Tim SAR memaksimalkan pencarian korban KMP Tunu Pratama Jaya selama ”golden time” 3 x 24 jam, siang dan malam, dengan dukungan kapal, helikopter, dan tim gabungan.
04 Jul 2025 07:30 WIB · Nasional
BANYUWANGI, KOMPAS — Upaya pencarian korban kapal motor penumpang atau KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali terus diintensifkan. Operasi pencarian dilakukan siang dan malam dengan memanfaatkan masa krusial golden time selama 3 x 24 jam sejak insiden terjadi.
Berdasarkan data sementara dari Posko Tim SAR Gabungan di Dermaga Penyeberangan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, hingga Kamis (3/7/2025) malam, tercatat 29 penumpang ditemukan selamat dan enam orang meninggal.
Enam korban meninggal adalah Anang Suryono (59), Eko Sastriyo (51), Elok Ramantini (34), Cahyani (45), Fitri April L (33), dan Afnan A Mustofa (3). Sekitar pukul 20.00, jenazah mereka telah tiba dari Gilimanuk dan diserahkan kepada pihak keluarga.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi yang meninjau langsung posko pencarian di Ketapang menyatakan bahwa fokus utama saat ini adalah penyelamatan korban. Adapun investigasi penyebab kecelakaan akan ditangani Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/03/3625bd46-93a0-4223-9202-a79cde18cb8d_png.png)
”Penyebab kecelakaan akan diselidiki oleh KNKT. Sementara itu, seluruh sumber daya kami kerahkan untuk pencarian korban,” ujarnya kepada awak media.
Deputi Bidang Operasi Pencarian, Pertolongan, dan Kesiapsiagaan Basarnas Laksda TNI R Eko Suyanto menegaskan bahwa pencarian juga akan dilakukan malam hari sesuai arahan Menteri Perhubungan. Tujuannya untuk memaksimalkan peluang penyelamatan selama masa golden time.
Untuk mendukung pencarian, dua kapal negara milik SAR, yaitu KN Permadi dan KN Arjuno, dikerahkan bersama sejumlah kapal cepat lainnya yang fleksibel memantau perairan. Kapal-kapal ini dioperasikan tanpa mengganggu aktivitas penyeberangan Ketapang–Gilimanuk.
”Dalam dunia SAR, golden time secara umum adalah 3 x 24 jam. Baik di laut, gunung, maupun hutan, secara medis korban masih memiliki peluang bertahan hidup dalam rentang waktu itu,” ujar Eko.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/03/6f893276fb6dcc2c5069b149f9249cd0-WhatsApp_Image_2025_07_03_at_15.20.07.jpeg)
Dalam waktu dekat, Tim SAR Gabungan akan mendapat tambahan armada dari TNI Angkatan Laut berupa dua kapal dan satu helikopter. Karena lokasi kejadian berada di perairan selat, operasi SAR dilakukan secara terpadu antara wilayah Denpasar dan Surabaya.
Eko menambahkan, sejak kapal dilaporkan tenggelam, seluruh pemangku kepentingan di wilayah Banyuwangi dan Gilimanuk telah dikerahkan untuk operasi pencarian dan pertolongan. Semua peralatan SAR diberdayakan secara maksimal hingga berhasil menemukan puluhan korban.
”Total korban yang berhasil ditemukan sejauh ini adalah 29 selamat dan 6 meninggal,” katanya.
Sementara itu, Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Inspektur Jenderal Nanang Avianto menyampaikan bahwa pihaknya telah menurunkan tim Disaster Victim Identification (DVI) untuk pemeriksaan antemortem jenazah. Tim ini merupakan gabungan dari Polda Jatim dan Polda Bali, mengingat lokasi insiden berada di perbatasan kedua wilayah tersebut.
Selain tim DVI, lanjut Nanang, polisi juga menyiapkan personel polwan untuk layanan trauma healing bagi korban selamat. Upaya ini penting agar para penyintas bisa segera pulih dari dampak psikologis pascakejadian.
”Pencarian juga akan diperluas, termasuk dengan penambahan perimeter area dan alat pendukung. Kami juga mendapat bantuan dari Mabes Polri yang mengirim peralatan pencarian, serta melibatkan mitra nelayan di sepanjang Selat Bali agar informasi penemuan bisa langsung diteruskan secara real time,” ujar Nanang.
Diketahui, KMP Tunu Pratama Jaya bertolak dari Pelabuhan Ketapang pada Rabu (2/7/2025) pukul 23.05 WIB. Sekitar pukul 00.15 WITA, tim Local Port Service Pelabuhan Gilimanuk menerima komunikasi darurat dari nakhoda kapal di kanal radio 16 dan 17 yang menyampaikan kode merah akibat kebocoran mesin.
Pada pukul 00.19 WITA, kapal mengalami blackout, dan tiga menit kemudian, tepat pukul 00.22 WITA, kapal terbalik dan hanyut ke arah selatan. Lokasi kejadian berada di koordinat -8°09.371’ LS dan 114°25.1569’ BT.
Kapal jenis roll-on roll-off (RoRo) buatan tahun 2010 itu memiliki panjang 63 meter dan lebar 12 meter. Saat kejadian, kapal mengangkut 53 penumpang, 12 awak kapal, dan 22 unit kendaraan.
Penulis:
Defri WerdionoEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto