Jika arus kendaraan ini terus terjaga, diharapkan prediksi puncak arus mudik yang diperkirakan terjadi pada 28 Maret 2025 akan dapat dikelola dengan baik.
25 Mar 2025 16:26 WIB · Nusantara
JAKARTA, KOMPAS — Korps Lalu Lintas Kepolisian Negara Republik Indonesia mengklaim, kebijakan bekerja di mana saja alias work from anywhere bagi aparatur sipil negara berdampak positif terhadap pemerataan arus kendaraan selama mudik Lebaran 2025. Hal ini terlihat dari terurainya kepadatan kendaraan arus mudik sejak H-10 hingga H-7 Lebaran di sejumlah jalan tol di Pulau Jawa.
Pemerintah telah menerapkan kebijakan work from anywhere (WFA) bagi ASN dimulai pada 24-27 Maret 2025. Hal ini bertujuan agar para ASN dapat mengatur waktu mudiknya sehingga bisa menghindari kemacetan ekstrem saat Lebaran.
Kepala Korlantas Polri Inspektur Jenderal Agus Suryonugroho saat dihubungi di Jakarta, Rabu (25/3/2024), mengatakan, salah satu manfaat yang didapat dengan diterapkannya WFA bagi ASN ialah pemerataan arus kendaraan selama perjalanan mudik Lebaran 2025.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/18/2961334c-4cb4-4d6b-931b-0be2ecabec21_jpeg.jpeg)
Sebagai gambaran, dari situasi H-10 Lebaran atau Sabtu (22/3/2025) terjadi peningkatan volume kendaraan keluar Jakarta yang sampai 37 persen dibandingkan periode yang sama Lebaran tahun 2024. Angka itu merupakan angka kumulatif arus lalu lintas dari empat gerbang tol (GT) utama, yaitu GT Cikampek Utama (menuju arah Trans-Jawa), GT Kalihurip Utama (menuju arah Bandung), GT Cikupa (menuju arah Merak), dan GT Ciawi (menuju arah Puncak).
Kemudian, pada H-9 Lebaran juga ada peningkatan arus kendaraan sebesar 22 persen dibandingkan momentum yang sama pada tahun lalu. Pada H-8 Lebaran, arus kendaraan yang meninggalkan Jabotabek juga meningkat sebesar 17,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Lalu, pada H-7 Lebaran atau Selasa (24/3/2025), jumlah kendaraan yang meninggalkan wilayah Jabotabek naik 11,9 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama Idul Fitri 2024.
”Kami memperkirakan, di H-3 Lebaran itu sudah tidak terlalu karena sudah mulai terurai sejak awal. Kebijakan pemerintah yang cepat berdampak proses kelancarannya cukup bagus,” ujar Agus.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/21/bddb02d6-865c-4e5e-bc45-2cc68c26eea8_jpg.jpg)
Jika arus kendaraan ini terus terjaga, Agus berharap prediksi puncak arus mudik yang diperkirakan terjadi pada 28 Maret akan dapat dikelola dengan baik. Tentunya, hal itu juga sesuai dengan perhitungan arus kendaraan apabila akan dilakukan rekayasa lalu lintas nantinya.
”Oleh sebab itu, nanti apabila puncak arus mudiknya tanggal 28 Maret ini, sudah bisa kami kelola dengan baik, apakah nanti kami lakukan contraflow (atau) one way,” tutur Agus.
Korlantas Polri telah menyiapkan berbagai rekayasa lalu lintas di beberapa jalur tol, jalan nasional, hingga tempat-tempat penyeberangan. Hal ini guna memastikan kelancaran pemudik menuju kampung halamannya.
Berbagai rekayasa lalu lintas telah dirancang oleh Korlantas Polri untuk memastikan perjalanan yang lebih lancar dan aman bagi masyarakat. Namun, implementasi rekayasa lalu lintas bakal disesuaikan dengan situasi yang berkembang.
Pertama, contraflow akan diberlakukan di ruas Tol Jakarta-Cikampek dari Kilometer 40 sampai Km 70. Penerapannya akan dilaksanakan mulai Kamis (27/3/2025) pukul 14.00 hingga Sabtu (29/3/2025) pukul 24.00. Adapun pada Minggu (30/3/2025), tidak ada contraflow di jalur tersebut. Penerapan lawan arus kemudian berlanjut di ruas jalan tol yang sama pada Senin (31/3/2025) pukul 11.00 hingga Selasa (1/4/2025) pukul 18.00.
Sementara itu, skema one way menurut rencana akan diberlakukan mulai dari Jalan Tol Jakarta-Cikampek Km 70 sampai Km 414 di ruas Tol Semarang-Batang. Skema satu arah di dua jalur ini diberlakukan pada Kamis (27/3/2025) pukul 14.00 hingga Sabtu (29/3/2025) pukul 24.00.
”Apabila terjadi puncak arus mudik, biasanya H-3 Idul Fitri. Itu akan kami lakukan one way, namanya one way nasional. Itu akan kami lakukan,” ujar Agus.
Namun, ia menekankan sekali lagi bahwa penerapan skema contraflow dan one way bergantung pada situasi di lapangan. Ia mencontohkan, skema contraflow biasanya diterapkan pada H-5 atau H-4 Lebaran ketika bangkitan arus mudik sudah cukup tinggi.
”Jadi, kalau sudah 5.500 (kendaraan) per jam melintasi Km 50 arah ke Tol Trans-Jawa, kami akan lakukan contraflow. Jadi, indikatornya seperti itu,” ujar Agus.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/04/14/6fd02678cae5184cf5b3818f10236dce-IMG_20240414_131550.jpg)
Kemudian, penerapan skema one way juga tergantung kepadatan arus di kilometer setelahnya. Apabila jumlah kendaraan yang melintasi Km 71 sudah 6.200 kendaraan per jam, pihaknya akan segera memberlakukan one way.
”Indikator-indikator itu kalau memang tidak sampai, kemungkinan tidak akan kami berlakukan. Namun, rencananya, untuk one way itu H-3 atau tanggal 28 Maret. Itu diprediksi puncak arus mudiknya di situ,” tutur Agus.
Sementara skema ganjil genap menurut rencana akan diberlakukan di Jalan Tol Jakarta-Cikampek Km 47 sampai Jalan Tol Semarang-Batang Km 414. Rekayasa ganjil genap juga akan diberlakukan di Jalan Tol Tangerang-Merak Km 31 sampai Km 98.
Agus mengingatkan, skema ganjil genap ini telah diberlakukan per Minggu (23/3/2025). Meski ini bersifat imbauan, ia berharap pemudik dapat menaatinya sehingga arus lalu lintas dapat terjaga.
”Silakan untuk bisa mengatur sendiri keberangkatannya. Terutama yang menggunakan jalan, diharapkan kesadaran dari pemudik untuk bisa mengatur sendiri sehingga bisa memecah kepadatan. Karena ini dalam rangka mengamankan, yang paling terpenting itu aman, lancar, selamat,” tegasnya.
Direktur Penegakan Hukum Korlantas Polri Brigjen (Pol) Raden Slamet Santoso menambahkan, pihaknya akan mengawasi penerapan sistem ganjil genap di sejumlah titik yang telah ditentukan. Nantinya, jika ditemukan kendaraan dengan nomor polisi yang tidak sesuai tanggalnya, akan langsung diarahkan ke jalur-jalur yang tidak diberlakukan ganjil genap.
”Dialihkan ke jalur-jalur yang tidak berlaku ganjil genap,” ujar Slamet.
Slamet mengatakan, tidak ada sistem tilang konvensional atau pemberhentian kendaraan bagi pelanggar ganjil genap saat mudik Lebaran. Sebab, penindakan aturan ganjil genap akan melalui sistem tilang elektronik atau kamera electronic traffic law enforcement (ETLE).
Kemudian, untuk proses pengamanan selama mudik Lebaran ini, Korlantas telah membagi tim ke sejumlah wilayah. Mereka tersebar di jalan tol wilayah Jabodetabek serta jalur utama mudik, termasuk ruas Tol Cikampek, Palimanan-Kanci, Cipularang, Jagorawi, hingga Pelabuhan Merak.
Penulis:
Nikolaus HarbowoEditor:
Caecilia Mediana