KNKT memeriksa Kapal Motor Penumpang Tunu Pratama Jaya sejak keberangkatan hingga ketika insiden terjadi, serta penanganan terhadap musibah.
04 Jul 2025 10:38 WIB · Nasional
BANYUWANGI, KOMPAS — Komisi Nasional Keselamatan Transportasi menyelidiki penyebab tenggelamnya Kapal Motor Penumpang Tunu Pratama Jaya di Selat Bali. Investigasi itu akan dilakukan setelah upaya pencarian dan pertolongan oleh tim pencarian dan pertolongan atau SAR gabungan selesai dilakukan.
Kepala Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono mengatakan, investigasi akan dimulai sejak kapal berangkat, terkait bagaimana proses pengeluaran Surat Persetujuan Berlayar (SPB). Hingga apakah persyaratan-persyaratan di dalamnya, seperti cuaca, kelaikan kapal, dan dokumen-dokumen, sesuai peraturan.
”Kami dari KNKT tugasnya melakukan investigasi guna mengetahui penyebab kecelakaan. Namun, di dalam operasi SAR (search and rescue) ini kita saling membantu bagaimana bisa menemukan korban baik yang selamat maupun meninggal secepatnya. Jadi, yang bisa kita lakukan saat ini adalah ikut koordinasi dengan SAR. Nanti kalau SAR sudah close, kita akan lakukan investigasi,” ujarnya.
Soerjanto mengatakan hal itu dalam konferensi pers pencarian penumpang Kapal Motor Penumpang (KMP) Sunu Jaya bersama Basarnas, Direktur Jenderal Perhubungan, TNI, Polri, dan unsur lain di Dermaga Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (4/7/2025).
Begitu pula saat musibah terjadi, menurut Soerjanto, pelaksanaan tanggap darurat di kapal juga menjadi fokus perhatian. ”Kita juga mengumpulkan bukti-bukti video dari media sosial bagaimana kondisi ketika kerjadi darurat di kapal,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/04/68fb014c327830744de45b01da82cbc8-WhatsApp_Image_2025_07_04_at_08.21.21.jpeg)
Di kapal juga ada alat keselamatan, termasuk alat yang memancarkan beacon (suar) ketika tenggelam secara otomatis. Juga rakit penyelamat (sekoci). Jumlah sekoci yang aktif saat kecelakaan terjadi juga akan diperiksa. Dalam kondisi darurat, keberadaan sekoci sangat membantu penumpang untuk menyelamatkan diri sambil menunggu tim penyelamat tiba.
”Kami juga akan melakukan evaluasi mengapa saat kecelakaan, saat kecelakaan sebelumnya, di sini, mengalami hal yang sama liferaft (perahu karet) tidak berkembang. Hal-hal yang berulang seperti ini akan jadi perhatian kami untuk segera mengeluarkan rekomendasi serupa untuk segera dilakukan evaluasi,” ucapnya.
Menurut Soerjanto, penyebab terjadinya korban dan kecelakaan akan menjadi bahan evaluasi. Kelemahan-kelemahan ini akan dimasukkan dalam rekomendasi KNKT agar ke depan kecelakaan dengan penyebab yang sama bisa terhindarkan.
Sementara itu, Deputi Bidang Operasi Pencarian dan Pertolongan dan Kesiapsiagaan Basarnas R Eko Suyanto memaparkan skenario pencarian hari kedua penumpang kapal setelah musibah terjadi. Salah satunya, membagi SRU laut, darat, dan udara.
Dari sisi darat, upaya pencarian akan memanfaatkan masyarakat nelayan serta Babinkamtibmas dan Babinsa. Mereka menyusuri sepanjang pantai Ketapang dari lokasi kapal tenggelam sampai ke arah selatan. Begitu pula di sisi Gilimanuk.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/04/e9062f9a1b6fca23a1eff49e65d5b6af-WhatsApp_Image_2025_07_04_at_08.21.20_1_.jpeg)
Sementara untuk SRU laut ada penambahan perkuatan unsur laut. Dari Armada II TNI AL, ada tambahan KRI Teluk Ende, KRI Tongkol, serta satu pesawat CN235. Adapun dari Polri akan ada tambahan 1 kekuatan helikopeter dan 1 helikopter Basarnas dan Bali Air.
Dalam pencarian hari sebelumnya, tim menemukan 29 korban selamat dan enam korban meninggal. Dari 29 korban selamat, 21 orang merupakan warga Banyuwangi dan telah pulang ke rumah masing-masing serta sisanya warga Gilimanuk.
Saat kapal tenggelam, jumlah manifest di KMP Tunu Pratama Jaya sebanyak 53 penumpang dan 12 orang kru plus 22 kendaraan. Jika mengacu pada jumlah manifest, setidaknya masih ada 30 orang yang belum diketahui nasibnya.
Sementara itu, Direktur Meteorologi Maritim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Eko Prasetyo menyatakan kondisi cuaca hari ini tinggi gelombang 0,5-1 meter, kecepatan angin maksimum 15 knot dan kecepatan arus cukup kencang 2,1 meter per detik ke arah selatan dan semakin ekstrem ketika sudah berada di sebelah selatan selat Bali tinggi gelombang sampai 2,5-3 meter.
Penulis:
Defri Werdiono, Bahana Patria GuptaEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto