Kontroversi Piala Dunia Antarklub

Pertanyaan terbesar terkait Piala Dunia Antarklub adalah mengapa? Di tengah keluhan padatnya jadwal, mengapa FIFA nekat menggelar turnamen ini?

24 Jun 2025 02:00 WIB · Tajuk Rencana

Oleh Redaksi

Membaca data jumlah penonton setelah seluruh pertandingan pertama babak penyisihan grup, bisa disimpulkan penggemar sepak bola hampir tidak peduli dengan turnamen ini. Terdapat lebih dari 400.000 kursi kosong dari 979.373 yang tersedia di sembilan stadion tempat laga berlangsung.

Jumlah penonton terendah adalah ketika klub Afrika Selatan, Mamelodi Sundowns, bertemu tim Korea Selatan, Ulsan HD, yang hanya ditonton 3.412 orang, 13 persen dari kapasitas stadion. Adapun ketika salah satu raksasa Eropa, Chelsea, bertemu Los Angeles FC, hanya ada 22.137 penonton atau 31 persen dari kapasitas stadion.

Menurut FIFA, per 17 Juni, mereka telah menjual hampir 1,5 juta tiket. Namun, jumlah itu hanya sekitar 37 persen dari total kapasitas 4 juta kursi yang tersedia dalam 63 pertandingan Piala Dunia Antarklub 2025.

MIAMI GARDENS, FLORIDA - JUNE 18: A general view inside the stadium of empty seats prior to the FIFA Club World Cup 2025 group H match between Real Madrid CF and Al Hilal at Hard Rock Stadium on June 18, 2025 in Miami Gardens, Florida.   Sandra Montanez/Getty Images/AFP (Photo by Sandra Montanez / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Padahal publik Amerika Serikat sangat antusias dengan sepak bola meskipun itu bukan olahraga nasional mereka. Piala Dunia 1994 menjadi Piala Dunia dengan total penonton tertinggi (3,56 juta) sepanjang sejarah.

Kompetisi sepak bola AS, MLS, pada 2024 adalah liga dengan total penonton terbanyak kedua di dunia (12,1 juta), mengalahkan Bundesliga (12 juta), Serie A (11,6 juta), dan LaLiga (10,7 juta).

Selain minim peminat, sejak awal, Piala Dunia Antarklub juga memunculkan kontroversi karena dinilai mengabaikan keselamatan pemain. Hal itu terkait bertambah padatnya jadwal yang dihadapi pemain dalam satu musim karena perubahan format turnamen ini, menyusul perubahan format Liga Champions dan laga-laga di tim nasional.

Rodri, gelandang Manchester City, pada 2024 mengungkapkan para pemain ingin mogok terkait padatnya jadwal ini. Menurut dia, jumlah pertandingan optimal, saat performa pemain bisa maksimal, adalah 40-50 laga dalam satu musim. Kini pemain bisa bermain hingga 70-80 pertandingan, tergantung seberapa jauh tim mereka melangkah di sebuah kompetisi.

Pemain asal klub AS juga tidak antusias menyambut Piala Dunia Antarklub. Para pemain Seattle Sounders, misalnya, memprotes meningkatnya jumlah pertandingan dengan mengenakan kaus bertulis Club World Cash Grab saat pemanasan jelang sebuah laga MLS, awal Juni lalu.

Para pemain Seattle Sounders mengenakan kaus bertuliskan Club World Cash Grab dalam pemenasan jelang laga MLS di Seattle, 1 Juni 2025, sebagai protes meningkatnya jam kerja karena keikutsertaan mereka di Piala Dunia Antarklub.

Kritik pemain Seattle ini tak berlebihan karena motivasi klub hanya mengincar hadiah di turnamen ini yang totalnya mencapai 1 miliar dollar AS.

Belajar dari ajang perdana Piala Dunia Antarklub format baru di AS, FIFA perlu mendengar suara para pemain. Seperti dikatakan Rodri, pemain harus diperhatikan karena mereka adalah pelaku utama bisnis sepak bola.

Tidak semuanya harus tentang uang, tetapi juga kualitas pertandingan. Ketika pemain memiliki waktu pemulihan yang cukup, mereka bisa mengeluarkan kemampuan terbaik. Keinginan penonton menyaksikan sepak bola berkualitas hanya bisa didapat ketika pemain tampil maksimal.


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Redaksi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul