Hidangan daging kurban menjadi salah satu yang dinanti saat hari raya Idul Adha. Namun, apakah benar menyantap daging kambing bisa langsung meningkatkan kolesterol?
06 Jun 2025 11:01 WIB · Kesehatan
JAKARTA, KOMPAS — Pada momen Idul Adha, hidangan dari daging kurban, terutama daging kambing, menjadi salah satu hal yang dinantikan. Meski begitu, tidak sedikit yang khawatir dengan efek kolesterol yang naik akibat menyantap daging kambing.
Namun, apakah benar menyantap daging kambing bisa langsung meningkatkan kadar kolesterol dalam darah? Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Rumah Sakit Siloam, Vito A Damay, mengatakan, makan daging kambing tidak langsung bisa menaikkan kolesterol.
Hasil pemeriksaan laboratorium darah kolesterol itu menggambarkan kebiasaan kita. Bukan karena sekali makan daging kambing saat hari raya,” ujarnya saat dihubungi Jumat (6/6/2025).
Ia juga tidak menyarankan mengonsumsi obat mengontrol kolesterol secara tidak bijak. Lebih baik pemeriksaan darah dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium yang disebut profil lipid puasa.
Meski mengonsumsi daging kambing tidak langsung bisa menaikkan kadar kolesterol, sebaiknya tetap bijak dalam mengolah daging tersebut.
Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mengetahui kadar kolesterol jahat atau LDL dalam darah. Jika hasil pemeriksaan tersebut memang membutuhkan obat, itu baru boleh dikonsumsi.
Selain itu, Vito menambahkan, meski mengonsumsi daging kambing tidak langsung bisa menaikkan kadar kolesterol, sebaiknya tetap bijak dalam mengolah daging tersebut. Lebih baik daging kambing dimasak dengan cara memanggang, mengukus, atau merebus untuk dibuat sup.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/07/05/20210705-NSW-Konsumsi-Protein-Grafik1-mumed_1625475658_png.png)
Jika ingin mengolah dengan cara menggoreng, sebaiknya tidak dimasak dengan proses yang membutuhkan banyak minyak. ”Sebaiknya ditumis saja bukan yang deep fried (menggoreng dengan banyak minyak),” tuturnya.
Secara terpisah, Guru Besar Keamanan Pangan dan Gizi IPB University Ahmad Sulaeman, dalam penyataannya yang dikutip dari laman IPB University, menuturkan, ada tiga hal yang perlu diperhatikan untuk memastikan daging kambing yang dikonsumsi tidak menyebabkan lonjakan kolesterol dalam tubuh.
Menurut Ahmad Sulaeman, yang juga Ketua Umum Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia, hal penting tersebut adalah pemilihan bagian daging, cara pengolahan, dan porsi konsumsi.
Dalam memilih bagian dari daging kambing, sebaiknya pilih bagian yang rendah lemak, seperti punggung atau paha pada kambing. Hindari konsumsi jeroan, seperti ginjal dan hati yang tinggi kolesterol.
Sementara pada daging sapi bisa pilih bagian tenderloin, sirloin, atau paha sapi. Jika mendapatkan daging yang disertai dengan lemak berwarna putih kekuningan, lemak tersebut bisa dibuang sebelum dimasak.
Untuk cara pengolahan, metode merebus atau mengukus bisa menjadi pilihan. Sebab, metode memasak tersebut bisa mengurangi kadar lemak. Selain itu, sebaiknya hindari memasak daging dengan menggunakan santan atau bisa diganti dengan memakai santan rendah lemak atau susu kedelai.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/10/737122ad-74fd-4b7b-b481-7ec25fd58385_jpg.jpg)
Ahmad menyampaikan, pengendalian porsi dalam mengonsumsi daging juga penting untuk diperhatikan. Sering kali setelah hari raya kurban, daging akan menjadi menu yang selalu tersedia di meja makan. Hal ini sebaiknya dibatasi dan diselingi dengan menu protein lainnya.
Konsumsi daging juga perlu dibarengi dengan sayuran yang berserat tinggi. Serat dapat mengurangi penyerapan kolesterol oleh pembuluh darah. Kolesterol dan lemak bisa terjerap atau terserap oleh serat.
”Sayuran, seperti lalapan daun pohpohan, rebus daun ubi, daun labu, serta acar mentimun salad dan nanas, bisa membantu mengurangi penyerapan kolesterol. Konsumsilah sayur dua kali lebih banyak dari porsi nasi atau masakan daging,” kata Ahmad.
Ia pun menyarankan agar buah segar bisa dikonsumsi setidaknya lima sajian per hari. Konsumsi buah-buahan dan sayuran amat baik bagi tubuh untuk lebih banyak memproduksi asam empedu.
Sayuran, seperti lalapan daun pohpohan, rebus daun ubi, daun labu, dan acar mentimun salad dan nanas, bisa membantu mengurangi penyerapan kolesterol.
Hal tersebut membuat tubuh membutuhkan lebih banyak kolesterol untuk sintesis asam empedu sehingga kadar kolesterol dalam darah pun bisa menurun.
Konsumsi perasan jeruk lemon disarankan pula untuk membersihkan pembuluh darah. Perasan lemon bisa dicampur dengan madu bagi orang yang memiliki masalah lambung. Imbangi pula konsumsi air putih yang cukup serta olahraga rutin.
”Minimal berjalan kaki 6.000 langkah setiap pagi untuk membantu menjaga metabolisme dan kesehatan pembuluh darah,” ungkap Ahmad menambahkan.
Dalam laman resmi Universitas Airlangga, dosen program studi kesehatan masyarakat Universitas Airlangga, Septa Indra Puspikawati, menyampaikan, daging kambing mengandung kolesterol lebih rendah dibandingkan daging sapi. Dalam setiap 100 gram, daging kambing mengandung 57 miligram kolesterol, sedangkan daging sapi 87 miligram.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/01/3d3b073e-c399-4edf-b9de-b096f2fa9e27_jpg.jpg)
Daging kambing juga merupakan sumber protein yang baik. Setidaknya dalam setiap 100 gram daging kambing terdapat 16,6 gram protein. Angka itu dapat memenuhi sekitar 29 persen kebutuhan protein harian seseorang.
Kandungan lemak pada daging kambing pun lebih rendah daripada daging sapi. Daging kambing juga mengandung lebih sedikit lemak jenuh dan kolesterol atau lemak jahat. Selain itu, daging kambing punya kandungan berbagai asam amino esensial, seperti lysine, leucine, arginine, isoleucine, dan valine yang penting untuk tubuh.
Septa menyampaikan agar kandungan gizi pada daging kambing tetap terjaga, cara mengolah daging tersebut harus diperhatikan. Suhu ideal untuk memasak daging kambing sebaiknya di bawah 250 derajat celsius. Dengan suhu tersebut, daging tetap bisa empuk tanpa merusak nutrisinya.
Ia pun memberikan tips untuk memasak daging kambing. Pertama-tama, daging kambing bisa dicuci bersih. Kemudian, dilumuri daging dengan parutan nanas dan diamkan selama 10-15 menit.
Selanjutnya, rebus dengan metode 5 : 30 : 7, yakni merebus daging selama 5 menit, lalu matikan kompor dan tutup dengan panci selama 30 menit, dan rebus kembali selama 7 menit. Cara ini dapat dilakukan untuk membuat daging kambing bisa empuk sebelum diolah kembali.
Penulis:
Deonisia ArlintaEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari