Jerman menyerukan agar Eropa memperkuat kemampuan pertahanan kawasan secepat mungkin. AS di bawah Trump berpotensi mendorong perubahan cepat dan mengganggu.
24 Feb 2025 10:45 WIB · Internasional
BERLIN, SENIN — Partai aliran konservatif Jerman menang dalam pemilihan umum federal, Minggu (23/2/2025) waktu setempat. Pemimpin konservatif dan kanselir baru Friedrich Merz (69) menyerukan persatuan Eropa dan agar pertahanan kawasan tidak lagi bergantung kepada Amerika Serikat.
Menurut Deutsche Welle per Senin (24/2/2025) pukul 09.57 WIB, aliansi konservatif yang terdiri dari partai Persatuan Demokratik Kristen (CDU) dan partai Persatuan Sosial Kristen (CSU) mendapat suara terbanyak, yakni 28,6 persen. Posisi kedua diraih partai populis sayap kanan, Alternatif untuk Jerman (AfD), memperoleh 20,8 persen suara.
Dalam pernyataan setelah kemenangan, Merz menyuarakan persatuan Eropa dan mengkritik AS. Menurut dia, Washington secara keterlaluan ikut campur selama musim kampanye Jerman, seperti lewat cuitan-cuitan miliarder Elon Musk yang mendukung AfD. Langkah AS mirip dengan intervensi Rusia.
”Jadi, kita berada di bawah tekanan yang sangat besar dari dua belah pihak sehingga prioritas utama saya sekarang adalah mencapai persatuan di Eropa. Sangat mungkin untuk menciptakan persatuan di Eropa,” kata Merz dalam diskusi panel dengan para pemimpin lainnya.
Merz turut mendesak pembentukan koalisi pemerintahan baru. AS, di bawah Presiden Donald Trump, berpotensi mendorong perubahan yang cepat dan mengganggu. ”Dunia tidak menunggu kita,” ujar Merz sembari menambahkan, Eropa harus meningkatkan kemampuan pertahanan.
Komentar itu muncul setelah Trump menghubungi Presiden Rusia Vladimir Putin soal penyelesaian perang Ukraina-Rusia tanpa menyertakan Ukraina dan Eropa. Trump turut menyuarakan keraguan tentang Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
”Setelah pernyataan Donald Trump pekan lalu, jelas bahwa sebagian besar rakyat Amerika tidak peduli dengan nasib Eropa. Prioritas mutlak saya adalah memperkuat Eropa secepat mungkin sehingga, selangkah demi selangkah, kita benar-benar dapat mencapai kemerdekaan dari AS (dalam hal pertahanan),” kata Merz dalam debat TV pascapemilu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/24/942f3520-1cfa-4680-a664-9ef5dd63c8a4_jpg.jpg)
Merz adalah sosok yang dianggap sebagai antitesis dari mantan Kanselir Angela Merkel yang konservatif dan memimpin Jerman selama 16 tahun. Dengan sejumlah syarat, dia mendukung perlengkapan perang Ukraina dengan rudal Taurus jarak jauh, sebuah langkah yang dihindari oleh pemerintahan Scholz, dan menganggap inti Eropa berlabuh pada NATO.
”Saya sangat penasaran untuk melihat apa yang akan terjadi antara sekarang dan pertemuan puncak NATO pada akhir Juni. Apakah kita masih akan berbicara tentang NATO dalam bentuknya saat ini atau apakah kita harus membangun kemampuan pertahanan Eropa yang independen jauh lebih cepat,” ujar Merz.
Sementara Partai Sosial Demokrat (SPD) pimpinan Kanselir Olaf Scholz yang akan lengser meraih rekor terendah sebesar 16,4 persen. Hasil pemilu ini menjadi pukulan terakhir bagi Scholz setelah koalisinya bersama Partai Hijau dan Partai Demokrat Bebas (FDP) pecah gara-gara anggaran pada November 2024.
Tingkat partisipasi pemilu Jerman tercatat sebesar 83 persen. Jumlah ini tertinggi sejak sebelum reunifikasi pada tahun 1990. Pemilih laki-laki cenderung condong ke kanan, sementara pemilih perempuan menunjukkan dukungan yang lebih kuat untuk partai kiri.
Walau menang, Merz yang belum punya pengalaman akan menghadapi banyak tantangan soal koalisi. Pembentukan koalisi di parlemen yang terpecah dalam prosesnya dapat memakan waktu berbulan-bulan. Merz berjanji untuk menyelesaikan koalisi sebelum Paskah, pertengahan April 2025.
Belum jelas apakah Merz akan membutuhkan satu atau dua mitra untuk membentuk suara mayoritas. Nasib partai-partai yang lebih kecil belum jelas sehingga dapat mengacaukan perhitungan parlemen.
Koalisi tiga arah kemungkinan akan jauh lebih sulit diatur sehingga menghambat arah kepemimpinan Jerman yang jelas. Belajar dari pengalaman sebelumnya, koalisi tiga partai pendahulunya, dipimpin Olaf Scholz, juga runtuh.
”Koalisi tiga partai berisiko menimbulkan kekacauan dan stagnasi, kecuali semua pihak yang terlibat menyadari bahwa ini adalah kesempatan terakhir untuk membawa perubahan dan mencegah AfD menjadi lebih kuat,” kata Carsten Brzeski, Kepala Makro Global untuk ING Research.
Brzeski melanjutkan, selama pemerintahan baru tidak membawa perubahan signifikan, investasi asing juga akan tertahan. Alhasil, prospek ekonomi Jerman dapat ikut melemah.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/24/ea2f1ee4-1dbc-4c8a-bdb5-3f81d87be21a_jpg.jpg)
Sejauh ini, CDU/CSU menyatakan tidak akan bekerja sama dengan AfD. Untuk membangun suara mayoritas, Merz mungkin akan menghubungi SPD meskipun tanpa Scholz, atau mendekati Partai Hijau yang memperoleh 12 persen suara.
Adapun Aliansi Sahra Wagenknecht (BSW) akhirnya meraih 5 persen suara yang memenuhi ambang batas parlemen. Partai Demokrat Bebas (FDP) baru meraih 4,3 persen suara. Jika CDU/CSU memilih BSW, Merz berarti membutuhkan dua sekutu koalisi. Masalahnya, aliansi akan jadi beragam secara ideologis.
Dengan demikian, Jerman untuk sementara akan ”lumpuh” dan kepemimpinan Eropa kosong sampai Paskah. Padahal, situasi dalam negeri dan kawasan tengah terancam mengingat masyarakat Jerman terbelah soal migrasi, ekonomi Eropa terpuruk, dan keamanan Eropa terombang-ambing gara-gara perang Ukraina-Rusia. Scholz dapat berperan sebagai penjabat sementara.
Mengingat AfD merupakan partai haluan kanan ekstrem yang berusaha menutupi sejarah Nazi dan Holocaust, partai-partai lain di Jerman telah berkomitmen untuk menjegal AfD dari kekuasaan. Untuk saat ini, AfD yang sempat menawarkan diri untuk bermitra dengan CDU/CSU akan menjadi oposisi di parlemen.
AfD merupakan partai terkuat di wilayah timur Jerman. Pada pemilu kemarin, partai ini tercatat memperoleh sejumlah kemenangan di negara bagian barat. Kemenangan mengejutkan itu didorong oleh kekhawatiran masyarakat atas imigrasi dan keamanan setelah terjadi serangkaian serangan mematikan yang dituduhkan kepada pencari suaka.
Pada Desember 2024, sebuah mobil menabrak kerumunan pasar Natal dan menewaskan enam orang serta melukai ratusan lainnya. Selanjutnya, terjadi penusukan yang menyasar anak-anak di TK pada Januari 2025 dan serangan pisau di tugu peringatan Holocaust, Berlin, pada Februari 2025.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/24/82aa7292-6798-466b-9585-5782927dde5c_jpg.jpg)
Dengan perolehan 20,8 persen suara, AfD melihat hasil pemilu kemarin sebagai permulaan. ”Tangan kami tetap terentang untuk membentuk pemerintahan. Lain kali kita akan menjadi yang pertama,” kata pemimpin AfD Alice Weidel kepada pendukungnya.
Merz berpendapat, pemerintahan baru harus berani menanggapi kekhawatiran AfD terkait dengan migrasi dan perbaikan ekonomi. Jika tidak, partai ekstrem kanan itu mungkin akan menang pada putaran berikutnya.
”Taruhannya tidak bisa lebih tinggi lagi. Partai-partai arus utama Jerman secara konsisten gagal meyakinkan para pemilih untuk menolak sayap kanan, dan pemilihan umum ini bisa menjadi kesempatan terakhir mereka untuk membalikkan keadaan,” ujar analis politik dan penulis, Michael Broening.
Kekuatan demokrasi harus menemukan solusi bagi masalah negara, tambah Broening. ”Jika partai-partai yang berkuasa di Jerman gagal kali ini, mereka mungkin tidak akan menjadi partai yang berkuasa dalam waktu lama,” tuturnya.
(AFP/Reuters)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .