Penampilan medioker tim-tim Liga Italia di Liga Champions bukan simbol penurunan kualitas sepak bola Italia. Pemain Italia yang berkarier di luar negeri tampil apik.
25 Feb 2026 16:46 WIB · Olahraga
AP/JON SUPER
Anomali tengah terjadi pada sepak bola Italia saat ini. Wakil-wakil Liga Italia satu per satu gugur di Liga Champions. Di sisi lain, para pemain Italia yang berkarier di luar negeri justru menjadi tulang punggung utama timnya untuk terus melaju di kompetisi antarklub terelite di Eropa itu.
Inter Milan, pemuncak klasemen sementara sekaligus kandidat terkuat scudetto Serie A Italia, sudah tersisih dari persaingan Liga Champions. Dua kali ”I Nerazzurri” tumbang dari duta Norwegia, Bodo/Glimt. Secara mengejutkan, Inter kalah agregat 2-5.
Sebelumnya, Napoli juga sudah lebih dulu menutup petualangan mereka di Liga Champions. Berstatus juara bertahan Liga Italia, Napoli tersisih dari fase grup. Performa anak asuhan Antonio Conte tidak mampu membawa mereka berada di zona 24 besar demi melaju ke playoff babak gugur.
Italia pun berpeluang mencatatkan sejarah kelam di era modern Liga Champions. Untuk pertama kalinya, tidak ada wakil Italia di babak 16 besar.
Dalam kolom khusus di La Gazzetta dello Sport, Arrigo Sacchi menyebut ada tiga faktor yang membuatnya yakin Inter bisa membalikkan ketertinggalan agregat 1-3 pada laga kedua di Stadion San Siro, Rabu (25/2/2026) WIB. Harapan itu berujung semu setelah Inter kalah 1-2 dari Bodo/Glimt di depan pendukung sendiri.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/02/25/b98c0268-6ad5-4a52-89d6-1d0b32670020_jpg.jpg)
”Pertama, Inter memiliki superioritas teknis dibandingkan dengan lawan. Kedua, skuad asuhan (Cristian) Chivu tengah dalam kondisi bagus di kompetisi domestik. Ketiga, tekanan dari suporter di San Siro. Nyatanya, Bodo/Glimt menyingkirkan Inter yang, dalam sudut pandang Inter, itu adalah kekecewaan luar biasa,” tulis Sacchi, pelatih timnas Italia di Piala Dunia 1994, dalam La Gazzetta dello Sport edisi Rabu ini.
Fabio Capello, mantan pelatih Italia, menyoroti pendekatan permainan yang disajikan Federico Dimarco dan kawan-kawan di San Siro. Menurut Capello, performa Inter seperti tidak ingin mengejar kemenangan karena bermain sangat lambat, tanpa kecepatan, dan tidak ada aksi individu pemain untuk menaklukkan lawan dalam situasi satu lawan satu.
”Inter tidak bermain dengan tempo yang dibutuhkan untuk mengalahkan tim yang bermain hati-hati seperti Bodo/Glimt. Sempat ada perubahan dari kehadiran Petar Sucic, tetapi ia masuk terlalu telat,” ucap Capello, dilansir Corriere dello Sport.
Dalam melihat statistik laga kedua kontra Bodo/Glimt, Inter terlihat sudah mengerahkan segala daya upaya untuk meraih kemenangan. Mereka menguasai bola hingga 71 persen, kemudian menciptakan 30 tembakan.
Namun, Inter minim menciptakan peluang besar dan rendah efektivitas dalam memanfaatkan kesempatan. Inter hanya mencatat 23 persen akurasi tembakan. Angka yang sangat jauh dibandingkan dengan 71 persen akurasi tembakan yang dicetak Bodo/Glimt. Selain itu, kuantitas peluang besar Inter lebih inferior dibandingkan tim tamu dari Norwegia (dua berbanding tiga).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/02/25/72c05375-8bda-419f-83fc-be67af0fc1af_jpg.jpg)
”Sayangnya, kami tidak mampu kompetitif di Liga Champions. Kami memulai kompetisi dengan baik dan memenangi empat laga beruntun, lalu kami kehilangan poin meski bermain baik,” ujar Pelatih Inter Cristian Chivu mengulas kiprah perdananya menangani Inter di Liga Champions.
”Kompetisi ini menuntut level tinggi. Jika gagal memanfaatkan peluang dan membuat keputusan tepat, tim akan dihukum dari kesalahan pertama. Kami harus memikirkan ke depan,” ujar Chivu yang berasal dari Romania.
Di luar Italia, pemain-pemain diaspora yang merantau ke negara lain menyajikan performa individu penting bagi timnya untuk melaju ke babak 16 besar. Sandro Tonali, salah satunya, mencetak gol pertama Newcastle United menghadapi Qarabag di Stadion St James’ Park, Inggris. Laga itu dimenangi ”The Magpies” 3-2 sehingga wakil Inggris itu unggul agregat 9-3.
Performa Tonali, gelandang timnas Italia, disambut dengan predikat Pemain Terbaik Laga dari UEFA. Grup Pemantau Teknis UEFA menyebut Tonali mampu mempertahankan penguasaan bola, mengontrol laga dari tengah, membuat umpan-umpan penting, menyajikan energi besar untuk tim, dan mencetak gol pertama yang krusial.
Gol yang disarangkan Tonali pada menit keempat adalah satu-satunya tembakan yang dilepaskannya. Itu pun merupakan gol pertama Tonali di Liga Champions musim ini. Ia mencatatkan 93 persen akurasi operan dan menciptakan tiga umpan kunci.
”Kami melakukan permulaan laga luar biasa, mencetak dua gol dalam enam menit pertama. Setelah itu, pertandingan sedikit lebih terbuka dan kian sulit. Hal terpenting adalah memenangi laga dan melaju ke babak selanjutnya,” ujar Tonali, yang memasuki musim ketiga di Inggris, kepada UEFA TV.
Pemain impor Italia lainnya yang tampil apik ialah Matteo Ruggeri, bek sayap kiri Atletico Madrid. Ruggeri menyodorkan umpan matang untuk gol keempat Atletico guna mengunci kemenangan timnya 4-1 atas Club Brugge di Stadion Riyadh Air Metropolitano, Spanyol.
Asis Ruggeri membantu penyerang Atletico, Alexander Sorloth, mencetak hattrick. ”Los Rojiblancos” melaju dengan keunggulan agregat 7-4. Dalam sembilan laga Liga Champions musim ini, Ruggeri sudah menghasilkan dua asis.
Terlepas dari asis itu, Ruggeri merupakan pemain dengan kreasi peluang terbanyak di laga tersebut. Ia menghasilkan lima peluang untuk rekan setimnya. Hal itu menunjukkan peran besar Ruggeri bagi tim asuhan Diego Simeone pada musim perdananya bermain di ibu kota Spanyol.
Di tengah penampilan semenjana tim-tim Italia di Liga Champions musim ini, produk pembinaan Italia terbukti masih menjadi salah satu yang terbaik di Eropa. Mereka mampu memberikan kontribusi nyata di level tertinggi.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Emilius Caesar Alexey