Para orangtua atau wali murid diminta segera memeriksakan anaknya ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala keracunan, seperti mual, muntah, dan diare.
02 Sep 2026 09:56 WIB · Nasional
Kompas/Runik Sri Astuti
SIDOARJO, KOMPAS — Keracunan massal di Sidoarjo, Jawa Timur, pada Selasa (1/9/2026) tidak hanya ditemukan di Pondok Pesantren Mambaul Hikam. Beberapa sekolah melaporkan siswanya juga mengalami gejala keracunan makanan setelah mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis pada hari yang sama.
Lembaga pendidikan tersebut merupakan penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang sama, yakni SPPG Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. SPPG ini melayani sekitar 2.900 porsi makanan setiap hari dan mendistribusikannya ke 19 sekolah, mulai sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/02/f46045003590efc9edaab785acc7f483-antarafoto_penanganan_korban_diduga_keracunan_di_sidoarjo_1788328150.jpg)
Pada Rabu (2/9/2026) pemerintah daerah menelusuri korban keracunan di 19 sekolah tersebut. Para orangtua atau wali murid diminta segera memeriksakan anaknya ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala keracunan, seperti mual, muntah, pusing, dan diare.
”Orangtua yang anaknya menunjukkan gejala keracunan jangan ragu-ragu merujukkan anaknya ke fasilitas medis. Jangan ada kekhawatiran soal biaya karena semua ditanggung pemerintah,” ujar Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Rabu (2/9/2026).
Emil mengatakan, korban keracunan makanan di Sidoarjo hingga Rabu pagi mencapai 512 siswa, termasuk para santri di Pondok Pesantren Mambaul Hikam. Data korban itu dihimpun dari delapan rumah sakit dan klinik yang menangani pasien keracunan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/09/01/38c5fc60-4cd5-4d24-8b53-d2d3744fc1bb.jpg)
Rumah sakit dan klinik itu adalah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Notopuro, RS Delta Surya, RSU Aisyiyah Siti Fatimah Tulangan, RS Siti Hajar, RS Pusura, RS Bhayangkara Pusdik Porong, Klinik Azka, dan RS Anwar Medika. Korban paling banyak berada di RSUD Notopuro, yakni lebih dari 330 pasien.
Setelah menjalani perawatan medis, kondisi sebagian korban keracunan berangsur membaik dan diperbolehkan pulang atau rawat jalan. Sebagian pasien masih diobservasi dan sebagian lainnya menjalani perawatan intensif atau rawat inap.
Emil memastikan semua korban keracunan makanan yang dilarikan ke rumah sakit telah mendapatkan penanganan medis sesuai dengan keluhan yang dirasakan serta hasil pemeriksaan yang dilakukan tenaga medis.
Sementara itu, Bupati Sidoarjo Subandi kembali menegaskan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa keracunan makanan di wilayahnya. Informasi yang menyebutkan adanya korban jiwa dipastikan tidak benar.
”Saya pastikan tidak ada korban meninggal dalam kejadian ini. Semua pasien sudah tertangani dengan baik, bahkan sudah ada yang diperbolehkan pulang. Saya mengimbau kepada wali santri jangan ada kekhawatiran,” ujar Subandi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/02/05bbeda36ca19781e7fbcb3a03231eb5-antarafoto_penanganan_korban_diduga_keracunan_di_sidoarjo_1788328162.jpg)
Subandi juga berjanji akan meminta penjelasan dan mengecek langsung SPPG yang memasok makanan program MBG ke pesantren tersebut pada Rabu ini. Upaya itu untuk mengetahui penyebab kejadian luar biasa yang menimpa ratusan santri di Pesantren Mambaul Hikam.
”Kami akan cek dapur atau SPPG di Tanggulangin yang memasak makanan tersebut untuk mengetahui mengapa bisa terjadi seperti ini. Termasuk perizinan dan legalitas lainnya,” ujar Subandi.
Saat dihubungi terpisah, Kepala Seksi Humas Polresta Sidoarjo Ajun Komisaris Tri Novi Handono mengatakan, tim penyidik dari Satuan Reserse Kriminal Polresta Sidoarjo sudah ke lokasi kejadian. Tim tersebut juga mulai mengumpulkan data dan keterangan dari berbagai pihak.
”Penyidik juga mendatangi penyedia makanan atau dapur SPPG yang berlokasi di wilayah Desa Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo,” ujar Novi, Rabu (2/9/2026).
Novi meminta masyarakat memberi waktu kepada tim penyidik untuk bekerja mengungkap penyebab keracunan tersebut. Selain itu, Dinas Kesehatan Sidoarjo juga akan memeriksa sampel makanan yang dikonsumsi para santri di laboratorium.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/02/11fab80acf3b9d8bfb514ca8495463b2-antarafoto_perawatan_korban_keracunan_makanan_di_sidoarjo_1788328134.jpg)
Kasus di Sidoarjo itu menambah panjang daftar keracunan MBG di Tanah Air. Sebelumnya, keracunan MBG terjadi di Lampung, yakni di Kabupaten Pesawaran, pada Jumat (24/7/2026). Keracunan menimpa 33 siswa dan seorang guru SD Negeri 22 Tegineneng setelah mereka mendapat paket berisi bubur kacang hijau, roti tawar, telur rebus, dan sop buah.
Di Jawa Timur, kasus keracunan MBG pernah terjadi di Kabupaten Mojokerto pada Januari 2026 dengan jumlah korban 411 pelajar, santri, dan orang dewasa.
Penulis:
Runik Sri AstutiEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Nur Adji