Sejumlah 187.306 kader bakal memilih "nakhoda" PSI periode berikutnya dengan menggunakan mekanisme e-voting.
11 Jul 2025 20:00 WIB · Politik & Hukum
JAKARTA, KOMPAS — Partai Solidaritas Indonesia atau PSI menyiapkan sejumlah kejutan menjelang Kongres yang digelar 19–20 Juli 2025 di Solo, Jawa Tengah. Selain akan mengumumkan ketua umum hasil e-voting, PSI juga menjanjikan pengumuman sejumlah tokoh baru yang bergabung dan rebranding partai. Sosok Presiden ke-7 RI Joko Widodo disebut masih bisa berperan, baik di depan panggung maupun di belakang layar.
Ketua Steering Committee Kongres PSI Andy Budiman mengatakan, proses pemilihan Ketua Umum PSI berbeda dengan partai lain karena menggunakan sistem e-vote dengan prinsip one man, one vote. Hingga kini, sebanyak 187.306 kader PSI telah masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) dan dapat memilih ketua umum secara daring melalui vote.psi.id pada 12–18 Juli 2025.
”Ide awalnya ini dulu datang dari Mas Kaesang sendiri. Jadi, Mas Kaesang bilang, ’saya ingin ketika saya enggak jadi ketua umum lagi, saya sudah meletakkan satu dasar yang saya anggap baik di PSI.’ Yang dianggap baik itu adalah satu sistem di mana ketua umum itu dipilih oleh seluruh anggota,” ujar Andy dalam wawancara khusus dengan Kompas untuk program podcast ”Gercep”, di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta, Jumat (11/7/2025).
Dalam podcast Gercep, Andy membeberkan persiapan Pemilu Raya PSI dan peran sentral Jokowi di PSI, hingga alasan PSI menggelar Kongres di Solo, Jawa Tengah, yang mana lekat dengan ”kandang” Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Disinggung pula sejauh mana PSI melihat hubungan Jokowi dan Presiden Prabowo Subianto saat ini yang disebut-sebut adanya ”matahari kembar”.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/13/fad26d9e-7191-44b8-b406-ed7f1415578a_jpg.jpg)
Berkaitan dengan persiapan Pemilu Raya PSI, diketahui hanya ada tiga kader PSI yang mendaftar sebagai calon ketua umum PSI. Mereka adalah Ronald A Sinaga yang akrab disapa Bro Ron, Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep yang merupakan putra dari Presiden Jokowi, serta Agus Mulyono Herlambang yang pernah menjabat Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) periode 2017–2021.
Andy menegaskan, proses pemilihan ketua umum PSI ini bukanlah formalitas apalagi gimik semata. PSI ingin menunjukkan bahwa partai harus membuka ruang demokrasi bagi anggotanya.
Dengan sistem kompetisi yang diklaim fair serta transparan tersebut, ia berharap, para calon ketua umum ataupun para kader dapat memanfaatkan proses pemilihan ini untuk mengekspresikan dukungan atau perlawanan mereka terhadap setiap calon yang maju.
”Bisa mereka berkampanye kalau mereka tidak suka atau tidak mendukung satu kandidat kan mereka bisa berkampanye ke orang-orang lainnya, kan terbuka, dia bisa bilang. Kayak pemilu aja, bisa dong. Jadi, ini ruangnya demokratis, terbuka,” ucap Andy.
Andy mengungkapkan, hasil Pemilu Raya PSI akan diumumkan pada Kongres PSI, 19-20 Juli 2025, di Gedung Graha Saba, Solo, Jawa Tengah. Presiden Prabowo hingga Jokowi dijadwalkan bakal hadir dalam Kongres tersebut.
Khusus Jokowi, nantinya akan memberi arahan dalam Kongres PSI. Andy tidak menampik bahwa Jokowi masih menjadi figur sentral di PSI. Bagi PSI, sosok Jokowi masih memiliki pengaruh yang sangat besar dengan pencapaian 10 tahun pemerintahan Jokowi yang sangat dirasakan oleh masyarakat. ”Kalau sosok Pak Jokowi sih tetap, menurut kami, itu adalah role model kami,” katanya.
Andy enggan mengungkapkan peran apa yang akan dimainkan Jokowi ke depan setelah resmi tak mendaftar sebagai calon ketua umum PSI. Namun, ia meyakini Jokowi sebagai mantan Presiden, tokoh masyarakat, serta negarawan, pasti memiliki pertimbangan tersendiri akan langkah politiknya ke depan.
Ketika ditanya kemungkinan Jokowi akan digandeng menjadi Dewan Pembina PSI, Andy mengaku belum ada pembicaraan apa pun dengan Jokowi. ”Tetapi, sekali lagi, di politik itu kan ada banyak ruang. Ada orang yang di depan panggung, ada yang di belakang layar, dan lain sebagainya. Nah, ya, silakan nanti dilihat aja dalam perkembangannya,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/11/a7c2928e9b9ab1e841086eeed970805e-HRA00006.JPG)
Di sisi lain, Andy juga mengungunkapkan ada sejumlah kejutan lain yang akan diumumkan saat Kongres, di antaranya bergabungnya sejumlah tokoh baru ke PSI, baik dari kalangan senior maupun aktivis muda lintas organisasi. Para tokoh baru ini diharapkan dapat memperkuat PSI pada Pemilu 2029.
Tak hanya soal tokoh, PSI juga akan meluncurkan rebranding identitas partai di Kongres ini. ”Akan ada rebranding, tetapi nanti kalau saya bocorkan, kan, enggak enak,” kata Andy sambil tersenyum. Untuk Pemilu 2029, PSI optimistis bisa menembus parlemen apabila ambang batas parlemen hanya 4 persen.
Sementara itu, peneliti senior dari Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lili Romli, menilai sistem e-vote yang digunakan PSI adalah langkah progresif. ”Ini yang disebut sebagai demokrasi langsung atau demokrasi partisipatoris karena semua anggota mempunyai hak pilih, yang tidak lagi diwakili oleh segelintir elite pengurus partai,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan, proses ini bisa dianggap hanya pencitraan dan formalitas jika calon ketua umum lain yang maju tidak setara. ”Kaesang sebelumnya langsung jadi ketum, padahal baru masuk. Kalau lawannya tak seimbang, bisa dipastikan dia terpilih kembali,” kata Lili.
Tak hanya itu, pemilihan itu juga tidak akan bemakna jika AD/ART PSI tidak diubah. Dalam AD/ART, penentuan semua jalan dan kebijakan partai berada pada pendiri dan ketua dewan pembina. Hal tersebut tentu sangat tidak demokratis.
Kalau sosok Pak Jokowi sih tetap menurut kami itu adalah role model kami.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/01/14/Screen-Shot-2021-01-14-at-17.31.01_1610620772.png)
Ia juga menyangsikan apakah ”menjual nama Jokowi” masih akan efektif. Sebab, pada Pemilu 2024, meski Kaesang memimpin dan PSI dekat dengan Jokowi, partai tetap tidak lolos Senayan.
Lili menyarankan PSI membenahi kaderisasi dan program-program yang benar-benar berpihak pada rakyat. Dulu sebenarnya PSI sebagai partai alternatif dan menjanjikan, tetapi akibat kebijakan dan pilihan politik yang pragmatis dan oportunis, membuat publik kecewa.
”Saya tidak tahu apakah kekecewaan itu bisa diobati atau tidak. Jika para pendukung PSI masih kecewa, berat rasanya untuk bisa lolos ke parlemen dengan ambang batas 4 persen,” ujarnya.
Penulis:
Nikolaus HarbowoEditor:
C. Wahyu Haryo PPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase