Lumpur anoda, sebagai produk sampingan dari pengolahan konsentrat Freeport Indonesia, kini dimurnikan di dalam negeri untuk menghasilkan logam mulia.
23 Mar 2025 10:00 WIB · Ekonomi
Ribuan kilometer antara Papua Tengah dan Jawa Timur bukan sekadar jarak dalam sistem metrik, tetapi juga memiliki arti dalam perkembangan industri pertambangan dan hilirisasi. Terbaru, keduanya menjadi bagian dari alur produksi emas seiring diresmikannya pabrik pemurnian logam mulia PT Freeport Indonesia di Gresik, Jatim.
PT Freeport Indonesia (PTFI), yang telah 58 tahun beroperasi di Indonesia, selama ini menambang bijih di Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, untuk diproses menjadi konsentrat yang mengandung mineral tembaga, emas, dan perak. Produk konsentrat itu lalu dikapalkan dari Papua Tengah ke pabrik-pabrik pemurnian.
Selain untuk pasar ekspor, sebagian konsentrat itu diolah di smelter PT Smelting di Gresik menjadi katoda tembaga. Smelter milik PTFI dan Mitsubishi Materials Corporation (MMC) itu pertama kali beroperasi pada 1998. Dalam ekspansi kelima pada 2024, PTFI menambah kepemilikan saham di PT Smelting menjadi 60 persen.
Seiring komitmen hilirisasi, PTFI membangun smelter lain di Gresik, tepatnya di Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE). Smelter single line terbesar di dunia, dengan kapasitas 1,7 juta ton katoda tembaga itu diresmikan pada September 2024. Namun, kini tengah dalam perbaikan pascakebakaran di pabrik asam sulfat.
Salah satu bagian dari smelter itu adalah pabrik pemurnian logam mulia atau precious metal refinery (PMR). Dalam prosesnya, lumpur anoda, salah satu produk sampingan dari pengolahan konsentrat, dimurnikan menjadi emas, perak batangan, dan sejumlah logam dalam kelompok platinum (platinum group metals).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/17/7e9ff3e7-7156-494c-8a83-d39744235d4e_jpg.jpg)
Total kapasitas produksi pabrik tersebut yakni 50 ton emas per tahun. Namun, pada 2025, produksi diperkirakan 30 ton emas per tahun karena smelter masih dalam tahap perbaikan. Lumpur anoda, yang selama ini diekspor PT Smelting ke Jepang, kini dapat dimurnikan di PMR smelter di JIIPE. Adapun kontrak sudah dilakukan PTFI dengan PT Antam Tbk yang bakal menyerap 30 ton emas pada tahun ini.
Pada peresmian PMR di JIIPE, Gresik, pada Senin (17/3/2025), Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya hilirisasi, baik pertambangan maupun sektor-sektor lain yang juga tengah disiapkan. Hal ini tidak hanya menghasilkan devisa besar, tetapi juga terciptanya lapangan pekerjaan.
Menurutnya, menjadi tugas bersama dalam memastikan pengelolaan sumber daya alam Indonesia dengan baik, tertib, transparan, dan disertai tata kelola yang baik. "Ini nanti akan menjadi kekuatan dan energi baru bagi masa depan Indonesia," kata Prabowo.
Prabowo juga menyambut koneksi hilirisasi antara produk pertambangan PTFI di Papua Tengah untuk kemudian diolah dan dimurnikan di Gresik. Ia menyoroti realisasi investasi di Jatim yang terus berkembang. "Saya terbang ini, sudah tiap bulan, ada saja pabrik baru, gedung baru. Luar biasa Jawa Timur," ujarnya.
Turut hadir dalam acara tersebut antara lain Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Menteri BUMN Erick Thohir, Presiden Direktur PTFI Tony Wenas, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, dan Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/17/81accaeb-7071-4a61-a639-558fc73eeb03_jpg.jpg)
Menurut data PTFI, saat sudah beroperasi dengan kapasitas penuh, dalam setahun, PMR mampu menghasilkan 50 ton emas, 210 ton perak, 0,03 ton platinum, 0,375 ton paladium, 285 ton selenium, 220 ton bismut, dan 2.200 ton timbal. Adapun total biaya pembangunan PMR yakni sekitar 630 juta dollar AS (Rp 10,4 triliun dalam kurs Rp 16.494 per dollar AS).
Bahlil menuturkan, dengan berproduksinya pabrik pemurnian logam mulia tersebut, akan ada tambahan penerimaan negara secara signifikan. Ia dan tim masih menghitung angka rinci potensi nilai peningkatan pendapatan negara tersebut.
"Ini kan kan bagian dalam rangka meningkatkan pendapatan negara, meningkatkan competitiveness (daya saing) sekaligus multiplier effect (dampak ikutan) dan devisa kita. Kalau kita jual emas, orang beli pakai dollar kan devisa," kata Bahlil.
Tony menjelaskan, lantaran smelter masih dalam tahap perbaikan, maka produksi di PMR belum optimal. Rencana produksi 50 ton emas per tahun pun diperkirakan baru bisa terwujud tahun depan. Adapun pihaknya terus mengupayakan percepatan perbaikan smelter sehingga diharapkan mulai beroperasi kembali pada Juni 2025.
"(PMR) ini menjadi pabrik emas dengan teknologi hydrometallurgy yang terbesar di dunia. Harapannya, tumbuh industri yang lebih hilir, baik yang menggunakan tembaga ataupun emas sebagai bahan dasar industri, atau untuk emas ritel, termasuk disimpan di bank emas, yang akan membentuk ekosistem industri emas Indonesia," ujar Tony.
Pada Februari 2025, PTFI mengirim perdana emas batangan dari PMR ke Antam, sebanyak 125 kilogram (kg) senilai Rp 207 miliar, dengan kemurnian 99,99 persen. Transaksi itu bagian dari kerja sama lima tahun kedua perusahaan BUMN dengan nilai total mencapai 12,5 miliar dollar AS (Rp 206,18 triliun dalam kurs Rp 16.494 per dollar AS).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/19/0d214d10-133d-4f38-9a2e-7265fa2c2124_jpg.jpg)
Maroef menuturkan, MIND ID tak hanya berfokus pada eksplorasi dan pertambangan, tetapi juga terus berupaya melengkapi rantai pasok pengolahan mineral dan batu bara nasional. Hal tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam negeri serta mengurangi ketergantungan pada impor.
Kerja sama antara PTFI dan Antam dilakukan guna mengoptimalkan pemanfaatan emas domestik dan mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor. Ke depan, saat PMR beroperasi dengan kapasitas penuh, kerja sama kedua perusahaan itu juga bakal terus memenuhi kebutuhan emas domestik yang mencapai 70 ton per tahun.
Peneliti Alpha Research Database Ferdy Hasiman berpendapat, esensi hilirisasi sejatinya adanya dampak multiplier effect yang dirasakan masyarakat. Penciptaan lapangan kerja yang besar pun bakal terjadi jika industri turunan tembaga ataupun emas terus tumbuh atau mampu diserap industri dalam negeri.
Oleh karena itu, yang menjadi pekerjaan rumah berikutnya ialah bagaimana serapan produk-produk hilirisasi bisa meningkat. Artinya, upaya peningkatan nilai tambah tak berhenti sampai hilirisasi, melainkan industrialisasi. Daya saing industri-industri dalam negeri mesti terus ditingkatkan.
Strategi dan kebijakan pemerintah dalam peningkatan nilai tambah sumber daya alam, kata Ferdy, perlu bersifat jangka panjang. "Dengan menyiapkan industri yang lebih hilir lagi, nilai tambah akan berkali lipat lebih tinggi. Di samping itu, kebijakan-kebijakan pemerintah juga jangan sampai kontraproduktif dengan dunia usaha," kata Ferdy.
Dioperasikannya pabrik pemurnian logam mulia milik PTFI di Gresik menjadi satu tahapan peningkatan nilai tambang produk pertambangan mineral dan batubara. Selanjutnya ialah bagaimana memastikan dampak ikutan hilirisasi dapat mendongkrak kesejahteraan masyarakat melalui industri-industri hilir yang tumbuh, sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Penulis:
Aditya Putra PerdanaEditor:
Kusnadi .