Indonesia akan diperkuat dua kapal patroli buatan Italia, KRI Brawijaya dan KRI Prabu Siliwangi. Salah satu kapal akan berpatroli hingga ke Laut China Selatan.
16 Mei 2025 10:03 WIB · Politik & Hukum
Kekuatan armada Angkatan Laut RI akan segera bertambah dalam waktu dekat. Dua kapal baru buatan Italia, yakni KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, akan segera tiba di Tanah Air. KRI Brawijaya direncanakan sudah tiba pada akhir Agustus 2025. Kemudian menyusul KRI Prabu Siliwangi-321 yang bakal tiba pada Januari 2026. Apa keunggulan kedua kapal yang akan menjadi kapal patroli terbesar di jajaran TNI AL ini?
KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321 merupakan dua kapal buatan Italia jenis offshore patrol vessels (OPV) atau kapal patroli lepas pantai. Kedua kapal itu merupakan buah dari kontrak pembelian kapal antara Pemerintah RI dan Fincantieri, perusahaan pembuatan kapal di Italia, senilai 1,18 miliar euro yang ditandatangani pada Maret 2024.
Untuk mempercepat pengiriman ke Indonesia, Fincantieri mengambil dua unit kapal yang sudah selesai dibangun untuk Angkatan Laut Italia, yakni unit kelima dan keenam. Kapal tersebut diluncurkan November 2022 dan diberi nama Marcantonio Colonna dan Ruggiero di Lauria.
Kapal ini memiliki panjang 143 meter, lebar 16,5 meter, draf 5,2 meter, kecepatan maksimum 32 knot yang ditenagai oleh kombinasi mesin diesel, listrik, dan gas turbin. Kapal tersebut dipersenjatai dengan SAM: 16 VL Sistem, SSM: 8 Teseo Mk-2E, meriam 127 mm, meriam 76 mm, dan torpedo.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/16/a4e8b8a274bd37e7f4d8ad0c1bebd473-WhatsApp_Image_2025_05_15_at_23.57.42.jpeg)
Kapal ini dirancang untuk patroli lepas pantai dan mengemban berbagai tugas pertempuran (multipurpose combat ship), antara lain pengawasan perbatasan, keamanan maritim, antipenyelundupan, pertempuran di garis depan, dan bantuan bencana. Kedua kapal tersebut dijadwalkan akan diserahkan kepada Angkatan Laut Indonesia pada tahun ini.
Di jajaran kapal TNI AL, keduanya diberi nomor lambung berawalan 3. Ini menandakan kedua kapal tersebut akan bertugas di satuan tugas kapal eskorta atau kapal perang. Kapal bernomor lambung 3 biasanya diisi jajaran kapal berjenis fregat atau korvet.
Dalam acara ”Industry Forum” di atas kapal perang Italia, Antonio Marceglia, yang tengah berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (15/5/2025), Country Manager Fincantieri di Indonesia Nevio Parodi memastikan rencana kedatangan kedua kapal tersebut dalam delapan bulan ke depan. KRI Brawijaya lebih dulu, yakni pada Agustus 2025, lalu mengusul KRI Siliwangi pada Januari 2026.
Saat ini, lanjut Nevio, kedua kapal tersebut tengah menjalani tahap uji coba. KRI Prabu Siliwangi-321, misalnya, sudah dilepas ke lautan untuk menjalani serangkaian uji coba.
Nevio mengatakan, kapal patroli multiguna dengan panjang 143 meter itu menggunakan banyak teknologi terbaru. Seluruh sistem di kedua kapal tersebut dikerjakan oleh perusahaan Italia, Leonardo.
Country Manager Leonardo di Indonesia Marco Cecilia mengatakan, sistem yang dipasang di dua kapal perang Indonesia itu merupakan sistem multidomain yang canggih. ”Di antaranya sistem kendali yang maju,” katanya.
Nevio melanjutkan, kedua kapal tersebut adalah pembelian Indonesia yang pertama. Oleh karena itu, kedatangan kapal ini menjadi momentum yang sangat penting bagi kerja sama jangka panjang kedua negara.
Bersamaan dengan akan segera meluncurnya kedua kapal perang tersebut, TNI AL pun menyiapkan para prajuritnya untuk menjadi calon awak KRI Brawijaya-320. Saat ini, mereka tengah mengikuti latihan operasional kapal patroli multiguna (PPA) di La Spezia, Italia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/04/4423c7a78ca8eef048b3242fdc30a230-cropped_image.png)
Dalam keterangan Dinas Penerangan Komando Armada (Koarmada) II RI, Komandan Satuan Tugas Proyek Pengadaan (Yekda) PPA Laksamana Pertama Sumarji Bimo Aji mengungkapkan, para calon awak KRI Brawijaya-320 yang dipimpin oleh Kolonel Laut (P) John David Nalasakti Sondakh telah tiba di La Spezia sejak Selasa (6/5/2025).
Para personel TNI AL ini akan mempelajari sistem kapal, prosedur operasional, pemeliharaan, hingga penyelamatan kapal PPA. ”Pelatihan ini menjadi salah satu tonggak penting dalam upaya modernisasi alutsista TNI AL dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia pengawak kapal perang masa depan,” kata Bimo Aji.
Sebelumnya, Kepala Staf TNI AL Laksamana Muhammad Ali mengatakan, KRI Brawijaya-320 bakal ditempatkan di wilayah kerja Komando Armada (Koarmada) II. Namun, wilayah operasinya bisa sampai ke wilayah timur Indonesia, seperti laut Papua yang merupakan wilayah Koarmada III.
Koarmada II membawahi wilayah laut Indonesia bagian tengah dengan markas di Surabaya, Jawa Timur. Koarmada II membawahi beberapa Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal), seperti Lantamal V (Surabaya), Lantamal VI (Makassar), Lantamal VII (Kupang), Lantamal VIII (Manado), dan Lantamal XIII (Tarakan).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/15/197425e2-5896-4dbf-a0d3-dcaf0a4e8750_jpg.jpg)
Adapun KRI Prabu Siliwangi-321 akan beroperasi di wilayah Koarmada I. Wilayah tanggung jawab Komando Armada I (Koarmada I) mencakup sebagian besar wilayah laut Indonesia bagian barat, termasuk Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I, Selat Malaka, serta Laut China Selatan. Koarmada I berlokasi di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.
Dalam seremoni penggantian nama kapal pada akhir Januari 2025 yang dilangsungkan di galangan kapal Fincantieri di Muggiano (La Spezia), Kepala Staf TNI AL Laksamana Muhammad Ali mengatakan, nama KRI Brawijaya dan KRI Prabu Siliwangi terinspirasi dari raja-raja Nusantara. Nama-nama ini dipilih dengan harapan agar kapal-kapal ini kelak menjadi legenda baru yang berkontribusi besar bagi kejayaan bangsa.
”Pemberian nama kapal bukan sekadar formalitas, melainkan merupakan langkah strategis dalam membangun identitas kapal. Nama-nama yang dipilih tersebut merupakan simbol harapan, doa, dan tekad untuk menegakkan kedaulatan dan kehormatan bangsa di seluruh lautan dunia,” katanya.
Berbicara mengenai nama yang disematkan, yakni Brawijaya dan Prabu Siliwangi, kedua nama itu bukan sama sekali baru. Di era Orde Lama, Angkatan Laut Indonesia pernah mengoperasikan kapal perusak kelas Skory buatan Uni Soviet. Kapal pertama yang dioperasikan AL Indonesia bernama Siliwangi dengan nomor lambung 201 sehingga disebut kelas Siliwangi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/23/78c419aa-40aa-4f79-b62d-1dbe01156037_jpeg.jpg)
Indonesia disebut-sebut pernah mengoperasikan sampai delapan kapal kelas Skory, salah satu yang terbanyak dibandingkan dengan negara lain di luar Uni Soviet. Selain Indonesia, negara yang pernah mengopersikan kapal perang pasca-Perang Dunia II tersebut adalah Mesir dan Polandia.
Demikian pula AL Indonesia pernah memiliki kapal perang bernama Brawidjaja yang bernomor lambung 307. Sebelum diakuisisi AL Indonesia, Brawidjaja 307 bernama Bezzhalostny. Di AL Uni Soviet, kapal ini diluncurkan pada Desember 1950 dan ditugaskan ke Armada Laut Hitam pada 1951.
Setelah beroperasi sekitar 14 tahun, kapal tersebut dinonaktifkan oleh AL Uni Soviet dan dijual ke AL Indonesia pada 1964. Di AL Indonesia, kapal itu berganti nama menjadi Brawidjaja-307. Setelah beroperasi memperkuat AL Indonesia selama beberapa tahun, Brawidjaja-307 dipensiunkan pada awal 1970-an.
Kapal kelas Skory atau Siliwangi ini memiliki panjang 120,5 meter, lebar 12 meter, dan draf 3,9 meter. Kapal ini bisa dipacu sampai kecepatan 36,5 knot. Dari sisi ukuran kapal, KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321 lebih besar dibandingkan dengan pendahulunya.
Penulis:
Edna Caroline Pattisina, Norbertus Arya Dwiangga MartiarEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .