Komite penyelidik Pemerintah Iran menyimpulkan ledakan di pelabuhan karena kesalahan prosedur. Namun, itu tak meminggirkan dugaan ledakan karena amonium perklorat.
29 Apr 2025 10:35 WIB · Internasional
TEHERAN, SELASA — Komite penyelidikan Pemerintah Iran menyimpulkan penyebab ledakan di Pelabuhan Shahid Rajaei adalah kesalahan prosedur. Kesimpulan ini membantah dugaan penyebab ledakan terkait dengan penanganan bahan amonium perklorat yang tidak tepat.
Dikutip dari kantor berita Iran, IRNA, Komite Penyelidikan Penyebab Kebakaran, Senin (28/4/2025) malam waktu setempat atau Selasa waktu Indonesia, ledakan terjadi karena kegagalan para pihak mematuhi prinsip-prinsip keselamatan dan standar pertahanan pasif. Komite juga menyatakan akan mengidentifikasi orang-orang atau pihak yang diduga menyebabkan insiden tersebut.
”Penentuan penyebab insiden ini perlu waktu untuk penyelidikan menyeluruh, termasuk proses teknis dan laboratorium. Langkah implementasinya tengah diupayakan dan hasil akhirnya akan diungkapkan kepada publik sesegera mungkin,” kata komite dalam pernyataan.
Tidak ada penjelasan yang memadai dan lebih detail soal kelalaian yang dimaksud komite. Begitu juga yang dimaksud dengan standar pertahanan pasif, apakah menyangkut penyimpanan barang-barang kebutuhan militer atau tidak.
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni membuka kemungkinan adanya kelalaian dalam operasional pelabuhan sehingga menyebabkan ledakan besar. Momeni, Senin, menyatakan, para pelaku telah didentifikasi dan dipanggil.
Ledakan telah berhasil dikendalikan, Senin. Korban akibat ledakan terus bertambah. Saat ini, menurut Direktur Manajemen Krisis Provinsi Hormozgan Mehrdad Hassanzadeh, jumlah korban tewas akibat ledakan mencapai 70 orang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/29/d78e0f6de03f03bf5732923efcde6704-000_43MM4KU.jpg)
Citra satelit yang berhasil dianalisis The Associated Press memperlihatkan tingkat kehancuran pelabuhan yang masif akibat ledakan. Foto-foto dari Planet Labs PBS menunjukkan kehancuran banyak bangunan di sekitar lokasi ledakan, termasuk deretan kontainer.
Dari foto-foto yang beredar, kekuatan ledakan cukup besar setelah dua kawah berukuran sekitar 50 meter terlihat jelas di lokasi. Belum ada rincian mengenai kedalaman kedua kawah, yang mungkin bisa membantu memperkirakan kekuatan ledakan saat insiden terjadi.
Sebuah video dari kamera pengawas yang didistribusikan kantor berita Fars menunjukkan, kebakaran kecil dimulai di antara kontainer, dengan sejumlah pekerja menjauh dari tempat kejadian sebelum ledakan besar mengakhiri rekaman video. Api masih menyala hingga Senin, dua hari setelah kejadian, sebelum akhirnya dipadamkan petugas.
Rekaman video yang tersebar luas di sejumlah media sosial memperlihatkan asap berwarna kemerahan mengepul dari api tepat sebelum ledakan. Hal itu diyakini menunjukkan adanya senyawa kimia yang terlibat dalam ledakan, seperti pada ledakan pelabuhan Beirut, Lebanon, tahun 2020.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/29/eea8eb891d371b35dd5f9abe260aba25-000_43PL73G.jpg)
Militer Iran membantah menerima pengiriman bahan kimia. Pada Minggu malam, kantor berita semiresmi Iran, LINA, mengutip pernyataan Saeed Jafari, CEO perusahaan jasa kelautan yang bekerja di pelabuhan, mengungkapkan informasi tentang kargo yang meledak sebagai informasi palsu. ”Insiden itu terjadi setelah pernyataan palsu tentang barang berbahaya dan mengirimkannya tanpa dokumen dan label,” kata Jafari.
Laporan lain oleh kantor berita semiresmi, ISNA, mengklaim kargo yang menyebabkan ledakan tidak dilaporkan ke otoritas bea cukai. Hanya otoritas tingkat tinggi di Iran, seperti Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), yang dapat menghindari prosedur normal di pelabuhan.
Media Amerika Serikat, The New York Times, mengutip sumber yang memiliki hubungan dengan IRGC mengatakan, bahan yang menyebabkan ledakan keras bersumber dari natrium perklorat, bahan utama untuk bahan bakar padat rudal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/10/14/8f6ab537-3479-41f0-85be-b29bf8d0e9ca.jpg)
Juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Reza Talaei Nik, kepada televisi pemerintah membantah hal itu. Ia mengatakan tidak ada kargo impor atau ekspor untuk bahan bakar militer atau keperluan militer di daerah tersebut.
Sejauh ini para pembantu Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperlakukan insiden itu sebagai kecelakaan meski dalam beberapa pekan terakhir relasi Iran dan musuhnya di kawasan, Israel, semakin hangat. Iran juga tengah bernegosiasi soal program nuklir dengan Amerika Serikat, yang telah memasuki putaran ke dua.
Sementara, menurut The Washington Post, Israel pernah melancarkan serangan siber yang menargetkan Pelabuhan Shahid Rajaei pada 2020. (AP/AFP)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari