Kolaborasi Turki-Qatar Raup Untung di Suriah

Turki dan Qatar sejak 2011 dikenal sebagai pendukung kuat oposisi Suriah. Dua negara itu kini memetik keuntungan atas ”investasi” mereka di Suriah.

20 Des 2024 12:35 WIB · Opini

Oleh Musthafa Abd Rahman

Turki dan Qatar adalah dua negara yang secara geopolitik paling diuntungkan—untuk tidak mengatakan: meraih kemenangan—dengan tumbangnya rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad dan kemenangan kubu oposisi Suriah pimpinan Hayat Tahrir al-Sham (HTS) di Suriah.

Turki dan Qatar adalah dua negara yang paling getol mendukung kubu oposisi Suriah sejak meletusnya revolusi Suriah tahun 2011. Turki melindungi kelompok oposisi Suriah yang bertahan dan berlindung di Provinsi Idlib, Suriah barat laut, dari gempuran Rusia dan Suriah.

Turki pun menempatkan pasukan di Provinsi Idlib untuk menjaga wilayah yang dikontrol kubu oposisi Suriah itu. Turki juga menampung sekitar 3 juta pengungsi Suriah yang tentu menjadi beban ekonomi Turki.

Turki melalui Forum Astana-Kazakhstan yang dibentuk tahun 2017 mampu melindungi secara politik Provinsi Idlib dari serangan Rusia-Suriah. Dalam forum Astana yang dibentuk bersama Rusia dan Iran itu, disepakati bahwa Provinsi Idlib menjadi salah satu wilayah deeskalasi di Suriah.

Pasca-kesepakatan Astana, Rusia dan rezim Assad tidak lagi menyerang Idlib yang menjadi basis kubu oposisi Suriah. Pasca-kesepakatan Astana itu, kubu oposisi bersenjata bisa melakukan konsolidasi sehingga akhirnya bisa menumbangkan rezim Assad pada 8 Desember 2024.

Warga berdiri dan menginjak-injak di atas foto raksasa bergambar wajah mantan Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam unjuk rasa di Lapangan Umayyah di pusat kota Damaskus, Suriah, 13 Desember 2024.

Adapun peran Qatar adalah memimpin diplomasi di dunia Arab untuk mengucilkan Suriah di bawah rezim Presiden Assad dan membekukan keanggotaan Suriah di Liga Arab. Pada KTT Liga Arab di Doha, Qatar, pada Maret 2013, kubu oposisi Suriah diakui sebagai wakil Suriah di pertemuan puncak itu. Forum tersebut membekukan rezim Assad dalam keanggotaan Liga Arab.

Qatar juga selalu berkoordinasi dengan Turki dalam berkomunikasi dengan kubu oposisi Suriah mengingat kedua negara tersebut memiliki visi dan misi yang sama terkait isu Suriah. Qatar pun menggunakan jalur Turki dalam menyalurkan bantuan keuangan dan senjata ke kubu oposisi Suriah.

Quote

Qatar selalu berkoordinasi dengan Turki dalam berkomunikasi dengan oposisi Suriah mengingat dua negara itu punya visi dan misi yang sama terkait isu Suriah.

Qatar pada hari Selasa, 10 Desember 2024, mengumumkan mengirim bantuan kemanusiaan besar-besaran dengan konvoi pesawat menuju Suriah. Saat kubu oposisi yang dipimpin HTS menumbangkan rezim Assad dalam kurun waktu singkat, yakni hanya 11 hari saja (27 November-8 Desember 2024), maka segera diasumsikan bahwa Turki dan Qatar berada di balik kemenangan kubu oposisi Suriah tersebut.

Asumsi tersebut sangat wajar mengingat Turki dan Qatar sejak tahun 2011 dikenal sebagai pendukung kuat kubu oposisi Suriah. Kebersamaan Turki-Qatar terkait isu Suriah ini ditunjukkan lewat kunjungan bersama delegasi Turki-Qatar ke Damaskus pada hari Kamis, 12 Desember 2024, yakni hanya 4 hari setelah tumbangnya Assad.

Turkey Syria

Delegasi Turki-Qatar itu terdiri dari Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, Kepala Intelijen Turki Ibrahim Kalin, dan Kepala Keamanan Nagara Qatar Khalfan Kaabi. Mereka menemui Ketua Hayat Tahrir al-Sham (HTS) Ahmed al-Sharaa atau Abu Mohammed al-Golani, yang saat ini berkuasa di Suriah.

Delegasi bersama Turki-Qatar itu merupakan delegasi asing pertama yang mengunjungi Suriah pasca-tumbangnya rezim Assad. Hal ini menunjukkan betapa dekatnya hubungan Turki-Qatar dengan HTS yang memimpin kubu oposisi bersenjata dalam menggulingkan rezim Assad.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majid al-Ansari pada hari Rabu, 11 Desember 2024, menegaskan bahwa Qatar akan segera membuka lagi kantor kedutaan besarnya di Damaskus.

Sehari sebelumnya, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa Turki tidak mengizinkan lagi, baik perpecahan Suriah maupun Suriah, menjadi arena pertarungan kekuatan-kekuatan asing.

Erdogan lalu menegaskan, siapa pun yang mencoba mengganggu stabilitas Suriah baru dan keselamatan kedaulatan wilayah Suriah, Turki dan rakyat Suriah akan menghadapi mereka.

Pernyataan Erdogan dan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar itu menunjukkan betapa besar kepentingan dua negara tersebut di Suriah. Kemenangan kubu oposisi Suriah adalah kemenangan Turki-Qatar.

This handout photograph taken and released by The Press Office of the Presidency of Turkey on November 20, 2022, shows Turkish President Recep Tayyip Erdogan (L) meets with Saudi Arabia's Crown Prince Mohammed bin Salman al-Saud (C) as they are welcomed by Qatari Emir Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani (R) on the occasion of the opening ceremony of the 2022 FIFA World Cup in Doha, Qatar. (Photo by Handout / Press Office of the Presidency of Turkey / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / HO - PRESS OFFICE OF THE PRESIDENCY OF TURKEY" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Tumbangnya rezim Assad akan semakin membuka jalan bagi terwujudnya kepentingan strategis Turki di Suriah. Di antara kepentingan strategis Turki adalah membasmi milisi bersenjata Unit Perlindungan Rakyat (YPG) Kurdi, yang dianggap cabang Partai Pekerja Kurdistan (PKK). PKK ditetapkan sebagai organisasi teroris di Turki.

Maka, kemungkinan yang akan segera terjadi di Suriah, yaitu HTS dibantu Turki akan memburu YPG. HTS akan memberi dua pilihan kepada YPG, yaitu melucuti senjatanya atau dibasmi. Sebaliknya, YPG semakin terjepit dengan kemenangan HTS yang dibantu Turki di Suriah.

Quote

Di antara kepentingan strategis lain Turki dan Qatar adalah mendapat kue terbesar dalam proyek pembangunan kembali Suriah.

Selanjutnya, kepentingan strategis Turki adalah memulangkan sekitar 3 juta pengungsi Suriah dari Turki. Pengungsi Suriah semakin membebani ekonomi Turki. Bukan itu saja, Pemerintah Presiden Erdogan yang menerima pengungsi Suriah juga menjadi sasaran kritik kubu oposisi di Turki.

Pengungsi Suriah di Turki bernama Rayan Assani (8) mengantre di gerbang perbatasan Cilvegozu, Distrik Reyhanli, Hatay, Turki, sebelum menyeberang ke Suriah, 12 Desember 2024.

Bagi pemerintahan Erdogan, tumbangnya rezim Assad di Damaskus akan membuka jalan bagi pulangnya pengungsi Suriah dari Turki sekaligus meringankan beban politik yang dipikul Erdogan selama ini.

Di antara kepentingan strategis lain Turki dan juga Qatar adalah mendapat kue terbesar dalam proyek pembangunan kembali Suriah. Hampir bisa dipastikan, perusahaan-perusahaan dari Turki dan Qatar akan mendapat jatah terbesar dalam proyek pembangunan kembali Suriah.

Di dalam negeri Turki, pemerintah Erdogan secara politik juga semakin kuat dalam menghadapi kubu oposisi pasca-tumbangnya rezim Assad di Damaskus karena selama ini Erdogan paling ngotot untuk terus mendukung kubu oposisi Suriah.

____________

Musthafa Abd Rahman, wartawan Kompas 1991-2022

Musthafa Abd Rahman (MUS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Musthafa Abd Rahman
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .