Konklaf, Misteri Linguistik dalam Pemilihan Paus

Konklaf bukan sekadar istilah teknis, melainkan juga simbol dari keterasingan yang suci, dari pengambilan keputusan spiritual yang penuh misteri.

03 Mei 2025 07:00 WIB · Humaniora

Oleh Teguh Candra

Ketika seorang paus wafat atau mengundurkan diri, umat Katolik pun menanti momen yang disebut konklaf, sebuah pertemuan tertutup para kardinal untuk memilih pemimpin baru Gereja Katolik. Namun, di balik kekhusyukan proses ini, tersembunyi sebuah kisah menarik dari sudut linguistik: dari mana sebenarnya kata konklaf berasal? Bagaimana ia berkembang dan menyerap makna religius yang sedemikian kuat?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata konklaf memiliki dua arti. Pertama, sidang para kardinal yang diadakan untuk memilih paus yang baru dan, arti kedua, tempat para kardinal bersidang untuk memilih paus yang baru. Perubahan bentuk ejaan dari conclave menjadi konklaf mencerminkan sistem ejaan yang menyesuaikan bunyi dari bahasa yang diserap ke kaidah fonetik lokal. Huruf c diubah menjadi k dan v menjadi f, yang merupakan salah satu praktik dalam proses penyerapan bahasa asing ke bahasa Indonesia.

Apabila ditilik dari asal-usul katanya, konklaf atau conclave dalam bahasa Inggris berasal dari dua kata dalam bahasa Latin, yaitu cum dan clavis. Dalam Oxford Latin Dictionary terbitan tahun 1968, cum memiliki makna (1) along with, together with, jointly with, in company with; b secum, etc., along with one (it), c in the house, etc.; of, in the same place as; in the suite of, dan masih banyak lagi. Adapun arti kata clavis dalam Glosbe Latin-English Dictionary adalah ’key, clef, wrench’. Ketiga kata tersebut merupakan terjemahan paling populer dari clavis ke dalam bahasa Inggris.

Kedua kata di atas pun digabung menjadi conclave, yang secara harfiah, menurut Charlton T Lewis dan Charles Short dalam A Latin Dictionary berarti (I) gen. plur. heterocl. conclaviorum, Vitr. 6, 3, 8: ”conclavium,” id. 7, 9), n. clavis: conclavia dicuntur loca, quae unā clave clauduntur, Paul. ex Fest. p. 39, 9 Müll.; cf. Don. ad Ter. Eun. 3, 5, 35, a room, chamber, dining hall, cage for animals, stall, coop, etc., that may be locked up.

Merujuk arti di atas, makna awal dari conclave sebenarnya cukup netral: ia merujuk pada ruang tertutup atau ruangan pribadi, tempat atau ruang yang mungkin terkunci/dikunci (that may be locked up), atau tempat yang bisa dikunci.

Salah satu adegan di film Conclave.

Perkembangan makna

Akan tetapi, dalam konteks Gereja Katolik, sejak abad ke-13 makna kata ini mengerucut secara semantik menjadi ruang khusus untuk memilih paus. Karena itu, dalam KBBI pun tersua arti yang lebih spesifik, yang lebih dari sekadar ruang yang bisa dikunci. Di depan kedua arti lema konklaf pun disematkan n Kat, yang berarti kata benda (n) dan/dari istilah keagamaan Katolik (Kat).

Perkembangan makna kata konklaf (dari ruang yang bisa dikunci menjadi tempat para kardinal bersidang untuk memilih paus yang baru) dipicu oleh sebuah peristiwa sejarah, yaitu Konklaf Viterbo (1268-1271), ketika para kardinal menghabiskan waktu lebih dari dua tahun untuk memilih paus.

Karena terlalu lama, rakyat dan otoritas akhirnya mengunci para kardinal di sebuah ruangan untuk memaksa mereka berembuk lebih serius guna menghasilkan keputusan. Untuk lebih lengkapnya, silakan baca tulisan John Paul Adams, profesor sejarah Gereja Katolik di California State University Northridge, yang berjudul ”Sede Vacante 1268-1271: Election of Pope Gregory X” di alamat http://www.csun.edu/~hcfll004/SV1268.html.

Acara pemilihan paus yang berlangsung sangat lama di kota Viterbo itulah yang membuat Paus Gregorius X akhirnya menerbitkan Konstitusi Apostolik Ubi periculum pada 1274. Konstitusi itu berisi aturan tentang penguncian para kardinal selama proses pemilihan paus. Maka, dari sanalah istilah konklaf mulai diasosiasikan secara eksklusif dengan proses pemilihan paus. Penguncian untuk sebuah pemilihan yang sakral.

Aturan resmi tentang konklaf juga terdapat dalam Konstitusi Apostolik Universi Dominici Gregis yang dikeluarkan oleh Paus Yohanes Paulus II pada 1996 serta diperbarui oleh Paus Benediktus XVI dan Paus Fransiskus. Anda dapat membacanya lewat tautan https://www.vatican.va/content/john-paul-ii/en/apost_constitutions/documents/hf_jp-ii_apc_22021996_universi-dominici-gregis.html.

Dalam bahasa termutakhir saat ini, konklaf merupakan kata benda spesifik yang memiliki makna utama berupa pertemuan tertutup para kardinal untuk memilih paus, seperti tersua dalam Merriam-Webster Dictionary: a private meeting or secret assemblyespecially dan a meeting of Roman Catholic cardinals secluded continuously while choosing a pope. Arti yang lebih kurang sama juga terdapat dalam KBBI, seperti tertulis di atas.

Konklaf adalah contoh dari sebuah kata yang konteks penggunaannya menjadi sangat khas dan terbatas. Lebih jauh, konklaf juga mengalami apa yang disebut dalam linguistik sebagai spesialisasi semantik alias penyempitan makna: dari kata umum menjadi sangat spesifik, bahkan eksklusif. Konklaf hanya bisa berarti satu hal dalam kebanyakan konteks, menjadikannya kata dengan bobot makna dan simbolik yang sangat besar.

Konklaf menjadi sebuah kata yang mampu mengunci sejarah, ritual, dan kekuasaan dalam satu makna. Ia bukan sekadar istilah teknis, melainkan juga simbol dari keterasingan yang suci, dari pengambilan keputusan spiritual yang penuh misteri. Konklaf tetap menjadi ruang yang tertutup, terkunci. Tidak hanya bagi para kardinal, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin memahami bagaimana dunia memilih pemimpin rohaninya dalam kesunyian.

(FILES) White smoke rises from the chimney on the roof of the Sistine Chapel meaning that cardinals elected a new pope on the second day of their secret conclave on  March 13, 2013 at the Vatican. Catholic cardinals will meet on May 7, 2025, to start voting for a new pope, the Vatican announced on April 28, 2025, a week after the death of Pope Francis. The date was decided at a morning meeting of the so-called "Princes of the Church" at the Vatican. (Photo by Andreas SOLARO / AFP)

Dalam Univesi Dominici Gregis, Bab IV poin ke-37 tertulis: n I furthermore decree that, from the moment when the Apostolic See is lawfully vacant, fifteen full days must elapse before the Conclave begins, in order to await those who are absent; nonetheless, the College of Cardinals is granted the faculty to move forward the start of the Conclave if it is clear that all the Cardinal electors are present; they can also defer, for serious reasons, the beginning of the election for a few days more. But when a maximum of twenty days have elapsed from the beginning of the vacancy of the See, all the Cardinal electors present are obliged to proceed to the election.

Aturan di atas jika diartikan secara singkat ingin mengatakan bahwa selama 15 hari atau maksimal selama 20 hari harus dilewati sebelum digelarnya konklaf. Pertanyaannya, siapkah kita mendengar teriakan dari balkon utama Basilika Santo Petrus di Vatikan yang menyerukan: Habemus Papam!?

Selamat menantikan pemimpin baru Gereja Katolik.

Teguh Candra, Penyelaras Bahasa Kompas


Kerabat Kerja

Penulis:

Teguh Candra
 | 

Editor:

Albertus Subur Tjahjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase