yang menentukan harga akhir di tangan konsumen.

Padahal, dorongan untuk beralih ke sistem yang lebih berkelanjutan sebenarnya sudah lama muncul. Survei Greenpeace Indonesia pada 2021, Ibar menjelaskan, data menunjukkan hampir 70 persen responden bersedia menggunakan sistem isi ulang (refill) dan guna kembali (reuse).

Tumpukan sampah yang bercampur antara organik dan non-organik di salah satu sudut kawasan Pasar Andir, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (29/1/2026). Sampah di kawasan pasar di sejumlah tempat di Indonesia belum terkelola dengan baik. Pemisahan sampah organik dengan sampah lain, seperti plastik dan material lain, tidak banyak dilakukan. Sedangkan sampah organik, khususnya di kawasan pasar basah, memiliki potensi besar dijadikan berbagai upaya daur ulang seperti kompos hingga pakan ternak. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO29/1/2026

Namun, pilihan itu belum sepenuhnya tersedia secara luas. Infrastruktur dan investasi pada sistem guna ulang masih tertinggal dibandingkan dengan dominasi plastik sekali pakai.

Di titik inilah, krisis menjadi cermin. Ketika harga plastik naik, keterbatasan alternatif menjadi semakin terasa. Konsumen dihadapkan pada pilihan yang sempit, yaitu tetap menggunakan plastik dengan harga lebih mahal atau mencari solusi sendiri yang belum tentu mudah diakses.

Meski begitu, lanjutnya, masyarakat telah bergerak karena sudah muncul kesadaran terhadap lingkungan, khususnya untuk mengurangi plastik. Salah satu perubahan yang mulai terlihat adalah cara masyarakat membeli kebutuhan sehari-hari. Perubahan ini bisa diikuti dan ditiru agar sampah plastik tidak semakin banyak.

Mereka yang gemar mengonsumsi makanan ringan, misalnya, cenderung memilih kemasan berukuran lebih besar. Selain lebih ekonomis, langkah ini juga dianggap mampu menekan frekuensi penggunaan plastik dari pembelian berulang dalam kemasan kecil.

Pekerja menyortir botol plastik di fasilitas pemulihan material Waste Hub Rekosistem yang terletak di Jalan Raya Narogong, Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, Jumat (13/12/2024). Aktivitas di fasilitas ini antara lain meliputi penyortiran dan pemilahan sampah organik dan anorganik, pencacahan, pembuatan ballpress hingga penyimpanan produk hasil penangan sampah untuk dijual. Sebanyak 40 pekerja terlibat dalam proses penanganan sampah di fasilitas ini. Jumlah volume sampah yang masuk ke fasilitas ini dapat mencapai 8 ton per-hari.  

KOMPAS/RADITYA HELABUMI
13-12-2024

Di ruang-ruang kerja, kebiasaan membawa peralatan makan sendiri juga semakin umum. Para pekerja memilih membawa sendok, garpu, hingga wadah makan pribadi untuk menghindari penggunaan alat makan sekali pakai.

Hal serupa terjadi pada kebiasaan membawa botol minum, yang kini menjadi alternatif untuk mengurangi pembelian air mineral dalam kemasan plastik.

Di meja-meja kafe dan restoran, sebagian pelanggan mulai membawa sedotan logam sendiri. Di tingkat rumah tangga, masyarakat mulai memilah sampah, memisahkan plastik dari limbah organik, dan sebagian bahkan secara aktif mengirimkan sampah plastik ke pusat daur ulang di sekitar tempat tinggal mereka. Langkah ini menunjukkan pergeseran dari sekadar membuang menjadi mengelola.

Pelari membawa kantong plastik berisi sampah saat mengikuti Rerun Road to PLN Electric Run 2025 yang diawali dari  Cotta Haus, Kota Tangerang, Banten, Sabtu (11/10/2025). Ajang ini disambut baik peserta karena mereka juga dapat mewujudkan  aksi peduli lingkungan dngan mengambil sampah di jalanan. Dari acara ini terkumpul 186,68 kilogram sampah yang  akan didaur ulang menjadi totte bag untuk pengambilan  race pack bagi pelari dalam PLN Electric Run 2025.

Arsip Event Kompas

Sementara itu, perubahan kebijakan di sektor ritel juga ikut mendorong transformasi perilaku. Dengan semakin banyaknya toko yang tidak lagi menyediakan kantong plastik, masyarakat pun beradaptasi dengan membawa tas belanja sendiri. Awalnya mungkin terasa sebagai keterpaksaan, tetapi lama-kelamaan menjadi kebiasaan baru yang lebih berkelanjutan.

”Upaya-upaya kecil ini, jika dilakukan secara kolektif dan konsisten, berpotensi menjadi fondasi penting dalam mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai,” kata Ibar.

Selama ini, plastik identik dengan material atau produk murah bahkan berakhir menjadi sampah. Namun, saat ini kenaikan harga plastik menghadirkan konsekuensi ekonomi yang membuat pasar dan masyarakat bergejolak. ”Manusia plastik” bukan hanya gambaran gaya hidup, melainkan juga posisi dalam sistem ekonomi global yang rapuh.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aguido Adri
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra