Korea Utara Sebut Proyek Kubah Emas AS Berbahaya

Bagi Pyongyang, Kubah Emas merupakan skenario perang nuklir luar angkasa yang mendukung strategi AS untuk dominasi unipolar.

27 Mei 2025 10:49 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

PYONGYANG, SELASA — Korea Utara mengecam proyek Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait sistem pertahanan udara Golden Dome (Kubah Emas). Pyongyang menyebut sistem tersebut sebagai ancaman yang sangat berbahaya.

Kantor berita KCNA, Selasa (27/5/2025), memberitakan, Institut Studi Amerika dari Kementerian Luar Negeri Korut mengeluarkan memorandum yang menyebutkan Kubah Emas sebagai inisiatif berbahaya bagi keamanan strategis negara-negara pemilik senjata nuklir. Selain itu, sistem tersebut memfasilitasi penggunaan kekuatan militer ofensif AS.

”Kubah Emas merupakan skenario perang nuklir luar angkasa yang mendukung strategi AS untuk dominasi unipolar dengan pendirian awal substruktur militer berbasis luar angkasa, bukan tindakan defensif untuk mengatasi ancaman,” tulis KCNA mengutip memorandum itu.

Pada 20 Mei 2025, Trump mengungkapkan konsep untuk Kubah Emas. Kubah Emas memanfaatkan jaringan ratusan satelit yang mengitari dunia dengan kemampuan berbasis darat, laut, dan luar angkasa. Kubah ini dimaksudkan untuk menghentikan rudal di empat tahap utama serangan potensial.

Gambar ini diambil pada 4 April 2025 dan dirilis dari Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA) melalui KNS pada 5 April 2025 menunjukkan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengunjungi pangkalan pelatihan pasukan operasi khusus Tentara Rakyat Korea di lokasi yang dirahasiakan di Korea Utara.

Artinya, sistem Kubah Emas dapat mendeteksi dan menghancurkan rudal sebelum peluncuran, mencegat rudal pada tahap awal peluncuran, menghentikan rudal di tengah perjalanan di udara, serta menghentikan rudal saat turun menuju target.

Kubah Emas bertujuan untuk melindungi AS dari rudal jelajah, rudal balistik, rudal hipersonik, dan pesawat nirawak, baik yang konvensional maupun nuklir. Sistem ini diproyeksikan beroperasi pada 2029 walau sumber pendanaan belum jelas.

”Rencana AS untuk membangun sistem pertahanan rudal baru adalah akar penyebab yang memicu perlombaan senjata nuklir dan antariksa global dengan membangkitkan kekhawatiran keamanan negara-negara pemilik senjata nuklir dan mengubah antariksa menjadi medan perang nuklir potensial,” bunyi pernyataan tersebut.

Kemenlu Korut turut menyoroti kerja sama militer trilateral AS, Korea Selatan, dan Jepang serta pengembangan pesawat luar angkasa tak berawak AS, yaitu X-37B. ”Kemunculan X-37B merupakan faktor tidak menyenangkan yang mengingatkan pada kemungkinan realistis peperangan antariksa,” ujarnya.

Strategi Korut

Selama beberapa tahun terakhir, Korut berupaya menambah rudal balistik antarbenua dengan hulu ledak ganda ke dalam persenjataannya, menurut Bloomberg. Langkah tersebut akan meningkatkan peluang setidaknya satu senjata nuklir melewati pencegat dan mencapai target.

Pada 2024, Korut mengklaim telah berhasil melakukan uji coba sistem dengan hulu ledak ganda. Namun, militer Korsel menuduh Korut menggunakan ”tipu daya dan pernyataan berlebihan” untuk menutupi rudal yang meledak pada tahap awal peluncuran.

Korut juga belakangan fokus memodernisasi alutsista lain, seperti di angkatan laut. Pyongyang sedang fokus mengembangkan kapal perang yang bisa membawa rudal nuklir.

Gambar ini diambil pada 4 April 2025 dan dirilis dari Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) resmi Korea Utara melalui KNS pada 5 April 2025 menunjukkan anggota Tentara Rakyat Korea mengambil bagian dalam latihan komprehensif di lokasi yang dirahasiakan di Korea Utara.

Bulan lalu, Trump mengatakan berencana untuk menghubungi Korut ”pada suatu saat”. Trump juga menegaskan memiliki hubungan baik dengan Pemimpin Korut Kim Jong Un.

”Saya memiliki hubungan yang baik dengan Kim Jong Un dan kita lihat saja apa yang terjadi. Namun, yang pasti, ia mempunyai kekuatan nuklir,” kata Trump.

Selama masa jabatan pertamanya, Trump mengumumkan penangguhan atau pengurangan beberapa latihan militer AS-Korsel setelah memulai pembicaraan tatap muka dengan Kim. Meski pembicaraan tersebut gagal, Trump telah menunjukkan kesediaan untuk mengadakan pembicaraan baru selama masa jabatan keduanya.

Penolakan terbaru

Kritik Korut keluar setelah sekutunya, China, menyatakan penolakan terhadap Kubah Emas. Beijing merupakan donatur terbesar Pyongyang selama beberapa dekade, termasuk dengan memasok bantuan untuk menopang perekonomian Pyongyang yang terhambat oleh sanksi internasional atas program nuklir Korut.

Bagi China, Kubah Emas dapat merusak stabilitas global. China sudah meminta AS menghentikan pengembangan sistem tersebut.

”Rencana Kubah Emas melanggar prinsip penggunaan ruang angkasa secara damai dan akan memicu perlombaan senjata,” ucap Juru Bicara Kemenlu China Mao Ning.

Foto yang dirilis Kementerian Pertahanan Rusia memperlihatkan kapal corvet milik Angkatan Laut Rusia Velikiy Ustyug berlayar di Laut Kaspia, Selasa (10/9/2024). Kapal ini akan ikut ambil bagian dalam latihan gabungan Rusia-China hingga 16 September mendatang. In this grab taken from a handout footage released by the Russian Defence Ministry on September 10, 2024, Russian Navy Caspian Flotilla corvette Velikiy Ustyug sails in the Caspian Sea during the "Ocean-2024" naval drills. (Photo by Handout / Russian Defence Ministry / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / Russian Defence Ministry / handout" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Media France24 melaporkan, Kremlin menyebutkan, inisiatif Trump akan memerlukan konsultasi dengan Rusia, tetapi menyadari itu merupakan ”masalah kedaulatan” bagi AS. Pernyataan itu menunjukkan sikap yang melunak seusai Rusia mengecam gagasan tersebut.

Tinjauan Pertahanan Rudal (MDR) 2022 oleh Pentagon menunjukkan, Beijing mulai mengejar Washington dalam teknologi rudal balistik dan hipersonik. Sementara Moskwa memodernisasi sistem rudal jarak antarbenua dan mengembangkan rudal serang presisi canggih.

Nama Kubah Emas terinspirasi dari nama sistem pertahanan udara milik Israel, Iron Dome (Kubah Besi). Sistem Israel telah mencegat ribuan roket jarak pendek sejak beroperasi tahun 2011. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Nur Hidayati