Kompolnas: Polisi yang Terlibat Penipuan Masuk Akpol di Pekalongan Harus Dipecat

Praktik titip-menitip untuk masuk Akpol dari keluarga Polri ataupun elite politik ditengarai menjadi penyebab polisi di Pekalongan menipu.

29 Okt 2025 20:17 WIB · Politik & Hukum

KOMPAS/ADITYA PUTRA PERDANA

Oleh Dian Dewi Purnamasari

JAKARTA, KOMPAS - Komisi Kepolisian Nasional atau Kompolnas meminta Divisi Profesi dan Pengamanan Polri menindak tegas polisi di Pekalongan, Jawa Tengah yang terlibat dugaan penipuan masuk Akademi Kepolisian atau Akpol. Kasus penipuan ini ditengarai terjadi karena praktik titip-menitip dari keluarga Polri atau elite politik untuk masuk Akpol masih tumbuh subur.

Anggota Kompolnas Mohammad Choirul Anam saat dihubungi, Rabu (29/10/2026), prihatin dan mengecam keras adanya kasus penipuan masuk Akademi Kepolisian (Akpol) di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Padahal, sudah berkali-kali anggota polisi diingatkan untuk tidak melakukan praktik memalukan seperti itu.

"Ini tidak hanya merugikan institusi kepolisian untuk saat ini, tetapi juga untuk jangka panjang. Sebab, menjadi polisi seharusnya melalui seleksi yang fair dan obyektif," kata Anam.

Seperti dilansir dari Kompas.com, seorang warga Pekalongan, Jawa Tengah, bernama Dwi Purwanto, mengalami kerugian mencapai Rp 2,6 miliar setelah memercayai janji empat orang yang menjanjikan anaknya bisa masuk Akpol melalui jalur khusus "kuota Kapolri".

Komisioner Kompolnas Choirul Anam saat diwawancarai di Markas Polda Sumsel, Palembang, Rabu (18/12/2024).

Seorang anggota aktif Polres Pekalongan yaitu Ajun Inspektur Polisi Dua (Aipda) F diduga terlibat dalam kasus tersebut. Sebab, F yang pertama kali menawarkan bantuan agar anak Dwi bisa diterima di Akpol lewat jalur khusus tersebut.

Tak hanya mengirimkan pesan singkat, F juga menyambangi rumah Dwi bersama Brigadir Polisi Kepala (Bripka) A yang mengaku mantan Anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror. Keduanya meyakinkan korban dengan mengaku memiliki akses langsung ke seorang purnawirawan jenderal polisi bernama Babe yang bisa memastikan kelulusan taruna melalui jalur istimewa.

Kompolnas mendukung Divisi Propam Polri untuk segera mengambil tindakan tegas terhadap para polisi yang terlibat. Bahkan, Choirul Anam meminta polisi yang terbukti terlibat, dipecat.

Kejadian penipuan masuk Akpol ini pun membuat Kompolnas kembali mengingatkan masyarakat agar tidak tergiur jalan pintas untuk masuk Akpol. Apalagi, sistem seleksi masuk Akpol saat ini, sudah sangat terbuka. Seluruh tahapan bisa dicek sendiri, terutama oleh para peserta yang mengikuti seleksi.

Para calon perwira remaja (capaja) dari Akademi Kepolisian menampilkan yel-yel usai pelantikan dan pengambilan sumpah 2000 capaja dari matra TNI dan kepolisian dalam Upacara Prasetya Perwira (Praspa) TNI-Polri tahun 2025 yang digelar di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/7/2025). Para capaja yang dilantik dan diambil sumpah terdiri dari 827 capaja Akademi Militer, 433 capaja Akademi Angkatan Laut, 293 capaja Akademi Angkatan Udara, serta 447 capaja Akademi Kepolisian. Kompas/Hendra A Setyawan

Sebagai contoh, dalam tahapan tes fisik, ada indikator penilaian yang disebutkan sejak awal. Saat tes sit up, misalnya, sudah ditentukan standar minimal bisa lolos dengan skor atau poin tertentu.

"Sudah ada satu mekanisme yang bisa dikontrol akuntabilitas dan transparansinya antarpeserta. Jadi, bagi masyarakat, mohon ini diperhatikan. Kalau ada iming-iming dan sebagainya, percayalah bahwa itu akan merugikan masyarakat sendiri, maupun institusi kepolisian yang profesional," ujarnya.

Meski proses seleksi sudah lebih terbuka, Choirul Anam tetap mendorong Mabes Polri untuk meningkatkan akuntabilitas dan transparansinya setelah kejadian penipuan di Pekalongan. Dengan demikian, problem penipuan serupa serupa tidak kembali terulang di masa depan.

Sementara itu, Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Nasir Djamil meminta masyarakat yang ditipu praktik jual-beli kursi Akpol untuk segera melaporkannya ke kepolisian. "Kasus dugaan penipuan itu sudah masuk tindak pidana umum yang bisa dilaporkan ke aparat penegak hukum. Jika korban punya bukti-bukti yang valid seperti bukti transaksi perbankan dan sebagainya, silakan dilaporkan," ujarnya.

Nasir Djamil

Meski ada kejadian penipuan tersebut, Nasir melihat proses seleksi masuk Akpol saat ini, sudah lebih terbuka. Tak hanya itu, prosesnya juga diawasi tidak hanya oleh internal kepolisian tetapi juga pihak eksternal.

Walakin, ia menyadari pasti ada orang-orang yang memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan dalam seleksi Akpol.

"Informasi bahwa seleksi Akpol terbuka, dan tidak dipungut biaya tinggi sudah sering disampaikan oleh Polri. Namun, pihak penipu juga pintar karena dia mencari sasaran yang mudah untuk diperdaya seperti orang-orang yang tidak punya akses informasi," tambahnya.

Dengan melaporkan kasus penipuan itu kepada aparat penegak hukum, duduk perkara kasusnya pun akan terbuka dengan terang-benderang. Seluruh pihak yang terbukti bersalah dan terlibat dalam kasus itu pun harus diproses hukum.

Perseonel polisi berjalan meninggalkan area Lapangan Monas, Jakarta, usai mengikuti Apel Siaga Anti Premanisme di Wilayah hukum Polda Metro Jaya, Jumat (9/5/2025). Pasukan gabungan yang terdiri dari 663 anggota Polri, 306 personel TNI (Angkatan Darat, Laut, dan Udara), serta 30 petugas dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengikuti Apel Siaga Anti Premanisme di Wilayah hukum Polda Metro Jaya. Operasi ini menargetkan semua bentuk aksi premanisme yang dilakukan oleh individu maupun kelompok. Para pelaku aksi premanisme akan dikenakan hukum secara tegas. Operasi ini bertujuan untuk menciptakan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang kondusif dan juga untuk mendukung iklim investasi yang stabil. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang tertuang dalam Laporan Statistik Kriminal 2024 menunjukkan, jumlah kejahatan (crime total) meningkat cukup drastis. Pada 2023, ada 584.991 kejadian kejahatan. Angka ini meningkat dari 2022, yakni dengan 372.965 kejadian. Operasi ini akan berlangsung selama 15 hari mulai dari 9 hingga 23 Mei 2025.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
09-05-2025

Meski Kompolnas dan Komisi III DPR melihat seleksi masuk Akpol sudah lebih transparan, akuntabel, dan diawasi ketat, pengamat kepolisian Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto justru menerima informasi sebaliknya.

Menurutnya, masih ada kuota atau jatah bagi keluarga Polri dalam seleksi Akpol. Selain itu, ada pula titipan-titipan masuk Akpol dari elite politik. Praktik itulah yang ditengarainya menjadi dalih bagi dua polisi di Pekalongan untuk memberikan iming-iming kepada korban.

"Upaya transparansi dalam proses rekrutmen sudah dilaksanakan, tetapi belum maksimal. Makanya, ke depan, harusnya dibuka semua, jatah keluarga maupun titipan atau tambahan kuota itu harus ditiadakan," kata Bambang.

Bambang menambahkan, saat menjabat Asisten Sumber Daya Manusia Polri, Komisaris Jenderal Dedy Prasetyo yang saat ini menjabat sebagai Wakil Kapolri, sudah pernah mencoba untuk membuat seleksi Akpol lebih terbuka, dengan menayangkan proses seleksi jasmani dan pengumuman hasilnya secara live streaming. Upaya itu layak diapresiasi, meski tidak cukup. Sebab, peluang kecurangan terjadi bukan hanya pada tes jasmani, tetapi juga pada tes psikotes, maupun mental idelogi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dian Dewi Purnamasari
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Yuliana Karim