Menyikapi kenaikan harga di Lampung, Bulog Lampung menyalurkan beras stabilisasi pasokan dan harga pangan atau SPHP.
23 Jul 2025 19:16 WIB · Ekonomi & Bisnis
BANDAR LAMPUNG, KOMPAS — Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyebut kenaikan harga beras di Lampung dipicu masalah saluran distribusi yang terlalu panjang. Hal ini mesti dicari solusinya agar kelak tidak berujung merugikan banyak pihak, terutama konsumen.
Berdasarkan pemantauan Kompas, kenaikan harga beras di pasaran sudah berlangsung sejak awal Juli 2025.
Harga beras medium Rp 13.000-Rp 13.500 per kilogram. Sementara harga beras premium mencapai Rp 16.000 per kg, tergantung merek.
Adapun harga eceran tertinggi (HET) untuk Lampung bagi beras medium Rp 12.500 per kg dan beras premium Rp 14.900 per kg.
Kepala Kantor Wilayah II KPPU Wahyu Bekti Anggoro mengungkapkan, harga beras medium dan premium di ritel modern relatif stabil. Namun, di pasar-pasar tradisional harganya cenderung naik dan berada di atas harga eceran tertinggi.
”Kami melihat itu disebabkan hambatan saluran distribusi yang terlalu panjang dari produsen sampai pengecer,” kata Wahyu kepada Kompas, Rabu (23/7/2025).
Untuk mengatasi persoalan itu, KPPU telah meminta produsen untuk memberikan akses kepada pedagang atau pengecer secara langsung. Semua harus dilakukan tanpa perantara, seperti yang dilakukan ke ritel modern.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/14/b3d628f3738302314e4a356c53c8bdfc-DSC01242.JPG)
”Pada ritel modern, harga beras dapat dijual sesuai HET. Namun, di pasar tradisional harga di atas HET. Artinya terdapat hambatan distribusi pada pasar tradisional yang diakibatkan middle man atau perantara,” ujarnya.
Dia menambahkan, saat ini KPPU juga masih mendalami terkait dengan dugaan pengoplosan beras yang berasal dari Lampung. Namun, Wahyu belum dapat membeberkan hasilnya.
Terkait pengoplosan, Sekretaris Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Lampung Supriadin mengatakan, para pengusaha merasa tidak pernah melakukan praktik curang dalam jual beli beras.
Dia menyebut, selama ini pelaku usaha memang tidak bisa membeda-bedakan padi yang dibeli dari petani, apakah akan menghasilkan beras berukuran panjang atau pendek saat digiling. Beras-beras hasil giling itulah yang kemudian dikemas dalam karung-karung untuk dijual ke konsumen.
”Kami merasa tidak pernah melakukan itu (pengoplosan). Yang dimaksud mengoplos itu bagaimana?” katanya.
Dia menilai, produsen dapat diduga mengoplos jika beras sengaja dicampur menir, kulit padi, atau pasir. Selama ini, produsen beras di Lampung sudah berupaya menjaga mutu beras sebelum didistribusikan ke konsumen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/02/12/d31ba160-5932-4fb0-acf4-1f9d7b487ee8.jpg)
Bahkan, kata Supriadin, pihaknya juga mengupayakan agar beras dari penggilingan langsung dibeli konsumen akhir. Namun, kenaikan harga gabah yang saat ini menyentuh Rp 7.200 per kg membuat harga beras juga ikut naik. Saat ini, harga beras di tingkat penggilingan mencapai Rp 14.400-Rp 14.600 per kg.
Menyikapi kenaikan harga beras di Lampung, Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kantor Wilayah Lampung Nurman Susilo mengatakan, pihaknya mulai menyalurkan beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) pada Juli hingga Desember 2025. Penyalurannya dilakukan bersamaan dengan program bantuan pangan beras untuk masyarakat prasejahtera.
SPHP, nantinya, hanya akan disalurkan melalui kios di pasar yang sudah bermitra dengan Bulog. Selain itu, penyaluran SPHP juga dilakukan melalui Koperasi Desa Merah Putih, kios binaan milik pemerintah daerah, dan gerakan pangan murah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/20/09d808dee4cc4d2ab933de230d480f43-WhatsApp_Image_2025_05_20_at_12.28.37.jpeg)
Setiap kios akan mendapat pasokan maksimal 2 ton per minggu. Kios yang sudah bermitra dengan Bulog wajib memasang spanduk dan pemberitahuan harga eceran tertinggi beras SPHP sebesar Rp 12.500 per kg agar konsumen mengetahuinya.
Beras SPHP juga hanya boleh dijual kepada konsumen terakhir atau masyarakat yang membutuhkan. Pembelian beras SPHP dibatasi maksimal dua kemasan atau 10 kg untuk memastikan program tersebut tepat sasaran.
”Program stabilitasi pasokan dan harga pangan sudah mulai berjalan. Bulog ditugaskan menyalurkan 39.300 ton beras SPHP mulai Juli hingga Desember 2025,” kata Nurman.
Nurman menambahkan, pihaknya juga masih terus melakukan penyerapan gabah petani dengan HPP sebesar Rp 6.500 per kg. Dari target serapan 143.000 ton sepanjang 2025, Bulog telah menyerap sebanyak 139.900 ton atau setara 97 persen.
Karena itu, Bulog Lampung meminta masyarakat tidak perlu panik terhadap ketersediaan beras di pasaran. Stok di Bulog mencukupi. Pihaknya juga siap intervensi menjaga stabilitas harga beras.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/04/16/20200416_103845_1587034064.jpg)
Saat ini, stok beras di gudang Bulog Lampung sebanyak 151.857 ton. ”Ini stok yang sangat banyak untuk Bulog Lampung sepanjang 10 tahun terakhir,” ujarnya.
Tujuan penyaluran beras SPHP tentu untuk menstabilkan harga beras di pasaran. Penyaluran beras SPHP yang akan terus dilakukan hingga akhir tahun diharapkan membuat harga beras tidak semakin meroket.
Penulis:
Vina OktaviaEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto