Pelabuhan itu menangani 85 persen lalu lintas peti kemas Iran. Lokasi pelabuhan itu juga dilalui oleh 20 persen perdagangan minyak internasional.
28 Apr 2025 21:00 WIB · Internasional
BANDAR ABBAS, SENIN — Kepentingan Iran terganggu gara-gara ledakan yang berujung kebakaran dahsyat di Pelabuhan Shahid Rajaei, Bandar Abbas, Iran, Sabtu (26/4/2025). Insiden di pangkalan laut strategis ini dapat berdampak pada aspek ekonomi dan keamanan Teheran, khususnya ekspor minyak, kredibilitas pemerintah, serta negosiasi nuklir.
Pelabuhan Shahid Rajaei terletak di pesisir utara Selat Hormuz, tempat Teluk Persia bertemu dengan Teluk Oman. Sebagai salah satu jalur perdagangan minyak dan gas alam utama dunia, pelabuhan ini adalah aset terbesar dan paling strategis Iran.
Menurut surat kabar The National di Uni Emirat Arab, Senin (28/4/2025), Organisasi Pelabuhan dan Maritim (PMO) mencatat, pelabuhan itu menangani 85 persen lalu lintas peti kemas Iran. Lokasi pelabuhan itu juga dilalui oleh 20 persen perdagangan minyak internasional.
”Pelabuhan Shahid Rajaei adalah pusat maritim terbesar dan terpenting di Iran, yang sering disebut sebagai ’Gerbang Emas’ perdagangan Iran. Pelabuhan ini terhubung dengan 80 pelabuhan internasional utama melalui 35 jalur pelayaran peti kemas teratas,” kata Alex Vatanka, peneliti senior di Middle East Institute, Washington, Amerika Serikat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/28/2e199a45-a7fa-4829-8593-73adb7714e69_jpg.jpg)
Dibangun pada 2005, The New Arab memberitakan, Pelabuhan Shahid Rajaei berdiri di atas lahan seluas 4.800 hektar. Kapasitas pelabuhan ini menangani 100 juta ton kargo per tahun.
Ledakan di pelabuhan terjadi saat delegasi Iran dan AS bertemu di Oman. Kedua pihak membahas program nuklir Iran, Sabtu (26/4/2025). Pada saat bersamaan, ketegangan antara Iran dan Israel tengah meningkat.
Penyebab ledakan masih diselidiki. Jumlah korban tewas dari ledakan itu menjadi 46 orang. Sebagian besar dari 1.000 korban luka telah pulang dari rumah sakit. Selain itu, ledakan merusak infrastruktur pelabuhan, perkantoran, dan gudang penyimpanan.
Operasionalisasi pelabuhan sebagian besar terhenti. Namun, Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni, Minggu (27/4/2025), mengatakan, sebagian pemuatan kontainer dan aktivitas bea cukai telah berlanjut di daerah-daerah yang kurang terdampak.
Insiden ledakan dapat berdampak negatif pada ekonomi Iran, terutama pada rute perdagangan regional. Apalagi, ekonomi Iran tengah terbebani sanksi ekonomi dari Amerika Serikat, termasuk yang mengekang ekspor minyak.
Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Iran stagnan menjadi 0,3 persen pada 2025, turun 3,5 persen dari tahun 2024.
”Ledakan di Pelabuhan Shahid Rajaei—pelabuhan niaga terbesar Iran—akan memberi dampak langsung dan parah pada perekonomian Iran. Penutupannya mengganggu aliran barang, memperdalam isolasi ekonomi Iran,” tutur Dean Mikkelsen, analis maritim, energi, dan keamanan independen.
Mikkelsen menjelaskan, pelabuhan tersebut turut mendukung ekspor minyak, khususnya ”armada hantu”. Ini adalah jaringan kapal yang secara diam-diam menjual minyak Iran ke negara lain dengan menonaktifkan Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) dan melakukan transfer antarkapal.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/07/12/fd34eb42-af94-4771-862a-72147f50f348_jpeg.jpg)
Pemerintah Iran bisa mendapatkan 50 miliar-55 miliar dollar AS setiap tahun dari ekspor minyak. Pendapatan ini membantu mendanai operasionalisasi dan layanan negara serta menstabilkan ekonomi.
Menurut Mikkelsen, interupsi apa pun, bahkan sementara, mengancam kestabilan finansial Iran. ”Penutupan yang berkepanjangan akan memaksa Iran untuk mengalihkan perdagangan melalui pelabuhan yang lebih kecil dan kurang efisien sehingga meningkatkan biaya dan berisiko menimbulkan kemacetan lebih lanjut,” ujarnya.
Sebagai produsen terbesar ketiga di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Iran mengekstraksi sekitar 3,3 juta barel minyak per hari (bph). Jumlah ini mencakup 3 persen dari produksi global.
Perdagangan regional bisa terdampak pula. Mikkelsen berpendapat, beberapa kapal dapat mengubah rute ke pelabuhan yang lebih aman di Uni Emirat Arab atau Arab Saudi, tetapi boros waktu dan biaya. Pada akhirnya, kenaikan biaya bisa berdampak pada berbagai industri.
Untuk sementara, otoritas Iran memperlakukan ledakan tersebut sebagai kecelakaan. Seorang pejabat Iran, Sabtu (26/4/2025), mengatakan, ledakan itu kemungkinan dipicu oleh kontainer berisi bahan kimia, tanpa merinci lebih jauh.
Kepada The New York Times, seorang sumber yang mempunyai koneksi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran mengatakan, benda yang meledak adalah natrium perklorat. Bahan kimia ini adalah bahan baku utama membuat propelan padat untuk peluncuran rudal.
Firma keamanan Ambrey menyatakan, ada indikasi bahwa ledakan itu terjadi karena penyimpanan natrium perklorat yang tidak tepat di pelabuhan. Financial Times edisi Januari 2025 melaporkan, China telah mengirimkan bahan kimia itu ke Iran. Stok Iran kabarnya habis tahun lalu setelah meluncurkan rudal ke Israel.
Pakar lain berpendapat, bahan kimia yang lebih biasa mungkin menjadi penyebab ledakan besar tersebut, seperti amonium nitrat untuk pupuk dan bahan peledak industri. Namun, Juru Bicara Kementerian Pertahanan Iran Jenderal Reza Talaeinik, Minggu (27/4/2025), membantah laporan bahan bakar rudal telah diimpor melalui pelabuhan tersebut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/28/b9b7badd-94fc-42ce-b52f-36e459e87052_jpg.jpg)
Mahdi Ghodsi, ekonom di Institut Studi Ekonomi Internasional Vienna, mengatakan, arti dari insiden tersebut beserta korban jiwa yang jatuh sangat penting. ”Bukti apa pun terkait penyebab awalnya sangat penting pada momen sensitif ini, bertepatan dengan putaran ketiga negosiasi Iran dengan AS,” ucapnya.
Ghodsi melanjutkan, jika insiden tersebut tidak disengaja, buruknya efektivitas pemerintah dan sistem politik akan menjadi sorotan. Sebab, keduanya dianggap tidak mampu menyediakan keamanan yang diperlukan.
”Atau, jika insiden ini melibatkan intervensi asing, hal itu dapat memperburuk ketegangan dan menggagalkan negosiasi dengan mengalihkan fokus dari isu nuklir ke isu regional sehingga membahayakan perundingan yang hanya dirancang untuk membahas isu nuklir,” ujar Ghodsi.
Spekulasi serangan asing muncul karena sejarah. Pada 2020, Israel melancarkan serangan siber yang mengganggu operasi Pelabuhan Shahid Rajaei. Namun, Kejaksaan Agung Iran membantah keterlibatan Israel dengan mengecam ”aktivitas daring” yang menyebarkan rumor sehingga merusak keamanan psikologis masyarakat. (AP)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul