Presiden Korsel Lee Jae Myung memilih lentur berdiplomasi dengan Korut, berbeda dengan pendahulunya, Yoon Suk Yeol. Jalur komunikasi dibuka dan China diajak ikut.
07 Jan 2026 19:45 WIB · Internasional
AFP/Yonhap/Han Sang-kyung
SHANGHAI, RABU — Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung meminta Presiden China Xi Jinping bertindak menjembatani dialog dengan Korea Utara. Korsel ingin agar perundingan mengenai keamanan Semenanjung Korea, terutama penghentian pengembangan persenjataan nuklir Korut, dilanjutkan setelah mandek di masa kepresidenan Yoon Suk Yeol.
Hal itu dikemukakan oleh Lee di Shanghai, China, Rabu (7/1/20206). Lee sedang dalam lawatan resmi ke China. Ia sudah bertemu dengan Xi di Beijing pada Senin lalu. Di Shanghai, ia bertemu dengan perwakilan perusahaan-perusahaan Korsel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/07/908b0014-1086-42ba-b554-7e128796dc78_jpg.jpg)
”Ada satu hal yang saya minta dari China, yakni menjadi penengah untuk perundingan mengenai kestabilan di Semenanjung Korea. Ini termasuk pembahasan soal nuklir Korut,” kata Lee dalam acara makan siang bersama para wartawan, dikutip oleh kantor berita Korsel, Yonhap.
Presiden Korsel Yoon Suk Yeol yang dimakzulkan pada pertengahan 2025 memiliki sikap keras terhadap Korut. Selama pemerintahannya, semua saluran komunikasi Seoul dengan Pyongyang diputus. Yoon secara gamblang mendekatkan diri dengan Amerika Serikat, yang membuat Korut meradang.
Bahkan, pada Desember 2024, Yoon secara sepihak dan tanpa persetujuan DPR menyatakan Korsel dalam keadaan darurat militer. Sejumlah analisis politik dalam negeri Korsel mengatakan, Yoon selama kepresidenannya sengaja memanas-manasi Korut supaya berkonflik dengan Korsel sehingga memberi pembenaran untuk keputusan darurat militer.
Akibatnya, menurut Lee, yang terpilih pada akhir 2025, di antara kedua Korea kini nihil saling percaya. Korsel dan Korut sama-sama menunjukkan sikap bermusuhan. Lee mengatakan, ini berbahaya untuk masa depan Semenanjung Korea. Kedua Korea hingga kini masih berstatus perang karena perjanjian 1953 hanya mengenai gencatan senjata, belum membahas soal bina damai yang permanen.
”Beberapa tahun terakhir, pendekatan kami ke Korut bersifat militeristik. Tentu ini membuat Korut gugup. Presiden Xi memahami hal ini. Ia juga mengapresiasi upaya kami membuka kembali dialog,” tutur Lee.
Ia mengatakan, lawatannya ke China ini membuahkan banyak hasil. Lee mengungkapkan, dalam pertemuannya dengan Xi, Presiden China itu menyemangati Korsel untuk terus melakukan dialog. Kesabaran dan ketekunan adalah kunci.
Lee mempraktikkan gaya diplomasi yang luwes. Ia mendekati China sambil mempertahankan kedekatan dengan AS. Melalui cara ini, harapannya Korsel bisa menjaga keseimbangan di kawasan. Selama dua tahun terakhir, sikap Korut ke Korsel dan AS mengeras. Pemimpin Tertinggi Korut Kim Jong Un berkali-kali mengatakan bahwa Korsel adalah negara boneka imperialis AS.
Ketika baru dilantik, Lee sudah menekankan bahwa Korsel harus membangun kembali hubungan dengan Korut. ”Selama perang saudara (1950-1953) pun Korsel dan Korut tidak pernah berhenti berdiplomasi. Alangkah bodohnya kita menutup saluran komunikasi di zaman sekarang,” ujarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/07/a8664c34-96a6-4210-aa02-3fc64923b732_jpg.jpg)
Lee menjabarkan rencana diplomasinya dengan Korut. Prinsip dasarnya ialah bersikap sebagai tetangga yang baik dan saling menghormati. Kedua belah pihak harus berusaha memadamkan sentimen negatif yang beredar di publik.
Sentimen negatif ini tidak hanya sebatas hubungan antara kedua Korea, tetapi juga hubungan Korsel dengan China. China merupakan sahabat dekat Korut. Apabila hubungan Korsel dan China buruk, hal itu akan berpengaruh pada pengelolaan hubungan Korsel dengan Korut.
”Ada begitu banyak kesalahpahaman yang beredar di masyarakat Korsel dan China. Akibatnya, kita saling berprasangka buruk. Ini penghalang terbesar perkembangan hubungan kita,” Lee kepada Sekretaris Partai Komunis China Cabang Shanghai Chen Jining, dikutip harian Korean Joong Ang.
Lee berusaha membenahi hubungan Korsel dan China setelah kerenggangan di masa kepresidenan Yoon. Cara yang paling mudah dan pragmatis ialah meningkatkan kerja sama ekonomi. Lee bahkan menuturkan kepada Xi bahwa Korsel ingin terlibat aktif dalam rencana pembangunan lima tahun China yang bertenggat 2030.
Maksudnya ialah, Korsel menjadi pemain aktif pembangunan baik di kawasan Asia Timur maupun Indo-Pasifik. Dalam konteks China, setelah penguatan kerja sama ekonomi, dilanjutkan penguatan diplomasi antarmasyarakat. Setelah itu, mereka mulai bisa membahas kemungkinan kerja sama keamanan.
Ini adalah pertemuan kedua Xi dan Lee. Pertemuan perdana mereka berlangsung pada 1 November 2025 di Gyeongju, Korsel. Ketika itu, Xi menghadiahkan Lee telepon pintar Xiaomi. Lee menghadiahkan Xi seperangkat papan go (catur tradisional Asia Timur) dan kosmetik perawatan wajah. Dalam pertemuan kedua mereka di Beijing, awal pekan ini, kedua kepala negara berswafoto dengan telepon Xiaomi milik Lee.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/07/27e95aee-f5ce-4ba7-b4bc-3dae500a56b8_jpg.jpg)
Dikutip oleh kantor berita Pemerintah China, Xinhua, 5 Januari 2026, Xi mengatakan bahwa Korsel selalu menjadi mitra penting China. Tidak hanya untuk menjaga keseimbangan di kawasan, tetapi juga karena hubungan sejarah kedua negara yang demikian dekat.
Menurut Xi, Korsel sejak awal menjunjung nilai perdamaian dan hidup bersama dengan harmonis. Ia menyambut baik inisiatif Korsel untuk kembali ke nilai-nilai tersebut setelah beberapa waktu terakhir seolah tidak diterapkan secara maksimal.
Satu hari sebelum pertemuan Lee dan Xi di Beijing, Minggu (4/1/2026), Korut melakukan uji coba rudal balistik. Rudal-rudal itu ditembakkan dari daerah Pyongyang dan meluncur sejauh 900 kilometer sebelum jatuh ke laut. Korsel, AS, dan Jepang mengecam kejadian itu karena mengganggu keamanan dan kestabilan kawasan.
Korut dihujani berbagai sanksi selama Korsel di bawah kepresidenan Yoon. Kementerian Pertahanan Korsel kini membuka kembali saluran komunikasi dengan fokus membangun dialog dan menghilangkan kesalahpahaman.
”Dialog tidak bisa hadir di ruang kosong. Dialog baru bisa ada ketika ruang-ruang komunikasi antara kedua Korea telah terisi dan selalu terbuka. Hal itu mungkin tidak bisa tercapai dalam sekejap, tetapi dengan konsistensi dari Korsel, Korut bisa menangkap itikad baiknya,” kata Guru Besar Universitas Kajian Korea Utara Yang Moo-jin kepada Korea Times.
(AP/Reuters)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti