Saat pasokan gas terhambat perang AS-Iran, Asia kembali beralih ke batubara untuk memproduksi listrik. Dampak pada kesehatan dan pemanasan global menjadi perhatian.
24 Mar 2026 14:26 WIB · Internasional
AP/ANDY WONG
BANGKOK, SELASA — Pasokan minyak dan gas dunia masih terganggu akibat perang AS dan Iran. Akibatnya, negara-negara di Asia kembali beralih menggunakan batubara untuk memproduksi listrik.
Langkah demikian diambil untuk menutupi kekurangan bahan bakar gas meski berisiko meningkatkan emisi penyebab pemanasan global dan mengganggu transisi energi. Selama ini, negara-negara di Asia merupakan negara-negara yang masih bergantung pada bahan bakar fosil, yang sebagian besar diimpor dari Timur Tengah.
Dalam 25 hari terakhir, perang AS dan Iran membuat aliran minyak dan gas dari Timur Tengah terhambat karena penutupan Selat Hormuz. Padahal, seperlima perdagangan minyak dan gas alam global melewati selat itu. Hambatan itu membuat sejumlah negara di Asia kalang kabut. Karena keterbatasan persediaan, Vietnam dan Filipina berencana mengurangi penerbangan.
Selain itu, menurut The Associated Press (AP) pada Selasa (24/3/2026), membuat negara-negara di Asia beralih kembali ke batubara. Langkah itu untuk menutupi kekurangan pasokan gas alam cair (LNG).
Di Asia Selatan, India tengah bersiap menghadapi musim panas yang terik. India akan lebih bergantung pada batubara untuk memenuhi permintaan listrik yang mencapai 270 gigawatt pada waktu puncak. India ditaksir memiliki stok batubara untuk sekitar tiga bulan. Sebagian dari stok itu akan dialokasikan untuk usaha kecil.
Dua kapal LNG India, baru-baru ini berhasil melewati Selat Hormuz dengan membawa 92.700 ton LNG. ”Namun, LNG impor itu akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri seperti produksi pupuk daripada pembangkit listrik,” kata Sandeep Pai, ahli energi di Universitas Duke.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/24/cfc1785e-dc83-4848-9a48-806dd78fd85e.jpg)
Bangladesh juga memilih meningkatkan pembangkit listrik tenaga batubara dan impor listrik tenaga batubara pada Maret. Sementara Pakistan berencana untuk meningkatkan pembangkit listrik dengan batubara hasil tambang lokal ditambah listrik hasil tenaga surya.
”Hal itu membantu Pakistan menghindari terulangnya volatilitas pasokan LNG yang menyebabkan pemadaman listrik meluas setelah invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022,” kata Menteri Energi Awais Leghari, seperti dikutip Reuters.
”Dengan pengurangan pembangkit berbasis LNG, pembangkit listrik yang menggunakan batubara hasil tambang lokal akan mampu menghasilkan lebih banyak listrik selama jam-jam di luar jam sibuk,” kata Leghari.
Di Asia Tenggara, Thailand, Filipina, dan Vietnam juga sama saja. Negara-negara itu meningkatkan penggunaan pembangkit listrik tenaga batubara. Indonesia juga diperkirakan akan meningkatkan produksi listrik dari pembangkit listrik tenaga batubara.
Sementara di Asia Timur, China selaku konsumen dan produsen batubara terbesar, membangun pembangkit listrik tenaga batubara dengan kapasitas luar biasa besar sejak tahun 2021. China mengambil langkah itu untuk meningkatkan keamanan energinya. Pembangkit listrik tenaga batubara menjadi penyeimbang setelah kekurangan tenaga air akibat kekeringan.
Korea Selatan juga masih mengandalkan pembangkit listrik tenaga batubara. Sebagai negara yang masih menggantungkan energinya pada impor, Reuters pada Senin (16/3/2026) memberitakan, Pemerintah Korsel akan mencabut batasan kapasitas pada pembangkit listrik tenaga batubara.
Terlepas bahwa Korsel memiliki rencana untuk mengurangi penggunaan batubara, Seoul mengizinkan lebih banyak penggunaan batubara ketika polusi udara rendah dan LNG langka. Kali ini langkah itu diambil untuk menyikapi krisis energi akibat perang di Timur Tengah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/24/fef8e8e0-ac1f-47c3-a991-a8b990f13cb1.jpg)
Sandeep Pai mengatakan, batubara merupakan bagian integral dari rencana energi darurat Asia. Batubara tersedia luas di Asia sehingga menjadikannya cadangan utama ketika energi terbarukan atau LNG tidak mencukupi.
Hanya saja, menurut Julia Skorupska dari koalisi global Powering Past Coal Alliance, batubara merupakan solusi jangka pendek. Sementara energi terbarukan merupakan solusi jangka panjang. ”Ketergantungan yang terus-menerus pada batubara membuat Asia rentan terhadap guncangan di masa depan,” kata Skorupska.
Saat ini, menurut Putra Adhiguna dari Energy Shift Institute, kerentanan telah membayangi negara-negara yang bergantung pada impor batubara. Hal itu terjadi setelah Indonesia, eksportir batubara terbesar di dunia, memilih memprioritaskan batubara untuk penggunaan domestik daripada ekspor. ”Hal itu dapat memperketat pasokan regional dan mendorong harga global lebih tinggi,” kata Adhiguna.
Harga batubara ditetapkan secara global, sehingga importir terpapar fluktuasi harga dan gangguan. Harga utama untuk batubara yang digunakan di Asia, yang disebut batubara Newcastle dari Australia, telah naik 13 persen sejak perang dimulai.
Harga yang lebih tinggi akan merugikan Asia Tenggara, konsumen batubara terbesar ketiga di dunia. Apalagi, Vietnam, Filipina, dan Thailand, meningkatkan penggunaan tenaga batubara.
Akan tetapi Vietnam sudah mengantisipasi fluktuasi dan gangguan tersebut. Vietnam sudah meningkatkan impor batubara setelah sebelumnya kekurangan akibat cuaca. Menurut pelacak pasar energi Argus Media, dengan pasokan dari Indonesia tidak pasti, Vietnam mempertimbangkan untuk mengimpor batubara dari Amerika Serikat dan Laos.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/24/cf12f30c-4098-400f-bc48-6f5aac093425.jpg)
Dengan penggunaaan kembali batubara yang meningkat, hal itu meningkatkan kekhawatiran akan memperlambat dan mungkin melemahkan upaya jangka panjang untuk menghapus pembangkit listrik tenaga batubara secara bertahap oleh semua negara.
Indonesia sudah berjuang untuk memenuhi target penghentian pembangkit listrik tenaga batubara lebih awal, bahkan sebelum perang Iran. Upaya itu di antaranya dengan penundaan pembiayaan pembangkit listrik tenaga batubara.
Jakarta, menurut Adhiguna, sudah mendukung penggunaan LNG untuk mempermudah peralihan dari batubara. ”Tetapi, peningkatan penggunaan batu bara ’mengirimkan sinyal’ bahwa beralih ke gas tidak semudah kedengarannya,” kata Adhiguna.
Korsel juga sama saja. Joojin Kim dari Solutions for Our Climate mengatakan, selama 11 tahun terakhir, Korsel sudah menginvestasikan 127 miliar dolar AS untuk bahan bakar fosil. Itu 13 kali lebih banyak daripada investasi yang dihabiskan untuk energi terbarukan. Korsel, ujar Kim, masih berencana untuk secara bertahap menghentikan penggunaan batubara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/24/58762e25-7093-47b3-9630-dddc7256ed8a.jpg)
Selain menimbulkan kekhawatiran pada pelambatan transisi energi, peningkatan penggunaan batubara menimbulkan kekhawatiran lain pada kesehatan. Membakar lebih banyak batubara berisiko memperburuk kabut asap di kota-kota besar dan meningkatkan emisi yang menyebabkan pemanasan global di kawasan ini.
Pauline Heinrichs yang mempelajari iklim dan energi di King’s College London mengatakan, peningkatan penggunaan batubara memperburuk emisi yang berkontribusi pada perubahan iklim.
Selain itu, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pembakaran batubara menghasilkan partikel halus yang menempel jauh di dalam paru-paru dan aliran darah. Polutan itu meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, kanker paru-paru, dan penyakit pernapasan kronis.
Asia, bahkan sebelum perang Iran, sudah menghadapi risiko pada kesehatan akibat polusi. Utamanya pada musim ketika petani membakar ladang mereka.
Energy Policy Institute of Chicago melaporkan, seluruh 1,4 miliar penduduk India menghirup udara dengan konsentrasi partikel yang dianggap tidak aman oleh WHO. Krisis energi membuat Pemerintah India menangguhkan peraturan kualitas udara, juga mengizinkan restoran untuk membakar batubara guna mengurangi kekurangan gas.
Vietnam juga menghadapi polusi udara yang parah, dengan kadar PM2.5 jauh di atas batas WHO. Saat krisis belum terjadi, Vietnam mengkampanyekan penggunaan sepeda listrik dan memiliki target untuk mengurangi penggunaan batubara.
Keterbatasan pasokan energi juga mengimbas pada sektor perhubungan. Selain memicu penggunaan batubara lebih banyka, kekurangan pasokan bahan bakar akibat perang juga membuat maskapai penerbangan nasional Vietnam Airlines membatalkan 23 penerbangan per minggu di beberapa rute domestik mulai 1 April mendatang.
Otoritas penerbangan Vietnam (CAAV) pada Senin malam menyatakan, pengurangan penrbangan karena kekurangan bahan bakar jet. Sebagian besar bahan bakar jet Vietnam dipenuhi dari impor. Perang di Timur Tengah mengganggu pasokan.
CAAV menyatakan, Vietnam Airlines, bagian dari Vietnam Airlines Corp milik negara, akan memprioritaskan rute-rute yang penting untuk konektivitas nasional, perdagangan, pariwisata, diplomasi, dan perjalanan domestik.
Filipina juga mempertimbangkan kemungkinan untuk menghentikan operasional pesawat karena kekurangan bahan bakar. Presiden Ferdinand Marcos Jr kepada Bloomberg mengatakan, beberapa negara telah memberi tahu maskapai penerbangan Filipina bahwa mereka tidak dapat mengisi bahan bakar pesawat, memaksa operator Filipina untuk membawa bahan bakar untuk perjalanan pergi dan pulang. (AP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra