PERGANTIAN KAPOLRI

Profil Komjen Suyudi, Prestasi di BNN, dan Soliditas Akpol Angkatan 1994

Posisi pejabat utama Polri dari tingkat mabes sampai kapolda saat ini diisi oleh Akpol Angkatan 1994. Hal ini dinilai memberikan soliditas yang baik bagi institusi.

01 Okt 2026 13:04 WIB · Politik & Hukum

ANTARA FOTO

Oleh Norbertus Arya Dwiangga Martiar

DPR menyetujui pengangkatan Komisaris Jenderal Suyudi Ario Seto sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia atau Kapolri menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Setelah menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional atau BNN selama kurang lebih setahun, lulusan Akademi Kepolisian Tahun 1994 itu akan segera berkantor di Trunojoyo.

Komjen Suyudi Ario Seto menjalani uji kelayakan dan kepatutan calon Kapolri di Komisi III DPR, Kamis (1/10/2026), berdasarkan Surat Presiden dari Presiden Prabowo Nomor R57/Surpres/09/2026 tertanggal 30 September 2026 perihal usulan pemberhentian dari jabatan Kapolri dan pengangkatan dalam jabatan Kapolri. Setelah menerima surpres tersebut, Badan Musyawarah DPR langsung menggelar rapat dan meminta Komisi III DPR melaksanakan uji kelayakan Suyudi sebagai calon Kapolri.

Suyudi pun diberi kesempatan untuk menyampaikan selama sekitar 22 menit visi dan misinya sebagai Kapolri. Setelah itu, Komisi III DPR langsung menyetujui secara aklamasi, Suyudi sebagai Kapolri.

Suyudi Ario Seto lahir pada 14 Juli 1973 di Jakarta merupakan lulusan Akpol 1994 dengan rekam jejak panjang di kepolisian. Selepas Akpol, ia pernah menjabat sebagai Kanit II Resmob Polda Metro Jaya, Kapolsek Metro Pasar Minggu, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, Kanit Jatanras Polda Metro Jaya, serta Kasat Reskrim Polres Metro Tangerang Kota.

Kepala BNN RI Komjen Suyudi Ario Seto (tengah) bersama tamu undangan menunjukkan  barang bukti ganja di lokasi pengungkapan kasus narkotika jaringan internasional di sebuah pergudangan di Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Jumat (2/7/2026). Dari gudang tersebut  sekitar 3,37 ton narkotika jenis ganja berhasil diamankan. Pengungkapan ini diawali dari adanya informasi yang didapatkan oleh tim gabungan Bea Cukai berkolaborasi dengan tim BNN RI pada hari Senin tanggal 29 Juni 2026 yang mencurigai adanya sebuah kontainer berasal dari Thailand dan telah tiba di Pelabuhan Tanjung Priok yang kemudian diketahui salah satunya dikirim ke Gresik.

 

 
Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Suyudi pernah menjabat sebagai Kapolsek Metro Penjaringan, Kasubbid Paminal Bidang Propam Polda Metro pada 2014, hingga ditugaskan menjabat Kapolres Majalengka, kemudian sebagai Kapolres Bogor, dan Kapolresta Bogor Kota. 

Sebagai perwira tinggi Polri, Suyudi pernah menjabat Wadirtipidsiber Bareskrim Polri pada 2020 dan Penyidik Tindak Pidana Utama Tingkat II Bareskrim Polri. Pada 2023 Suyudi diangkat menjadi Wakapolda Metro Jaya dan pada 2024 ditunjuk sebagai Kapolda Banten. Ia mengemban tugas sebagai Kepala BNN sejak 25 Agustus 2025 hingga kini terpilih sebagai calon Kapolri.

Ketika menjabat sebagai Kepala BNN, beberapa operasi besar narkoba dilakukan oleh BNN. Delapan belas hari sejak ia dilantik sebagai Kepala BNN, selama periode Agustus-September 2025, terdapat 11 jaringan narkotika di berbagai daerah dengan 53 tersangka yang diungkap serta barang bukti ratusan kilogram berbagai jenis narkoba.

Pada Desember 2025, BNN memusnahkan barang bukti narkotika hasil pengungkapan kasus sepanjang periode Oktober–Desember 2025, meliputi 113.230,10 gram sabu; 318 ml sabu cair; 233.866,21 gram ganja; 5.044 butir dan 28,18 gram ekstasi; 3.911 ml prekursor cair: 1.064 gram prekursor padatan; 2.602 ml cairan bahan kimia; serta 1.300 gram bahan kimia padatan.

Dari jumlah tersebut, sebagian barang bukti disisihkan untuk pemeriksaan laboratorium dan keperluan penelitian, teknologi, atau pelatihan (iptek/diklat), yaitu 423,56 gram sabu; 11 ml sabu cair; 1.226,60 gram ganja; serta 41 butir dan 0,96 gram ekstasi.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Suyudi Ario Seto memusnahkan barang bukti narkoba di Kantor BNN, Jakarta, Senin (15/9/2025). BNN berhasil membongkar 11 jaringan pengedar narkoba di berbagai daerah dan menetapkan 53 tersangka. Pada periode Agustus sampai September 2025, BNN mengamankan barang bukti narkoba seberat 503.715,65 gram yang terdiri dari sabu 60.226,71 gram, sabu cair 352 milliliter, ganja 441.376,17 gram, ekstasi 2.134 butir atau 791,77 gram, kokain 1.321 gram, ganja sintetik 80 milliliter, bahan kimia padat 4.674,37 gram, dan bahan kimia cair 5.483 milliliter. Selain itu, BNN juga mengungkap kasus hasil tindak pidana pencucian uang (TPPU) jaringan Sutarnedi dkk di wilayah Palembang Sumatera Selatan dengan total nilai aset mencapai lebih dari Rp 52 miliar.

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA)
15-09-2025

Salah satu operasi besar BNN di bawah kepemimpinan Suyudi adalah Operasi Bersama Pemberantasan dan Pemulihan Kampung Narkoba secara serentak pada 5-7 November 2025, di berbagai wilayah Indonesia. Operasi dilakukan bersama-sama oleh BNN bersama Polri dan TNI.

Dalam operasi yang dilakukan pada 53 lokasi di 34 provinsi seluruh Indonesia, tim gabungan mengamankan 1.259 orang. Di Jakarta, operasi bersama itu dilakukan salah satunya di kawasan Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta. Pada puncak operasi yang dipimpin langsung oleh Suyudi, tim gabungan berhasil menyita 89.159,42 gram sabu, 91,53 gram ganja, 159 butir ekstasi, uang tunai Rp 1,4 miliar, dan uang palsu Rp 5,5 juta.

Kasus lain yang juga menarik perhatian adalah operasi gabungan BNN bersama Bea dan Cukai, TNI Angkatan Laut, Bareskrim Polri, Badan Intelijen Negara (BIN), dan Polda Kepulauan Riau pada Agustus 2026. Tim berhasil menggagalkan penyelundupan narkotika jenis ketamin seberat kurang lebih 1,3 ton di wilayah perairan Natuna, Kepulauan Riau, menggunakan kapal Fude/King Sun yang bergerak dari wilayah Teluk Thailand menuju perairan Indonesia.

Berikutnya adalah pengungkapan penyelundupan 2,6 ton narkotika jenis metamfetamina cair oleh BNN bersama Ditjen Bea dan Cukai. Narkotika golongan 1 tersebut yang dibawa oleh kapal MV Ocean Porter berbendera Tanzania di Perairan Karimun, Kepulauan Riau, pada 17 Agustus 2026. 

Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Suparman Marzuki (kiri) dan Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso hadir dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Panja Reformasi Kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan di Ruang Sidang Komisi III DPR, Jakarta, Kamis (4/12/2025). Dalam RDPU ini dihadirkan dosen dan pengamat dari Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Dr. Suparman Marzuki dan Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso. Dalam rapat ini membahas evaluasi dan urgensi dilakukannya reformasi sistemik di Kepolisian, Kejaksaan, dan Pengadilan. Pembahasan ini tak lepas dari skema program kerja pelaksanaan Reformasi di Kepolisian, Kejaksaan, dan Pengadilan. Pembahasan ini juga mengerucutkan tujuan reformasi sistemik di lembaga Kepolisian, Kejaksaan, dan Pengadilan. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO4-12-2025

Menurut Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso, pengungkapan, pembongkaran, penangkapan, dan penyitaan narkoba dalam jumlah yang besar merupakan prestasi Suyudi sebagai Kepala BNN. Tidak hanya menyasar pengedar narkoba di luar, Suyudi bekerja sama dengan Direktorat Tindak Pidana Narkoba Mabes Polri telah menangkap beberapa oknum polisi yang terlibat di dalam peredaran narkoba.

Maka, sambung Sugeng, ketika Suyudi diajukan Presiden menjadi Kapolri, hal itu tentu telah didasari dengan beberapa pertimbangan, baik terkait prestasi maupun catatan lain. Dengan penunjukan itu, berarti yang bersangkutan tidak memiliki masalah atau hambatan sebagai calon Kapolri.

”Sebagai anggota Polri, ia telah pernah memimpin institusi BNN, kemudian juga pernah sebagai Kapolda Banten, sebelumnya juga Wakapolda Metro Jaya. Saya rasa itu menjadi satu catatan yang cukup bahwa yang bersangkutan memahami juga manajemen pengelolaan satuan yang besar, ya, termasuk Polri,” tutur Sugeng.

Angkatan 1994

Di sisi lain, kata Sugeng, Suyudi merupakan lulusan Akpol angkatan 1994. Saat ini, menurut Sugeng, Akpol Angkatan 1994 tengah bersinar karena setidaknya terdapat 14 orang dari Akpol Angkatan 1994 yang menduduki jabatan strategis, termasuk Suyudi. Sebagian besar dari mereka kini menjabat sebagai kapolda.

Beberapa di antaranya adalah Inspektur Jenderal (Irjen) Whisnu Hermawan Februanto yang menjabat sebagai Kapolda Sumatera Utara, Komjen Asep Edi Suheri yang menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya, Irjen Pipit Rismanto sebagai Kapolda Jawa Barat, dan Irjen Anggoro Sukartono yang kini menjabat sebagai Kapolda DI Yogyakarta. Selain itu terdapat Komjen Roycke Harry Langie yang kini menjabat sebagai Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi (Astamaops).

Calon Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto memberi hormat saat Rapat Paripurna Ke-8 DPR Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026-2027 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (1/10/2026). DPR menyetujui Komjen Pol Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri menggantikan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, setelah melalui uji kepatutan dan kelayakan di Komisi III DPR. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/sgd/agr

”Ini sesuatu yang menarik, posisi pejabat utama Polri dari tingkat mabes sampai kapolda ini diisi oleh Angkatan 94. Menurut saya, ini akan menjadi satu kekuatan yang sangat baik buat institusi Polri, soliditasnya akan kuat,” terang Sugeng.

Reformasi kultural

Setelah dilantik, kata Sugeng, tugas besar Kapolri adalah meneruskan reformasi kultural yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah Polri. Kapolri diharapkan bisa mengarahkan 400.000-an anggotanya agar menjadi polisi yang humanis, profesional, akuntabel, dan sebagai penjaga demokrasi.

”Gaya kepemimpinan Pak Listyo yang merangkul semua kalangan, kemudian pendekatan yang humanis, saya pikir ini harus diteruskan dan ditindaklanjuti,” ujar Sugeng.

Secara terpisah, pengamat kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies, Bambang Rukminto, berpandangan, pergantian Kapolri merupakan hal yang wajar karena organisasi sebesar Polri membutuhkan penyegaran. Terlebih, Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo telah memimpin Polri selama 6 tahun.

Komjen Suyudi Ario Seto saat uji kelayakan dan kepatutan sebagai calon Kapolri, di ruang rapat Komisi III DPR, di gedung DPR, Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Menurut Bambang, Kapolri ke depan memiliki tantangan besar dalam pembenahan organisasi, kemudian melaksanakan reformasi kultural yang belum tuntas, serta beradaptasi mengikuti perkembangan teknologi, terutama kecerdasan buatan. Polri akan mendapatkan masalah besar jika tidak segera beradaptasi dengan ekspektasi masyarakat yang tinggi.

Tantangan lainnya adalah terkait hegemoni kekuasaan melalui Polri. Untuk itu, tidak bisa tidak Kapolri harus bisa membawa kepolisian menjadi institusi yang independen.

”Independensi Kapolri ini bukan berarti berseberangan atau tidak taat kepada Presiden, tetapi bagaimana membawa Polri untuk selalu taat pada konstitusi,” kata Bambang.


Kerabat Kerja

Penulis:

Norbertus Arya Dwiangga Martiar
 | 

Editor:

Cyprianus Anto Saptowalyono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase