Konklaf 7 Mei 2025

Kapel Sistina telah ditutup untuk umum. Konklaf untuk memilih Paus baru disebut akan dimulai pada 7 Mei 2025.

28 Apr 2025 18:18 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

VATIKAN, SENIN — Konklaf untuk memilih Paus baru disebut akan digelar pada 7 Mei 2025. Kapel Sistina yang menjadi lokasi pertemuan para pemilih itu telah ditutup untuk umum.

Vatikan mengumumkan hal itu pada Senin (28/4/2025). Sumber Reuters menyebut, rencana itu disepakati dalam pertemuan tertutup para kardinal.

Jika jadi digelar, berarti pertemuan dimulai dua hari setelah masa berkabung atau Novemdiales setelah Paus Fransiskus wafat selesai. Dimulai sejak Minggu (27/4/2025), masa berkabung selesai pada 5 Mei 2025. Masa berkabung dimulai sehari setelah Paus Fransiskus dimakamkan di Basilika Santa Maria Maggiore, Roma.

Sejauh ini, 135 kardinal elektor akan memilih Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma. Semua kardinal elektor berusia di bawah 80 tahun dan berasal dari sejumlah negara. Uskup Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo salah satu dari kardinal elektor yang akan ikut konklaf. Kini, total ada 252 kardinal di Gereja Katolik Roma. Walakin, sebagian tidak termasuk kardinal elektor.

Sepanjang abad ke-21 telah digelar dua kali konklaf, yakni pada 2005 dan 2013. Konklaf 2005 dan 2013 berlangsung dua hari. Para kardinal memilih Paus Benediktus pada 2005 dan Paus Fransiskus pada 2013.

Sejauh ini atmosfer di Vatikan di antara para kardinal sangat terbuka, kata Kardinal Giuseppe Versaldi kepada media Italia, La Repubblica. ”Memang ada sejumlah perbedaan, tetapi suasana rohani lebih kuat daripada atmosfer politik,” kata Versaldi.

Roberto Regoli, Guru Besar Sejarah Gereja dan Kebudayaan di Universitas Kepausan Gregorian di Roma, Italia, mengatakan, para kardinal kemungkinan akan mencari sosok yang mampu memperkuat persatuan. ”Kita memasuki masa ketika umat Katolik mengalami polarisasi. Tidak terbayangkan jika ini akan menjadi konklaf yang singkat untuk memilih Paus baru,” kata Regoli.

Sejak Paus Fransiskus diumumkan wafat pada 21 April 2025, para kardinal mulai berdatangan ke Vatikan. Rapat pertama mereka membahas tanggal pemakaman. ”Saya percaya sosok Fransiskus adalah Paus kejutan yang tak diduga sebelumnya, konklaf kali ini juga akan menghasilkan kejutan,” kata Kardinal Jose Cobo dari Spanyol.

Kepada media Spanyol, El Pais, Kardinal Cobo menyebut bahwa di konklaf dulu biasanya bisa diperkirakan siapa yang akan terpilih. Sedangkan kali ini, banyak kardinal berasal dari luar Eropa dan belum pernah saling bertemu satu sama lain.

(FILES) This handout picture released by the Press office shows cardinals entering in the Sistine Chapel before the start of the conclave at the Vatican on March 12, 2013. Pope Francis died on April 21, 2025 aged 88, a day after making a much hoped-for appearance at Saint Peter's Square on Easter Sunday, the Vatican said in a statement. (Photo by OSSERVATORE ROMANO / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO /  OSSERVATORE ROMANO" - HANDOUT - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Kurang dari separuh kardinal yang berhak memilih adalah orang Eropa. ”Paus yang baru harus memiliki hati yang universal, mencintai semua benua. Kita tidak boleh melihat warna kulit atau asal–usul, tetapi pada apa yang diajukan untuk pelayanan kemanusiaan,” kata Kardinal Dieudonne Nzapalainga dari Republik Afrika Tengah kepada media Italia, Il Messaggero.

Dia menambahkan, gereja membutuhkan sosok pemimpin berani, mampu berbicara dengan tegas. Pemimpin baru perlu menjaga gereja, bahkan di tengah badai di saat yang penuh ketidakpastian seperti saat ini.

Sejumlah pihak menyebut, Perdana Menteri Vatikan Kardinal Pietro Parolin dari Italia menjadi tokoh favorit pengganti Fransiskus. Menurut William Hill, pengulas isu kepausan dari Inggris, Kardinal Parolin lebih berpeluang ketimbang Kardinal Luis Antonio Tagle dari Filipina atau Kardinal Peter Turkson dari Ghana. Kardinal Tagle dan Kardinal Turkson sama-sama digadang jadi Paus berikutnya.

Sejumlah nama lain juga disebut layak jadi Paus. Mereka, antara lain, Kardinal Pierbattista Pizzaballa di Jerusalem, Kardinal Robert Sarah di Guinea, dan Kardinal Matteo Zuppi di Italia. Para kardinal yang digadang itu merupakan uskup agung di tempat tugas masing-masing.


Ziarah makam

Sejak Minggu, para peziarah telah memadati Basilika Santa Maria Maggiore. Setangkai mawar putih diletakkan di dekat batu nisan dengan tulisan singkat Franciscvs, nama Paus Fransiskus dalam ejaan Latin.

Rosario Correale, peziarah dari Salerno, Italia (selatan kota Napoli), mengaku sangat tersentuh melihat makam Paus yang sangat sederhana. ”Beliau sungguh meninggalkan kenangan di hati kami. Lihat para peziarah lain sangat tersentuh dan terenyak melihat makam Paus,” kata Correale.

Umat berbaris rapat, mengular, petugas mengatur agar mereka terus bergerak. Mereka banyak yang mengabadikan makam Paus Fransiskus dengan telepon genggam. Barisan panjang umat dan peziarah terlihat di depan makam Paus.

Ikon Maria Salus Populi Romani, turut “mendampingi” mendiang Paus Fransiskus selama Misa Pemakamannya di Alun-alun Santo Petrus, Vatikan, Sabtu (26/4/2025). Semasa hidupnya, Paus Fransiskus memiliki devosi kuat kepada Bunda Maria. Secara khusus, Paus Fransiskus juga memiliki kedekatan dengan ikon Maria Salus Populi Romani yang selama ini berada di Basilika Santa Maria Maggiore, Roma.

Paus Fransiskus yang dijuluki ”Paus Kaum Miskin” memilih makam sederhana di luar Vatikan. Paus Fransiskus tidak pernah mengambil gaji tahunan sebesar 400.000 euro. Semua disumbangkan bagi kegiatan amal. Hadiah satu mobil sport Lamborghini yang diterima Paus Fransiskus juga dilelang. Hasilnya, hampir 1 juta euro, disumbangkan untuk kegiatan amal kemanusiaan.

Menjelang Minggu petang, satu rombongan kardinal hadir dengan diantar bus. Selain ziarah ke makam Paus, mereka juga menggelar misa petang di Basilika Santa Maria Maggiore.

Sementara dalam misa Senin, Kardinal Parolin mengajak umat memandang kasih Kristus demi ketenangan hati dan perdamaian dunia. Dalamhomili—bacaan Kitab Suci—Kardinal Parolin mengutip Injil tentang para murid Kristus yang ketakutan dan bersedih saat ditinggal Kristus mati setelah penyaliban. ”Bacaan itu mengingatkan kondisi gereja saat ini yang berkabung karena Paus wafat pada Senin Paskah dan dimakamkan Sabtu kemarin,” kata Parolin yang ditulis Vaticannews.

”Saat ini kita bersedih atas berpulangnya Paus, hati terasa tidak tenang, dan juga ada rasa kebingungan. Ini hal sama yang dirasakan para murid ketika ditinggalkan Kristus,” kata Parolin.

Meski demikian, dia mengingatkan, Kristus datang di masa sulit bagi para murid. Kebangkitan Kristus menerangi hati para murid. ”Paus Fransiskus juga mengingatkan kita sejak terpilih, untuk selalu mengedepankan sukacita dari Kabar Baik Kristus, yakni kebangkitan-Nya,” kata Parolin.

Banyak kaum muda mendatangi Misa Novemdiales kedua yang juga berbarengan dengan Perayaan Yubileum Kaum Muda.

Parolin mengimbau kaum muda menyambut sukacita Paskah meski di tengah kedukaan. ”Yesus memberi kita keberanian untuk menghadapi tantangan kehidupan,” kata Parolin. (Associated Press/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati