Pengoperasian Kapal Motor Penumpang (KMP) Virgo Transport 8 tidak sesuai desain awal. Fakta ini diduga kuat menjadi salah satu faktor karamnya kapal itu.
18 Sep 2026 07:15 WIB · Ekonomi & Bisnis
KEMENTERIAN PERHUBUNGAN
Oleh Pandu Wiyoga, R Albertus Krisna Pratama P., Aditya Diveranta, Defri Werdiono, Runik Sri Astuti, Ambrosius Harto, Yosepha Debrina Ratih Pusparisa
JAKARTA, KOMPAS — Investigasi Harian Kompas mengungkap KMP Virgo Transport 8 awalnya dirancang untuk pelayaran perairan dekat pantai di Jepang. Penggunaan KMP Virgo untuk mengarungi laut terbuka di rute Surabaya-Banjarmasin diduga menambah risiko kecelakaan.
Pelacakan digital Kompas menemukan, KMP Virgo adalah kapal bekas asal Jepang yang sebelumnya bernama Feri Kurushima. Sejak dibangun pada 1987, kapal jenis roll-on/roll-off (roro) itu digunakan melayani rute Kokura-Matsuyama yang berjarak sekitar 180 kilometer (km). Sementara KMP Virgo melayani rute Surabaya-Banjarmasin sejauh sekitar 490 km, melintasi Laut Jawa.
Dokumen ”Rencana Transportasi Laut Pulau Shikoku untuk Mitigasi Gempa 2013” yang diterbitkan Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang (MLIT) menyebut, Feri Kurushima digunakan di rute perairan dekat pesisir (inner coastal area). Wilayah perairan yang dimaksud adalah wilayah laut yang jaraknya kurang dari 20 mil laut atau sekitar 37 km dari garis pantai pulau terdekat.
”Rute Kokura-Matsuyama itu memang menghubungkan dua pelabuhan di pesisir. Kapal yang dirancang untuk mengarungi perairan dekat pesisir punya stabilitas dan kemampuan manuver yang berbeda dengan kapal yang dipakai mengarungi laut lepas,” kata Guru Besar Bidang Risiko Logistik Maritim Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Saut Gurning, Rabu (16/9/2026).
Feri Kurushima kemudian diimpor ke Indonesia pertengahan 2025. Kapal itu lalu dioperasikan PT Virgo Karya Shipping untuk mengangkut orang dan kendaraan dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, ke Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, sejak Juli 2026.
Manajer Maritime Centre ITS Wasis Dwi Aryawan, Selasa (15/9/2026), menilai, penggunaan kapal yang tak sesuai peruntukan sangat berisiko. Gelombang laut lepas di rute Surabaya-Banjarmasin lebih tinggi daripada yang biasa dihadapi kapal itu dalam pelayaran rute asalnya, Kokura-Matsuyama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/17/9d08361028324e04e7f363b21827c10e-GE_Batam_Oktober_2025.jpg)
”Kalau kapal yang dirancang untuk mengarungi perairan dekat pesisir mau dipakai untuk menyeberangi laut lepas seharusnya, ya, dihitung ulang dulu. Semestinya tetap pada batasan awal kapal itu didesain untuk menghadapi gelombang seberapa tinggi,” ujarnya.
KMP Virgo rute Surabaya-Banjarmasin yang mengangkut 243 penumpang terbalik di Laut Jawa, Minggu (13/9/2026) dini hari. Dari jumlah itu, 108 orang selamat dan 6 orang meninggal. Hingga Kamis (17/9/2026), 129 orang KMP Virgo belum ditemukan.
Ketika KMP Virgo hilang kontak, tinggi gelombang berada pada kategori sedang. Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo Setiyo Pranowo, menyebutkan hasil analisis oseanografi di sekitar TKP menunjukkan gelombang 1,56 meter (m) dengan periode sekitar enam detik. Tinggi gelombang ini masuk kategori sedang antara 1,25 dan 2,5 m, sedangkan kategori tinggi mulai dari 2,5 m ke atas.
”Laut Jawa gelombangnya hanya hanya bolak-balik. Gelombang arah barat menuju timur, itu biasanya Desember, Januari, dan Februari. Kemudian berbalik arah dari timur ke barat ketika Juni, Juli, dan Agustus. Bulan lain seperti September merupakan masa peralihan dengan tinggi gelombang yang sebetulnya akan lebih rendah,” jelas Widodo, Rabu (16/8/2026).
Melansir Kompas TV, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjung Perak, Surabaya, Agustinus Maun, Senin (14/9/2026), mengatakan, tidak ada peringatan cuaca buruk dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) saat KMP Virgo berlayar. Ia juga memastikan persyaratan laik laut kapal maupun laik laut awak kapal KMP Virgo sudah terpenuhi.
Menanggapi pernyataan Agustinus, Saut menyebut, jika kapal itu dinyatakan laik laut atau memenuhi persyaratan berlayar, seharusnya kapal itu mampu menghadapi cuaca yang ekstrem dalam batas-batas tertentu. ”Kalau kapal tidak mampu menghadapi kondisi perairan tempat dia berlayar, itu namanya tidak laik laut,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/14/0245cfbbe961c78a31bcefdefbc70ab4-antarafoto_evakuasi_korban_kmp_virgo_transport_8_1789348047.jpg)
Lokasi KMP Virgo tenggelam di area Perairan Masalembo. Menurut Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Daryono, perairan Masalembo adalah tempat bertemunya Laut Jawa, Selat Makassar, dan Laut Flores. Pada kondisi tertentu, perbedaan densitas antarlapisan bisa menghasilkan stratifikasi laut dan shear arus, yaitu perbedaan kecepatan atau arah arus antara satu lapisan dan lapisan lainnya.
Proses itu bisa memicu turbulensi, pencampuran massa air, maupun fenomena gelombang internal. Namun, fenomena ini tidak boleh dianggap sebagai penyebab kapal kehilangan daya apung atau kendali. Senada dengan Saut, Daryono juga mengatakan bahwa risiko pelayaran merupakan kombinasi faktor alam, manusia, dan kapal. Fenomena oseanografi dan meteorologi tidak boleh dianggap sebagai kesimpulan penyebab kecelakaan KMP Virgo.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/13/7f017db6c1838752e95a90829a04fda2-antarafoto_posko_kesehatan_korban_kapal_penumpang_virgo_transport_8_1789305178.jpg)
Saat masih melayani rute Kokura-Matsuyama, Feri Kurushima memiliki sister ship atau kembaran, yakni Feri Hayatomo 2. Dua kapal itu selesai dibangun pada tahun 1987. Penelusuran Kompas menemukan, Feri Hayatomo 2 telah dicacah menjadi besi tua di Chittagong, Bangladesh, September 2024.
Pada Juli 2025 Feri Kurushima berganti nama menjadi Virgo Transport 8 dan ganti bendera dari Jepang menjadi Mongolia. Saat itu, kapal tersebut juga terpantau berlayar dari Jepang menuju Pulau Batam, Kepulauan Riau.
Pelacakan Kompas lewat citra satelit di Google Earth Pro dan Sentinel-2 L2A menemukan, KMP Virgo sandar di dermaga galangan kapal KTU Shipyard, Batam, hingga awal 2026. Saat KMP Virgo mulai beroperasi rute Surabaya-Banjarmasin Juli 2026 tampak ada modifikasi penambahan dua pintu rampa yang digunakan untuk menaikkan dan menurunkan kendaraan di bagian kanan kapal.
Salah satu pekerja KTU Shipyard yang dihubungi Kompas, membenarkan adanya kapal tipe roll-on/roll off (roro) yang baru dibeli dari Jepang bersandar di dermaga jetty KTU Shipyard. Keberadaan kapal itu untuk modifikasi penambahan dua pintu rampa di bagian kanan. ”Kalau di bagian dalam kapal, saya enggak tahu apakah ada yang dimodifikasi atau tidak,” kata sumber, yang tidak mau disebut namanya, Kamis (17/9/2026).
Sampai berita ini ditulis, Kamis (17/9/2026) malam, Relationship Manager KTU Shipyard Robin Pramana belum menjawab permohonan wawancara yang disampaikan Kompas sejak 15 September.
Saut menduga, modifikasi KMP Virgo tak hanya meliputi penambahan pintu rampa, bisa jadi ada modifikasi lain yang berdampak mengubah titik berat kapal. ”Soalnya kami yang berkecimpung di dunia perkapalan masih bertanya-tanya mengapa kapal itu miring lalu terbalik sedemikian cepat seperti kesaksian penumpang,” tuturnya.
Salah satu penumpang KMP Virgo yang selamat, Faisal (26), warga asal Bandung, Jawa Barat, merasakan guncangan di dalam kapal sejak pukul 15.00. Dia tidak tahu, penyebab guncangan tersebut. ”Yang jelas bergoyang, kalau keras tidak,” ujarnya.
Sekitar pukul 20.00 Faisal kembali muntah karena guncangan kapal makin keras. Sekitar pukul 23.30 beberapa kursi di atas kapal, mulai berjatuhan. Saat itu, badan kapal mulai miring. Penumpang panik seketika. Banyak penumpang berusaha menyelamatkan diri dengan mengenakan pelampung. Sebagian terjun ke laut menggapai sekoci.
Selain membawa penumpang, KMP Virgo juga memuat kendaraan saat berlayar. Data di posko Gapura Surya, di Surabaya, menyebutkan, jumlah kendaraan sesuai manifes sebanyak 74 unit. Dari jumlah itu sebanyak 22 unit merupakan truk sedang, sebanyak 47 unit truk besar (TB), dan truk tronton 5 unit. Jenis muatannya beragam ada paket, sayur, buah, dan marmer.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/17/e62b996e22992f45181580c00c059a10-20260917_H01_KID_Virgo_Transport_mumed.jpg)
General Manajer PT Virgo Karya Shipping Yoel Rihi memastikan dalam truk tidak ada muatan berbahaya. Semua kendaraan telah diikat. Yoel juga menjelaskan bahwa umur kapal tak bisa disamakan dengan usia manusia, semakin tua dianggap makin menurun kemampuannya. Kapal adalah moda transportasi yang penilaiannya didasarkan kondisi teknis.
Pantauan Kompas, Rabu (16/9/2026), aktivitas di Gapura Surya Tanjung Perak Surabaya berlangsung normal. Di dermaga terlihat KMP Dobon Solo sedang berlabuh. Sementara itu di luar gapura tampak puluhan truk sedang parkir di tepi jalan. Truk-truk ini tengah menunggu jadwal masuk kapal sesuai rute yang dituju. Ada yang hendak menempuh perjalanan ke Kalimantan ada yang ke Makassar. Kondisi muatannya penuh sehingga seluruh kapasitas ruang di kendaraan itu terpakai bahkan penumpukan barangnya melampaui tinggi bak truk.
Penulis:
Pandu Wiyoga, R Albertus Krisna Pratama P., Aditya Diveranta, Defri Werdiono, Runik Sri Astuti, Ambrosius Harto, Yosepha Debrina Ratih PusparisaEditor:
Andy Riza HidayatPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase