Kopi sebagai Kehangatan Budaya Populer

Nasib petani kopi makin rentan akibat perubahan iklim dan pemanasan global.

25 Jul 2025 17:41 WIB · Kolom

Oleh Idi Subandy Ibrahim

Keharuman aroma dan kenikmatan rasa yang muncul ketika menghirup kopi kian mengukuhkan kopi sebagai bagian penting dari pembentuk kembali kehangatan dalam budaya populer. Sebagai komoditas ekonomi bernilai, kopi menempati posisi unik dalam ekspresi budaya kontemporer. Sebagai minuman sehari-hari kebanyakan rakyat di Nusantara, kopi menjadi perhatian sejarawan, pemikir budaya, penulis, bahkan penyair.

Menyelisik jejak kopi sebagai komoditas tak lepas dari sejarah kolonialisme, saat Pemerintah Hindia Belanda menjanjikan hadiah bila eksperimen produksi tanaman baru mereka yang bernilai komersial berhasil di Jawa. Dalam karya klasiknya Nusantara: A History of Indonesia (1961), Bernard HM Vlekke menggambarkan, ”Pada 1707 tanaman kopi dibagi-bagikan di kalangan para kepala daerah di sekitar Batavia dan Cirebon. Pada 1711, 50 kg pertama panen kopi diserahkan ke gudang Kompeni oleh Arya Wiratana, Bupati Cianjur di Jawa. Sembilan tahun kemudian panen tahunan meningkat menjadi 45 ton dan setelah 12 tahun produksi mencapai 5.500 ton.”

Siapa akan membayangkan eksperimen Gubernur Jenderal Hindia Belanda tersebut bakal meretas jalan bagi revolusi ekonomi dan sosial yang akan mengubah nasib penduduk Jawa? Siapa pula yang akan mengira keberhasilan perkebunan kopi yang tak terduga itu telah mengguncang sistem perdagangan kolonial sehingga mereka kemudian berusaha mengontrolnya.

Apakah kehangatan suasana seperti yang dirasakan para penikmat kopi juga dirasakan oleh para petani kopi yang setiap hari berjuang menyediakan bahan dasar: biji kopi?

Meracik kopi paling nikmat di Filosofi Kopi Arsip Visinema Pictures

Penulis perempuan Dee, menulis cerpen memikat ”Filosofi Kopi” (1996), berkisah secara kreatif mengenai pergulatan psikologis seorang penggila kopi bernama Ben yang dikisahkan sampai harus berkeliling dunia untuk berkonsultansi dengan pakar peramu kopi. Ben jatuh bangun membangun kedai kopi, mencari racikan kopi nomor wahid, dan akhirnya malah terpesona oleh secangkir kopi tiwus racikan Pak Seno, di dusun, ratusan kilometer dari Jakarta. Dengan hidup Dee melukiskan, ”Wajah-wajah hangat oleh kepulan uap kopi yang meruap dari cangkir-cangkir yang ia suguhkan setiap hari dengan cinta.”

Tidak jauh dengan Dee, penyair Gola Gong menggubah puisi untuk menggambarkan kisah hidup petani kopi, ”Oh, pemilik biji harum kopi/air mata kopi tumpah dari cangkirku.” Dalam pengantar buku puisi Gola Gong, Air Mata Kopi: Kumpulan Puisi (2014), penyair Fikar W Eda, anak petani kopi di Gayo, menggambarkan kekhawatiran itu, ”Warga bumi berlomba-lomba mengubah kopi menjadi sesuatu yang fantastis dan penuh mimpi. Di kota besar, kopi adalah gaya hidup … para petani tetap terbelenggu dalam kemiskinan.” Nasib petani kopi makin rentan akibat perubahan iklim dan pemanasan global.

Sementara sebagai gaya hidup, kini di ruang-ruang ber-AC kelas menengah-atas dan di warkop rakyat jelata, aroma kopi berbaur menyelingi aktivitas dan santai. Ketika komoditas kopi saset membudaya sejak 2000-an, budaya ngopi tumbuh. Keterjangkauan harga kopi menjadikannya minuman egaliter, teman setia mahasiswa dan buruh hingga larut malam. Dengan daya tarik mengumpulkan mahasiswa dari berbagai lapis untuk ngopi bareng, ruang publik kecil terbentuk, perekat minat untuk berdiskusi bebas mengenai hal-hal yang disukai atau sekadar nongkrong.

Setiap hari, di seluruh dunia, kalimat ”ayo kita ngopi” mungkin diucapkan ribuan kali. Ketika budaya gawai kian merebut perhatian generasi milenial, ungkapan tersebut dimaknai baru. Ngopi bareng berbeda dengan ngopi sendiri. Bagi generasi baru, mitologi pengalaman ngopi lebih dari sekadar tindakan harfiah meneguk minuman hangat berkafein, juga lapisan pengalaman baru lewat secangkir kopi. Konstruksi budaya selera ini jadi jualan perusahaan global, seperti Starbucks, guna menyelaraskan dirinya dengan nilai-nilai gaya hidup.

Di kalangan masyarakat tertentu, ngopi dan menanam kopi seperti bagian dari ritual hidup. Di Belitung Timur, misalnya, setelah kejayaan perusahaan timah memudar, warkop menjamur, orang nongkrong membunuh waktu dan berkelakar berbagai hal, mulai dari gosip hingga hal serius. Sementara di Aceh, mantra kopi, diritualkan masyarakat Gayo, terutama saat menanam kopi, guna menguatkan keyakinan agar kopi tumbuh subur dan buahnya banyak.

Terbukti, sebagai budaya populer, di satu kawasan, kopi bagian dari budaya konsumtif; di kawasan lain, kopi menumbuhkan kreativitas dan budaya produktif.

Idi Subandy Ibrahim, Peneliti Budaya, Media, dan Komunikasi; Pengajar di Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Pasundan (Unpas) Bandung; dan Pengajar Luar Biasa di Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (Fisip) Universitas Brawijaya (UB) Malang.


Kerabat Kerja

Penulis:

Idi Subandy Ibrahim
 | 

Editor:

Sarie Febriane
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase