Perang di Iran berdampak pada krisis energi. Krisis ini mendorong warga di sejumlah negara mengalami ”panic buying” BBM untuk keperluan sehari-hari.
28 Mar 2026 16:00 WIB · Internasional
AP / Rajesh Kumar Singh
Perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran terjadi di kawasan berjarak ribuan kilometer dari Australia, Asia Tenggara, ataupun Asia Selatan. Akan tetapi, dampak perang sudah bisa dirasakan hingga ke stasiun-stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di berbagai kawasan yang relatif jauh dari lokasi perang.
Perang membuat angkutan 20 persen pasokan minyak dan gas dunia yang sebelumnya melintasi Selat Hormuz tersendat didistribusikan ke negara-negara pengimpor. Para pemilik kendaraan di sejumlah negara pun bergegas memenuhi tangki-tangki bahan bakar kendaraan mereka. Kalau perlu, mereka membeli juga dalam jeriken sebagai cadangan pribadi.
Alhasil, BBC pada Jumat (27/3/2026) memberitakan, gelombang panic buying pekan ini mulai melanda Australia. Secara tiba-tiba warga berupaya membeli bahan bakar minyak (BBM) dalam jumlah yang lebih besar dari kebutuhan sehari-hari.
Perilaku itu membuat ratusan SPBU di seluruh Australia melaporkan kehabisan setidaknya satu jenis bahan bakar. The Independent mengutip keterangan Menteri Energi Negara Bagian Victoria, Lily D’Ambrosio, memberitakan, permintaan akan BBM di sejumlah negara bagian meningkat antara 300 persen dan 400 persen.
Hal itu menggambarkan betapa cemasnya para pengendara terhadap potensi krisis energi. Kenaikan permintaan konsumen itu menyebabkan lebih dari 100 SPBU di Negara Bagian Victoria kehabisan bensin dan lebih dari 80 SPBU kehabisan solar pada Selasa (24/3/2026).
Di Negara Bagian New South Wales, Jumat, dilaporkan satu dari tujuh SPBU kehabisan setidaknya satu jenis bahan bakar, 59 SPBU sama sekali tidak memiliki bahan bakar atau stok BBM, dan 207 SPBU kehabisan solar.
Di Cairns, Queensland, BBC menemukan sebuah bengkel independen kecil yang kehabisan bensin tanpa timbal. Sementara harga solar 85 persen lebih tinggi daripada sebelum perang di Iran dimulai.
Institut Perminyakan Australia menyatakan, Australia mengalami kenaikan harga minyak yang tajam sejak AS-Israel menyerang Iran dan Selat Hormuz ditutup. Harga eceran rata-rata bensin mencapai 238 sen dolar Australia atau sekitar 1,64 dolar AS per liter pada Minggu (22/3/2026). Sementara pada empat minggu sebelum perang, harga bensin di kisaran 171 sen dolar Australia per liter.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/28/59f60055-22d3-4aa0-84b0-b0309ead630b.jpg)
Sementara harga solar di Sydney naik menjadi 314,5 sen dolar Australia per liter pada Kamis (26/3/2026). Menurut Asosiasi Jalan dan Pengemudi Nasional (NRMA), harga itu merupakan harga tertinggi sepanjang masa.
Komisi Persaingan dan Konsumen Australia mengatakan, harga rata-rata solar di lima kota terbesar naik 10 persen selama seminggu terakhir menjadi 303,5 sen dolar Australia per liter. Sementara bensin tanpa timbal naik 8 persen menjadi 252,2 sen dolar Australia per liter.
Naiknya permintaan dan harga serta habisnya stok di SPBU membuat Perdana Menteri Australia Anthony Albanese bekerja keras meyakinkan warga Australia bahwa pasokan bahan bakar akan tetap aman. Albanese mengatakan pada Jumat, ”Pasokan bensin, solar, dan minyak Australia akan sama, atau bahkan lebih tinggi, dari biasanya.”
Enam tanker bahan bakar jet dari China dijadwalkan tiba di Australia antara Sabtu (28/3/2026) dan 8 April. ”Pasokan dari China terjamin hingga akhir April atau awal Mei,” kata Menteri Energi Australia Chris Bowen.
Australia juga menolak melakukan kebijakan penjatahan BBM. Alhasil, untuk menambah pasokan, selain dari impor, Australia juga melepaskan minyak dari cadangan nasional dan menurunkan standar bahan bakar.
Albanese mengatakan, kekurangan yang terjadi merupakan masalah ”distribusi” yang terkonsentrasi di daerah-daerah regional. Kekurangan disebabkan oleh lonjakan pembelian, bukan karena gangguan pasokan. Ia menambahkan, tidak ada pengurangan aliran bahan bakar ke Australia.
”Kami memahami bahwa masyarakat berada di bawah tekanan nyata dan dampak dari perang ini nyata,” ucap Albanese dalam konferensi pers di ibu kota Canberra.
Selain di Australia, kepanikan juga terjadi di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Antrean panjang pengantre BBM terlihat membentang di beberapa kota besar, seperti Bengaluru, Ahmedabad, Dhaka, dan Yangon.
Alhasil, beberapa negara di Asia Selatan, seperti Sri Lanka dan Bangladesh, menanggapi lonjakan permintaan dengan penjatahan formal. Sri Lanka dan Bangladesh menetapkan batasan berapa liter bahan bakar yang dapat dibeli sepeda motor dan mobil dalam sekali kunjungan. Terdapat juga kasus pembatasan pembelian dalam kontainer untuk menghindarkan penimbunan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/19/6e0a110d-c4c8-40fc-9bc2-49efaae63aca_jpg.jpg)
Di China, merujuk pada Forbes edisi 25 Maret 2026, antrean pembelian BBM juga terjadi. Salah satunya di kota Suzhou, Provinsi Jiangsu. Demi melindungi cadangan BBM dalam negeri, Pemerintah China menerapkan larangan bagi kilang-kilang minyak untuk mengekspor minyak hasil olahan mereka.
Di Asia Tenggara, antrean pembeli BBM terlihat di Manila, Filipina. Presiden Filipina Ferdinand Marcos bahkan mendeklarasikan keadaan darurat energi selama setahun. Ia memperingatkan bahwa konflik yang sedang berlangsung menimbulkan ”bahaya nyata akan pasokan energi yang sangat rendah”.
Di Eropa, Pemerintah Inggris juga mengingatkan warganya untuk tidak melakukan panic buying. Menteri Perumahan Inggris Steve Reed meminta masyarakat membeli BBM dalam jumlah yang biasa mereka beli.
Adapun di Afrika, Pemerintah Mesir memerintahkan pusat perbelanjaan dan restoran untuk tutup pukul 21.00. Pemerintah juga menangguhkan penggunaan lampu di papan reklame dan memerintahkan kantor pemerintah untuk tutup pukul 18.00 setiap hari.
Sementara Pemerintah Etiopia menetapkan daftar prioritas alokasi bahan bakar untuk mengatasi potensi kekurangan. Etiopia menetapkan keamanan dan pertahanan, proyek-proyek publik penting, produsen dan eksportir, pertanian komersial, dan transportasi umum sebagai sektor-sektor yang diprioritaskan untuk mendapatkan bahan bakar.
Belajar dari situasi di Australia dan di negara-negara yang mengalami panic buying, Energy Digital menyoroti bahwa dalam manajemen krisis, komunikasi dan transparansi adalah penting. Jaminan awal yang kredibel tentang stok dan pengiriman, ditambah dengan penjelasan yang jelas tentang pergerakan harga, dapat membantu meredam naluri masyarakat untuk menimbun.
Jika sesuai, pelepasan sementara cadangan strategis nasional dan pelonggaran spesifikasi bahan bakar yang ditargetkan, seperti yang diambil Australia, dapat memberikan waktu dan fleksibilitas dalam sistem. (AP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul