OLAHRAGA

Kompleksitas Piala Dunia 2026

Sepak bola bukan sekadar pertandingan, melainkan ruang tempat bertemunya berbagai kompleksitas.

14 Mei 2026 08:00 WIB · Artikel Opini

Kompas/Heryunanto

Oleh Meistra Budiasa

Piala dunia FIFA 2026 akan segera dimulai, tetapi proses menuju hari puncaknya dipenuhi oleh beragam dinamika mulai di babak kualifikasi sampai ke situasi geopolitik. Dinamika terjadi di berbagai sisi dan seperti saling bersahutan menguras energi para pencinta sepak bola. Meski demikian masyarakat tetap antusias menanti gelaran Piala Dunia melalui berbagai kanal digital atau layar kaca untuk menyaksikan para pemain bola kelas dunia berlaga.

Apa yang terjadi sebelum ajang ini berlangsung baik, dari sisi kompetisi olahraga maupun dinamika di luarnya telah membuat Piala Dunia 2026 mendapat sorotan intens publik dengan kompleksitas isu yang mengitarinya.

Hal menarik dalam perjalanan menuju Piala Dunia FIFA 2026 sudah terjadi sebelum turnamen dimulai. Pada babak kualifikasi, banyak kejutan memperlihatkan bagaimana adanya  perubahan lanskap sepak bola dunia. Negara-negara yang sebelumnya jarang diperhitungkan seperti Jordania dan Uzbekistan berhasil lolos ke putaran final untuk pertama kalinya. Kemudian Curacao dan Tanjung Verde yang juga lolos menjadi simbol hadirnya kekuatan baru di luar peta persepakbolaan dunia selama ini.

Di sisi lain, timnas Indonesia menurunkan pemain diaspora yang menghadirkan wajah baru sepak bola nasional. Kehadiran para pemain diaspora tidak hanya melahirkan optimisme, tetapi juga membentuk imajinasi baru tentang identitas kebangsaan. Ditambah peran media sosial yang begitu masif merepresentasikan para pemain tersebut membuat kedekatan emosional antara publik dan para pemain diaspora semakin terasa.

Proses naturalisasi pun tidak lagi dipandang sebagai strategi teknis, melainkan sebagai simbol harapan baru bagi masyarakat yang selama ini merindukan kehadiran Indonesia di panggung sepak bola dunia. Hal itu terjawab dengan menciptakan sejarah baru lolos sampai putaran keempat kualifikasi piala dunia 2026 zona Asia, dengan bumbu drama terutama saat pergantian pelatih dari Shin Tae-yong ke Patrick Kluivert.

Fenomena timnas pada kualifikasi Piala Dunia 2026 diandai antusiasme penonton di stadion utama Gelora Bung Karno. Jumlah penonton rata-rata mencapai 60 ribuan penonton tiap laga. Namun, tidak sedikit masyarakat berharap wajah pemain nasional yang berlaga pada liga lokal lebih banyak diturunkan karena akan terasa pembinaannya atau regenerasi.

Kompleksitas tuan rumah

Piala Dunia tahun ini diikuti oleh 48  negara dibagi menjadi 12 grup, yang mnejadi jumlah peserta dan grup terbanyak sejak ajang ini dimulai tahun 1930. Ajang ini berlangsung di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada menjadikan kompetisi ini semakin universal serta meriah untuk disaksikan.

Namun, banyak kompleksitas terjadi menjelang Piala Dunia 2026 ini, mulai dari perang terhadap kartel narkoba di Meksiko, sampai konflik Timur Tengah yang dipicu serangan Amerika Serikat ke Iran yang berdampak pada geopolitik global. Di tengah euforia itu, negara-negara tuan rumah menghadapi persoalan kompleks. Sebagai penyelenggara bersama, mereka tidak hanya harus mempersiapkan stadion dan infrastruktur, tetapi juga berhadapan dengan tantangan sosial, ekonomi, geopolitik dan keamanan yang semakin tinggi.

Di Meksiko, isu keamanan menjadi perhatian utama. Perang melawan kartel narkoba dan perlawanannya meninggalkan persoalan stabilitas sosial yang belum sepenuhnya selesai. Ancaman keamanan tidak terduga bisa saja terjadi, tetapi pemerintah sudah siap dengan menurunkan ratusan ribu aparatnya di setiap titik penting kota-kota di negara tersebut. Ajang ini menjadi arena untuk mempertaruhkan citra negara di mata dunia. Pemerintah dan penyelenggara ingin  menghadirkan wajah Meksiko yang aman, tetapi perhatian global terhadap isu kriminalitas membuat kompleksitas tersebut sulit sepenuhnya dihilangkan dari narasi Piala Dunia 2026.

Sementara itu, AS menghadapi tantangan yang sangat kompleks. Sebagai pusat penyelenggaraan dan sebagian besar pertandingan berlangsung di wilayahnya, AS dibayangi berbagai persoalan internal, mulai dari imigrasi, mahalnya akomodasi, hingga sangat mahalnya harga tiket pertandingan yang menuai banyak keluhan. Perkembangan terakhir, belum terlihat peningkatan okupansi hotel, membuat situasi tidak pasti bagi industri wisata di sana.

Ilustrasi Gagal Piala dunia, World cup, worldcup, sepak bola

Kompleksitas tersebut semakin terasa ketika situasi geopolitik global ikut mewarnai atmosfer Piala Dunia. Ketegangan antara AS dan Iran memunculkan perdebatan mengenai keamanan tim nasional Iran. Sempat beredar kabar untuk memindahkan laga Iran ke Meksiko karena alasan keamanan dan persoalan visa. Namun, pertandingan fase grup Iran yang tergabung bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru di Grup G tetap dilaksanakan di AS.

Meski tantangan tidak sebesar Meksiko dan AS, Kanada juga memiliki persoalan terkait pembiayaan dan kesiapan infrastruktur kota tuan rumah. Penyelenggaraan di dua kota, yakni Toronto dan Vancouver memunculkan perdebatan mengenai besarnya anggaran yang harus dikeluarkan, dengan kenaikan biaya persiapan, persoalan transportasi, hingga dampak ekonomi bagi masyarakat lokal menjadi bagian dari diskusi publik menjelang Piala Dunia 2026.

Berbagai hiruk pikuk itu tidak menutup kemeriahan acara pembukaan yang akan dilakukan serentak di tiga negara tuan rumah dengan tampilnya para pesohor, seperti Lisa Blackpink, Katty Perry, Michael Bubble, dan artis papan atas lainnya. Hal ini mencerminkan kalau wajah Piala Dunia semakin melebur dengan industri hiburan global dan semuanya akan disiarkan langsung melalui berbagai kanal media baik konvensional maupun digital.

Imajinasi global 

Dinamika menjelang Piala Dunia 2026 memperlihatkan, sepak bola bukan sekadar pertandingan, melainkan ruang tempat bertemunya berbagai kompleksitas. Drama kualifikasi, persoalan keamanan dan imigrasi, hingga dinamika geopolitik ekonomi global. Hal ini seperti menunjukkan bahwa Piala Dunia semakin dipenuhi oleh berbagai lapisan isu seperti sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang saling berkelindan.

Dalam pandangan Sut Jhally (1989), olahraga modern bekerja melalui produksi emosi, harapan, dan imajinasi kolektif yang terus disirkulasikan oleh media. Karena itu, di balik kemeriahan dan optimisme yang dipertontonkan, tersimpan berbagai realitas sosial, ekonomi, dan politik yang ikut membentuk wajah Piala Dunia. Pada titik inilah sepak bola tidak lagi sekadar menang dan kalah di lapangan, tetapi bagaimana dunia hari ini sedang dilihat, dibayangkan, dan dirasakan bersama melalui sebuah permainan.

Meistra Budiasa, Pengamat Komunikasi Olahraga; Dekan FEBIS Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta


Kerabat Kerja

Penulis:

Meistra Budiasa
 | 

Editor:

Johanes Waskita Utama, Neli Triana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase