SIARAN PIALA DUNIA

Piala Dunia Menjangkau Nusantara

Pembangunan infrastruktur penyiaran harus terus dilanjutkan dan diperkuat untuk menjawab tantangan blank spot dan menjaga ketahanan informasi nasional.

29 Apr 2026 08:00 WIB · Artikel Opini

Kompas/Heryunanto

Oleh Bernardus Satriyo Dharmanto

Gelaran akbar Piala Dunia 2026 kian dekat. Publik Indonesia memiliki harapan besar sekaligus pertanyaan mendasar, apakah melalui TVRI siaran ini benar-benar menjangkau penjuru Nusantara?

Opini di Harian Kompas 23 April 2026 berjudul ”Piala Dunia dan Tantangan Zona Tanpa Jaringan”, ditulis oleh Abdul Rajak Babuntai, menunjukkan bahwa transformasi digital penyiaran masih menghadapi berbagai tantangan. Meskipun migrasi dari analog ke digital (ASO) telah dilakukan secara nasional sejak tahun 2022, masih ada beberapa wilayah memiliki akses sangat terbatas.

Tantangan ini menjadi dasar bagi langkah-langkah strategis yang sedang dijalankan TVRI sebagai pemegang hak siar resmi Piala Dunia 2026 untuk wilayah Indonesia. Tidak sekadar menjalankan fungsi penyiaran, TVRI memegang tugas untuk memastikan dan memprioritaskan bahwa akses informasi dan hiburan sehat berkualitas dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, walau tidak mudah dan perlu strategi yang jelas.

TVRI menyadari bahwa kesenjangan akses di beberapa wilayah memang masih ada. Masyarakat di sana masih berupaya mencari akses siaran, khususnya di wilayah terdepan, terluar, tertinggal (3T), dan daerah yang memiliki kontur sulit dijangkau sinyal siaran TV digital. Ini terjadi di beberapa wilayah layanan siar di Aceh, Sumatera Utara, Sulawesi, Maluku, NTT, dan Papua. Namun, TVRI terus melakukan pendekatan, menggabungkan aspek kekuatan infrastruktur, kolaborasi, pengembangan teknologi, dan intervensi kebijakan.

Pendekatan terintegrasi

TVRI memahami bahwa blank spot bukan sekadar masalah teknis, melainkan juga menyangkut keadilan akses informasi. Berbagai pendekatan terintegrasi sedang dilakukan. Dari sisi infrastruktur, TVRI terus melakukan percepatan penguatan jaringan transmisi prioritas di berbagai wilayah, melalui optimalisasi anggaran yang tersedia, termasuk memanfaatkan skema pembiayaan negara dan sumber pendapatan negara bukan pajak (PNBP). Selain itu, penggunaan transmisi portabel menjadi solusi cepat untuk menjangkau wilayah padat penduduk yang belum terlayani secara optimal.

Kerja sama dengan pemerintah daerah, LPP RRI, kantor berita Antara, operator TV kabel lokal, operator satelit (DTH), serta berbagai pemangku kepentingan lainnya merupakan hal krusial yang terus ditingkatkan. Pendekatan ini untuk menegaskan bahwa penyiaran publik adalah tanggung jawab bersama, bukan semata tugas satu lembaga.

Solusi berbasis komunitas juga dihadirkan. Penyediaan siaran di ruang-ruang publik seperti kantor desa, sekolah, hingga fasilitas umum seperti pelabuhan, bandar udara, menjadi alternatif konkret agar masyarakat tetap dapat menikmati pertandingan, meskipun akses individual masih terbatas.

Langkah inovasi di tingkat regulasi dan teknologi merupakan strategi penting yang terus dilakukan TVRI untuk memperluas jangkauan, melalui implementasi Single Frequency Network (SFN), penyesuaian parameter teknis bersama regulator (Komdigi), serta uji coba teknologi baru antara lain 5G Broadcast, dan DVB Native IP (DVB-NIP). Di saat yang sama, sosialisasi langsung kepada masyarakat juga diperkuat, untuk memastikan akses siaran dapat diterima secara optimal.

Ilustrasi TVRI menangkap siaran Piala Dunia 2026

Menjaga prinsip siaran ”gratis”

Wajar apabila muncul kekhawatiran adanya potensi komersialisasi melalui platform digital seperti Over the Top (OTT) dan IPTV. Meskipun demikian, TVRI menegaskan komitmennya bahwa siaran utama Piala Dunia 2026 tetap diselenggarakan secara free-to-air (FTA) melalui jaringan TV digital terestrial. Saat ini layanan telah menjangkau 75,08 persen populasi Indonesia di 152 dari total 225 wilayah layanan siar, dan cakupan ini akan terus ditingkatkan secara bertahap.

Pemanfaatan platform digital berfungsi sebagai pelengkap, untuk memperluas akses masyarakat, bukan untuk menggantikan siaran FTA, dan membatasi atau mengomersialisasi tontonan publik. Masyarakat tidak perlu khawatir bahwa hak untuk menikmati siaran gratis akan tergerus oleh kepentingan komersial.

TVRI melihat bahwa momentum Piala Dunia adalah kesempatan strategis untuk memperkuat kedaulatan digital, khususnya penyiaran nasional. Di tengah derasnya arus platform global dan konten digital lintas batas, kehadiran negara dalam penyiaran publik yang kuat menjadi semakin relevan dan dibutuhkan. TVRI dengan kekuatan jangkauan nasional, dukungan platform media baru, dan mandat publik akan semaksimal mungkin berusaha memangku peran strategis penjaga akses informasi yang adil, dapat dipercaya, dan merata.

Pendanaan publik per kapita TVRI masih sangat rendah, yaitu sekitar 0,25 dolar AS (Rp 4.250) per penduduk per tahun, jauh di bawah BBC Inggris yang sekitar 97 dolar AS, NHK Jepang sekitar 48 dolar AS, dan ABC Australia sekitar 46 dolar AS. Justru karena itu, pembangunan infrastruktur penyiaran harus terus dilanjutkan dan diperkuat untuk menjawab tantangan blank spot serta menjaga ketahanan informasi nasional.

Tuntutan ini bukan hanya memerlukan pendekatan teknologi dan kebijakan yang adaptif, melainkan juga komitmen pada prinsip keadilan akses informasi. Kami di TVRI terus berusaha keras memastikan seluruh pertandingan Piala Dunia 2026 dapat disaksikan oleh masyarakat di seluruh Nusantara, sebagai wujud menjaga kebersamaan dan persatuan bangsa.

Bernardus Satriyo Dharmanto Direktur Teknik LPP TVRI


Kerabat Kerja

Penulis:

Bernardus Satriyo Dharmanto
 | 

Editor:

Johanes Waskita Utama
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto