Presipitasi atau curah hujan makin mengakrabi kota-kota. Riset menunjukkan bentuk kota memengaruhi terjadinya kondisi ini. Perlu solusi mencegah dampak buruk.
24 Mei 2025 11:00 WIB · Artikel Opini
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/06/39928bac1933d63dc5018a585a7bb435-cropped_image.png)
Jalanan basah. Genangan di mana-mana. Mereka yang ingin terhindar dari hujan memilih berteduh di emperan toko, halte, di bawah jembatan penyeberangan jalan atau jalan layang. Arus kendaraan makin terkunci, kemacetan di sepanjang jalan. Penumpang angkutan umum kian membeludak berjejalan.
Pemandangan chaos itu umum ditemukan di kota-kota besar ketika curahan air dari langit tak berhenti mengguyur seperti beberapa pekan terakhir. Banjir hingga longsor di perkotaan menjadi bencana yang makin kerap. Sehari-hari, suasana di kota terasa gerah, lembab, tetapi seperti secepat kilat berubah, berganti diterpa hawa dingin seiring hujan deras berjam-jam.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada awal Mei 2025 mengumumkan bahwa lebih dari separuh wilayah Indonesia memasuki musim kemarau. Namun, sejumlah daerah justru tak berhenti diguyur hujan. BMKG menyebut Indonesia sedang mengalami kemarau basah. Fenomena yang dideteksi sering terjadi setidaknya sejak 2010 dan berulang dengan jeda waktu 2-4 tahun sekali. Kemarau basah ini, menurut BMKG, cenderung dipengaruhi menghangatnya suhu muka air laut Indonesia hingga September mendatang.
Terkait meningkatnya curah hujan (presipitasi) di musim kemarau atau panas khususnya di perkotaan, ternyata telah lama dirasakan oleh masyarakat yang dilaporkan dari berbagai penjuru dunia. Peneliti dari berbagai negara menjadikannya bahan riset yang berkesinambungan.
”Understanding the Influence of Urban Form on the Spatial Pattern of Precipitation”, salah satu jurnal yang dipublikasikan pada 8 Januari 2024 menyebutkan bahwa mayoritas studi yang diterbitkan pada tahun 2000 hingga 2010 mencatat peningkatan curah hujan di musim hangat atau panas.
Setiap kota memiliki tata letak dan latar geografis berbeda yang unik. Kondisi unik kota, seperti terlihat dari bentuk yang mencakup karakteristik permukaan lahan, fraksi permukaan kedap air, ukuran, kepadatan bangunan, dan orientasi ngarai jalan dapat memengaruhi suhu, kelembaban, dan presipitasi.
Pada 2011, salah satu riset di Beijing, China, misalnya, menunjukkan bahwa tingkat modifikasi presipitasi di kota itu telah meningkat secara stabil seiring pertumbuhan kota.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/04/2a947662-9c64-4247-93e7-90b3365b4511_jpg.jpg)
Suhu dan kelembaban wilayah perkotaan dapat mengubah presipitasi karena berbagai sebab, di antaranya melalui efek pulau panas perkotaan (urban heat island/UHI). Bentang lahan kota yang minus tutupan hijau dapat meningkatkan suhu udara lokal dan kelembaban yang memicu konveksi dan presipitasi perkotaan.
Selanjutnya, peningkatan konvergensi dan bifurkasi angin tingkat rendah atau pengalihan sistem konveksi presipitasi. Kemudian, peningkatan pelepasan aerosol perkotaan atau partikel padat maupun cair halus dari berbagai polusi akibat aktivitas manusia yang tersuspensi di udara dan ikut memengaruhi pembentukan awan.
Jurnal yang sama menyebutkan bahwa dari 27 kota yang disasar untuk diteliti di seluruh Amerika Serikat pada musim panas tahun 2015–2021, sebanyak 80 persen di antaranya menunjukkan peningkatan curah hujan yang signifikan.
Tujuh peneliti dan penulis jurnal tersebut menemukan bahwa kawasan pusat kota dapat diterpa hujan lebih sering dan lebih deras. Faktor arah angin dan kedekatan dengan wilayah perairan seperti laut turut menentukan tingginya curah hujan.
Para peneliti menyadari presipitasi bagian dari cuaca ekstrem yang beberapa tahun terakhir makin sering terjadi di berbagai belahan bumi. Fenomena ini tidak lepas dari dampak pemanasan global dan perubahan iklim. Meskipun demikian, ada kecenderungan cuaca di setiap wilayah berbeda, memiliki kekhasan maupun ancamannya sendiri karena beragamnya bentuk bentang kota.
Kota yang diprediksi tak akan berhenti berkembang dan menjadi rumah bagi hampir 70 persen populasi dunia pada 2050 mendatang diminta bersiap menghadapi dampak buruk dari cuaca ekstrem ini. Menjadi kota tangguh menjadi pilihan satu-satunya, karena dengan demikian berarti memiliki kemampuan untuk bertahan hidup, beradaptasi, dan berkembang demi melindungi para penghuninya serta kelestarian lingkungan tempat hidupnya.
Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) melihat kota tangguh juga sebagai kota yang menyadari apa yang akan terjadi pada kawasannya dalam beberapa dekade ke depan berikut apa yang perlu disiapkan untuk menghadapi (mitigasi) berbagai risiko terburuk. Kota tangguh berarti pula mampu keluar dari disrupsi dengan menggunakan apa pun yang dihadapi saat ini sebagai petunjuk untuk memperkuat sistem pembangunan wilayah urban.
Untuk menjawab tantangan iklim, kota perlu mencari cara bagaimana mengatasi urban heat dan membuat tanah mereka tak lagi jenuh sehingga dapat menormalkan lagi fungsi sistem penyerapan air.
Para ahli perkotaan melihat ada solusi sederhana yang dapat dilakukan perorangan selain strategi lebih menyeluruh di tingkat kota atau regional. Upaya mengecat atap rumah dengan warna putih yang tidak menyerap panas, misalnya, dapat dilakukan di tingkat rumah tangga. Inovasi cat khusus atau lapisan tertentu yang berefek mendinginkan jalan maupun trotoar patut dicoba. Gerakan penghematan penggunaan listrik dan bangunan ramah lingkungan pun perlu makin ditingkatkan.
Bagian kota dengan banyak bangunan terbengkalai mesti dihidupkan kembali. Penggunaan ulang ini dapat menekan penggunaan lahan untuk bangunan baru untuk beragam kebutuhan, seperti hunian dan pusat bisnis maupun perkantoran. Penggunaan ulang dianjurkan dengan pendekatan pemakaian bahan bangunan lebih ringan tetapi kuat dan ramah lingkungan sehingga kian mengurangi beban pada lahan. Hal sama diharapkan diberlakukan saat membangun berbagai infrastruktur kota seperti jalan, jembatan, dan lainnya.
Pemerintah kota dan pusat dapat lebih banyak membuka diri untuk peluang investasi demi membangun kota tangguh. Pemerintah diajak melihat isu kota tangguh ini sebagai pendekatan untuk menjawab berbagai persoalan lain, seperti ketika ekonomi tengah terpuruk, tingkat pengangguran tinggi, dan masalah lain. Bukan masanya lagi isu keberlanjutan bertentangan dengan pembangunan ekonomi.
Forbes dalam salah satu laporannya memaparkan bahwa kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) makin dibutuhkan dalam perencanaan dan tata kelola perkotaan di masa sekarang dan akan datang. AI digunakan untuk merencanakan dan memberikan layanan kepada urbanis dengan lebih efisien.
Dengan mengolah data terkait tren cuaca, kemarau basah, presipitasi perkotaan, bentuk kota, maka penggunaan AI dapat mengolahnya untuk memungkinkan memberi informasi penting kepada warga saat mereka menjalani keseharian. AI dapat pula memberi panduan pengalokasian sumber daya yang lebih efisien untuk beberapa alternatif solusi, pemodelan prediktif strategi, hingga kebutuhan infrastrukturnya.
Di sisi lain, meskipun curah hujan meningkat, ancaman kekurangan air di perkotaan tetap akan berlipat ganda pada tahun 2050. Dalam hal ini, kemajuan teknologi dapat memperkirakan kebutuhan langkah-langkah guna mengantisipasi tingkat ketersediaan dan penggunaan air yang akan terus berfluktuasi. Perlu pula dikembangkan teknik-teknik canggih untuk daur ulang, distribusi, dan desalinasi. Pengelolaan air yang lebih cerdas berarti mengadaptasi cara air dikumpulkan, disimpan, dan digunakan dalam menghadapi pertumbuhan populasi yang cepat dan perubahan iklim.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/11/8c15494d-b978-43e3-9529-11cc102dacfa.jpg)
Yang tidak boleh lupa disiapkan adalah ketahanan rantai pasok yang mencakup bagaimana memungkinkan diversifikasi pemasok dan rute logistik yang dapat menekan potensi gangguan akibat cuaca ekstrem. Perlu juga kebijakan mengembangkan dan memperbarui secara berkala berbagai skenario melindungi aktivitas bisnis terkait cuaca. Dan, pastinya jaminan keselamatan pekerja dengan menerapkan protokol untuk kondisi cuaca ekstrem, termasuk opsi kerja jarak jauh selama cuaca buruk.
Hujan di tengah kemarau bukan selalu soal genangan, macet, dan basah di antara gerah yang mengganggu pada hari ini saja. Guyuran air tak berhenti pada saat seharusnya panas merajai—yang kian jadi fenomena rutin ini—menjadi alarm agar kota-kota segera berbenah, menjadi tangguh dan berkelanjutan.
Penulis:
Neli TrianaEditor:
Gesit AriyantoPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto