KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, Mengulang Kebesaran Angkatan Laut Indonesia

Dua kapal perang asal Italia yang segera diterima TNI AL diberi nama KRI Brawijaya dan KRI Prabu Siliwangi. Dengan nama itu, harapan besar disematkan pada keduanya.

05 Mar 2025 13:51 WIB · Politik & Hukum

Oleh Norbertus Arya Dwiangga Martiar

TNI Angkatan Laut akan segera menerima dua kapal perang baru, yakni KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321. Dua kapal ini digadang-gadang menjadi kapal terbesar yang dioperasikan TNI AL.

KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321 merupakan dua kapal buatan Italia jenis offshore patrol vessels (OPV) atau kapal patroli lepas pantai. Kedua kapal itu merupakan buah dari kontrak pembelian kapal antara Pemerintah RI dan Fincantieri senilai 1,18 miliar euro yang ditandatangani Maret 2024.

Untuk mempercepat pengiriman ke Indonesia, Fincantieri mengambil dua unit kapal yang sudah selesai dibangun untuk Angkatan Laut Italia, yakni unit kelima dan keenam. Kapal tersebut diluncurkan November 2022 dan diberi nama Marcantonio Colonna dan Ruggiero di Lauria.

Kapal ini memiliki panjang 143 meter, lebar 16,5 meter, draft 5,2 meter, kecepatan maksimum 32 knot yang ditenagai oleh kombinasi mesin diesel, listrik, dan gas turbin. Kapal tersebut dipersenjatai dengan SAM: 16 VL Sistem, SSM: 8 Teseo Mk-2E, meriam 127 mm, meriam 76 mm, dan torpedo. Meski memiliki sistem peluncur vertikal, belum jelas jenis rudal yang akan dipasangkan ke kapal tersebut karena kontrak pembelian kapal tidak mencakup pembelian rudal.

Penamaan KRI KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, Rabu (29/1), di Muggiano, Italia.

Kapal ini dirancang untuk patroli lepas pantai dan mengemban berbagai tugas pertempuran (multipurpose combat ship), antara lain pengawasan perbatasan, keamanan maritim, anti-penyelundupan, pertempuran di garis depan, dan bantuan bencana. Kedua kapal tersebut dijadwalkan akan diserahkan kepada Angkatan Laut Indonesia pada tahun ini.

Di jajaran kapal TNI AL, keduanya diberi nomor lambung berawalan 3. Ini menandakan kedua kapal tersebut akan bertugas di satuan tugas kapal eskorta atau kapal perang. Kapal bernomor lambung 3 biasanya diisi jajaran kapal berjenis fregat atau korvet.

Dalam seremoni penggantian nama kapal pada akhir Januari 2025 yang dilangsungkan di galangan kapal Fincantieri di Muggiano (La Spezia), Kepala Staf TNI AL Laksamana Muhammad Ali mengatakan, nama KRI Brawijaya dan KRI Prabu Siliwangi terinspirasi dari raja-raja Nusantara. Nama-nama ini dipilih dengan harapan agar kapal-kapal ini kelak menjadi legenda baru yang berkontribusi besar bagi kejayaan bangsa.

”Pemberian nama kapal bukan sekadar formalitas, melainkan merupakan langkah strategis dalam membangun identitas kapal. Nama-nama yang dipilih tersebut merupakan simbol harapan, doa, dan tekad untuk menegakkan kedaulatan dan kehormatan bangsa di seluruh lautan dunia,” kata Ali (Kompas.id, 30/1/2025).

<p>Foto Fregat FREMM Bergamini seperti ditampilkan di laman daring Fincantieri </p>

Pada saat penandatanganan kontrak, Direktur Fincantieri Pierroberto Folgiero mengatakan, kontrak ini menjadi titik awal kerja sama strategis antara perusahaan dan Indonesia. Kontrak ini adalah yang pertama dari sekian banyak peluang kerja sama dengan Kementerian Pertahanan Indonesia. Asia Tenggara adalah wilayah yang menjadi pusat geopolitik dunia saat ini dan Fincantieri ingin hadir di sana.

Berbicara mengenai nama yang disematkan, yakni Brawijaya dan Prabu Siliwangi, kedua nama itu bukan sama sekali baru. Di era Orde Lama, Angkatan Laut Indonesia pernah mengoperasikan kapal perusak kelas Skory buatan Uni Soviet. Kapal pertama yang dioperasikan AL Indonesia bernama Siliwangi dengan nomor lambung 201 sehingga disebut kelas Siliwangi.

Indonesia disebut-sebut pernah mengoperasikan sampai delapan kapal kelas Skory, salah satu yang terbanyak dibandingkan dengan negara lain di luar Uni Soviet. Selain Indonesia, negara yang pernah mengopersikan kapal perang pasca-Perang Dunia II tersebut adalah Mesir dan Polandia.

Demikian pula AL Indonesia pernah memiliki kapal perang bernama Brawidjaja yang bernomor lambung 307. Sebelum diakuisisi AL Indonesia, Brawidjaja 307 bernama Bezzhalostny. Di AL Uni Soviet, kapal ini diluncurkan pada Desember 1950 dan ditugaskan ke Armada Laut Hitam pada 1951.

KSAL Laksamana Muhammad Ali menekankan pentingnya penguatan postur TNI AL, Rabu (29/1), di Muggiano, Italia.

Setelah beroperasi sekitar 14 tahun, kapal tersebut dinonaktifkan oleh AL Uni Soviet dan dijual ke AL Indonesia pada 1964. Di AL Indonesia, kapal itu berganti nama menjadi Brawidjaja-307. Setelah beroperasi memperkuat AL Indonesia selama beberapa tahun, Brawidjaja-307 dipensiunkan pada awal 1970-an.

Kapal kelas Skory atau Siliwangi ini memiliki panjang 120,5 meter, lebar 12 meter, dan draft 3,9 meter. Kapal ini bisa dipacu sampai kecepatan 36,5 knot. Dari sisi ukuran kapal, KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321 lebih besar dibandingkan dengan pendahulunya.

Kapal terbesar

Pada masa itu persenjataan kelas berat Indonesia banyak dipasok dari Uni Soviet. Buku Sejarah Operasi-Operasi Pembebasan Irian Barat karangan M Cholil yang diterbitkan Departemen Pertahanan-Keamanan Pusat Sejarah ABRI mencatat, pada akhir tahun 1960 Menteri Keamanan Nasional Jenderal AH Nasution mengadakan kunjungan ke Uni Soviet untuk menandatangani persetujuan pembelian senjata melalui skema kredit jangka panjang yang tidak memberatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

”Pembelian senjata tersebut adalah yang terbesar dalam sejarah Indonesia yang pernah dilakukan dengan luar negeri,” demikian dikutip dalam buku tersebut.

Dalam artikel Poros Maritim Dunia sebagai Pendekatan Strategi Maritim Indonesia: Antara Perubahan atau Kesinambungan Strategi? dalam jurnal Global & Strategis, Tahun 11, Nomor 2 yang ditulis Probo Darono Yakti dan Joko Susanto, tercatat, pada 1960-an, yang paling diingat pada masa itu adalah pembelian kapal penjelajah KRI Irian-201. Sebuah pembelian peralatan perang yang nilainya disebut-sebut sebesar 1 miliar dollar AS.

Miniatur KRI Irian – Miniatur KRI Irian dipamerkan dalam Pameran Museum se-Jatim 2012, Senin (25/6) di lapangan tenis indoor Museum Probolinggo.KRI Irian merupakan kapal perang terpanjang yang pernah dimiliki Indonesia, yaitu sepanjang 210 meter buatan Rusia. Saat ini panjang kapal perang Indonesia 135 meter. Pameran Museum se-Jatim ini digelar 24-27 Juni 2012. Kompas/Dahlia Irawati (DIA) 25-06-2012

KRI Irian-201 tiba di Indonesia pada 1962 dan menjadi kapal penjelajah terbesar yang pernah dimiliki Indonesia. Panjang kapal tersebut adalah 210 meter, lebar 22 meter, dan draft 6,9 meter. Kapal tersebut dipersenjatai dengan berbagai meriam kapal ataupun meriam antipesawat serta torpedo untuk perang antikapal selam.

Selain KRI Irian-201, Indonesia membeli banyak kapal perusak dan kapal fregat dari Uni Soviet yang menjadikan AL Indonesia sebagai angkatan laut terkuat kedua di Asia pada masa itu.

Kembali ke pembelian kapal perang dari Italia, sebelumnya diberitakan bahwa Fincantieri telah bersepakat dengan Kementerian Pertahanan RI untuk pembelian enam kapal perang kelas fregat FREMM dan dua kapal bekas, kelas fregat Maestrale. Jika semua bisa terwujud, jajaran TNI AL akan semakin banyak diisi dengan alutsista modern dan canggih.

Kini, kedatangan KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321 kembali mengingatkan kita bahwa Indonesia pernah memiliki kapal perang berukuran besar. Sebagaimana nama raja-raja besar yang disandangnya, harapan besar disematkan kepada keduanya.

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Norbertus Arya Dwiangga Martiar
 | 

Editor:

Anita Yossihara