Ketika bensin dan solar sulit didapat, beralih ke mobil listrik dianggap sebagai solusi singkat. Namun, peralihan ini tidak sepenuhnya menyelesaikan masalah.
27 Mar 2026 16:00 WIB · Internasional
AP/VICTOR R CAIVANO
Saat pandemi Covid-19 melanda beberapa tahun lalu, pedagang sepeda panen untung. Bersepeda menjadi tren gaya hidup sehat kala itu. Kini, di tengah gejolak krisis energi global yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, giliran peminat mobil listrik yang melonjak.
Dilaporkan Bloomberg pada Jumat (27/3/2026), harga minyak bisa sampai 200 dolar AS per barel kalau perang berlanjut pada Juni 2026. Jauh lebih tinggi dibanding kala Rusia menyerbu Ukraina pada awal 2022.
Harga bahan bakar minyak (BBM) otomatis ikut naik. Tidak hanya semakin mahal, BBM juga mulai langka di beberapa negara. Masalahnya akan bertambah pelik jika perang tak kunjung berakhir.
Mobil listrik pun mulai dilirik sebagai solusi pintas. Pedagang mobil listrik di berbagai negara ”ketiban durian runtuh”. Mobil listrik di dealer mereka tak bertahan lama. Mobil baru ataupun bekas sama-sama diburu pembeli.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/22/e05a97fe-6327-40b3-948e-00ee7891b655.jpg)
”Kami menjual mobil listrik dengan sangat, sangat cepat. Pelanggan khawatir harga bensin akan naik lebih tinggi,” ujar Martin Miller, pemilik toko mobil listrik EV Experts di London, Inggris, Rabu (18/3/2026).
Miller kini memacu stafnya untuk menambah stok dealernya. Ia membaca kondisi pasar saat ini yang sangat menguntungkan bagi penjualan mobil listrik. Konsumen terdesak untuk mengganti kendaraannya karena harga BBM terus melambung.
”Staf saya telah membeli lebih banyak mobil listrik di lelang dengan gila-gilaan. Kami yakin ini akan terus berlanjut,” ucapnya.
Di Inggris, harga rata-rata bensin naik sekitar 7 persen sejak perang dimulai empat pekan lalu. Sementara di Uni Eropa, kenaikan harga rata-ratanya mencapai 8 persen. Kondisi ini membebani warga karena pengeluaran rutin transportasinya naik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/10/cc762a6903cffe5bf4cd67853f0554ac-wires_photo_2_.jpg)
Peningkatan minat terhadap kendaraan listrik lebih mungkin terjadi di Eropa. Mobil listrik menyumbang hingga 19,5 persen dari penjualan mobil tahun lalu. Selain itu, ada insentif pajak pemerintah untuk pembeliannya.
Warga Jerman pun antusias beralih ke mobil listrik. Sejak awal Maret lalu, penjualan mobil listrik di dealer online MeinAuto meningkat hingga 40 persen.
”Konsultasi kami juga mengungkapkan banyak orang saat ini lebih fokus pada biaya operasional mobil mereka,” demikian keterangan perusahaan itu.
Tingginya minat warga Jerman membeli mobil listrik juga terpotret dalam survei oleh platform pasar daring Carwow. Survei dilakukan terhadap 1.164 orang pada 12 Maret lalu. Hasilnya, 48 persen responden menyatakan kenaikan harga BBM akan memengaruhi keputusan mereka membeli kendaraan listrik atau hibrida.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/09/07/a1d1b6e9-c7ef-4f6f-bc01-dc6df17cf983.jpg)
Kondisi tak jauh berbeda terjadi di AS. Warga berbondong-bondong mendatangi dealer mobil bekas di San Francisco. Tujuan utama mereka mencari mobil listrik yang sesuai dengan bujet. Tersedia beberapa pilihan mobil dengan harga di bawah 30.000 dolar AS (sekitar Rp 508 juta).
”Harga bensin hampir selalu muncul dalam setiap percakapan pelanggan. Momentum (penjualan mobil listrik) beberapa minggu terakhir adalah salah satu yang terkuat yang pernah kami lihat,” ujar Maximilian Quertermous, salah satu pendiri perusahaan mobil listrik Ever, dilansir dari Bloomberg.
Penjualan mobil listrik di Australia juga meningkat sejak AS-Israel membombardir Iran. Perusahaan lelang Pickles mencatat, penjualan mobil listrik naik 20 persen dibandingkan bulan lalu. Pembeli utamanya adalah pelanggan berusia 30-40 tahun.
Bagi sejumlah konsumen di Australia, beralih ke mobil listrik jadi pilihan logis saat ini. Sejak perang Iran bergejolak, kenaikan harga BBM di negara itu mencapai 18,23 persen. Akhir perang yang tak pasti sangat berpotensi membuat harga minyak terus meroket.
Penggunaan mobil listrik kerap dipandang sebagai solusi untuk kendaraan yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan. Namun, pandangan ini tidak selalu benar. Masalah baru juga berpotensi muncul, salah satunya penggunaan bahan bakar batubara yang lebih besar.
Kondisi itu membuat beberapa orang tidak berpikir panjang untuk segera membeli mobil listrik. Bahkan, bagi Matt Hurlston, warga Melbourne, yang sebelumnya tidak tertarik pada kendaraan listrik karena lebih menyukai mobil dengan mesin pembakaran internal.
”Anak saya sedang menyervis mobil dieselnya. Dia mengeluh tentang harga bahan bakar. Saya membuka ponsel, memasukkan kartu kredit, dan menyelesaikan pembayaran membeli mobil listrik. Harga bahan bakar terus naik. Jadi, itu menjadi keputusan yang mudah,” ujarnya, dilansir dari The Guardian.
Pasar mobil listrik sempat lesu pada pertengahan tahun lalu. Penjualan di sejumlah negara anjlok. Bahkan, penjualan produsen besar, seperti BYD dan Tesla, juga turun. Alhasil, produksi besar-besaran tidak mampu diserap pasar.
Konflik Timur Tengah yang mengganggu distribusi energi dunia mengubah situasi tersebut. Konsumen menjerit karena lonjakan harga minyak. Namun, kondisi itu justru membawa angin segar bagi pasar kendaraan listrik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/25/352f8b5b84bb2d69af378b896b03752f-20260325_H01_NNN_Tanker_Hormuz_mumed.png)
Jika kenaikan harga minyak terus berlanjut, hal itu bahkan dapat mempercepat akselerasi peralihan penggunaan mobil listrik secara global. Direktur Riset Transisi Energi Wood Mackenzie, David Brown, mengatakan, penutupan Selat Hormuz bisa menjadi game changer atau pengubah permainan bagi industri kendaraan listrik.
”Lonjakan harga minyak global yang menggiurkan sebesar 50 persen dalam bulan ini akan semakin mendorong konsumen untuk beralih ke kendaraan listrik,” katanya, dilansir dari South China Morning Post.
Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari. Serangan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Dalam beberapa hari terakhir, Iran telah memperbolehkan tanker dari beberapa negara melintasi selat tersebut.
Akan tetapi, kondisi ini belum mampu meredam gejolak energi global. Padahal, sejumlah negara telah melepas cadangan minyaknya ke pasar. AS pun telah melonggarkan sanksi minyak Iran dan Rusia. Namun, harga minyak masih tetap tinggi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/21/928e9abb-fec2-4088-8fc1-59e3668a1ead.jpg)
Meski minat terhadap mobil listrik meningkat, pembelian dalam skala besar tidak terjadi dalam waktu singkat. Sejumlah konsumen masih mempertimbangkan dampak jangka panjang. Fluktuasi harga minyak dalam beberapa waktu ke depan akan sangat menentukan keputusan konsumen.
Beberapa produsen mobil belum merasakan manfaat dari peningkatan minat terhadap kendaraan listrik tersebut. Sebagai gambaran, dalam bulan ini saham Tesla turun 4,4 persen, General Motors turun 2 persen, dan Ford anjlok 16,3 persen.
Kepala Bagian Keuangan General Motors Paul Jacobson mengatakan, kemungkinan membutuhkan waktu enam bulan saat harga minyak tinggi sebelum konsumen beralih ke kendaraan yang lebih hemat bahan bakar. ”Perusahaan belum melihat data penjualan yang menunjukkan kekhawatiran apa pun,” ucapnya.
Untuk mendorong penjualan mobil listrik, produsen kendaraan listrik Vietnam, VinFast, menawarkan diskon 3 persen untuk mobil listrik dan 5 persen untuk skuter listrik. Diskon ini menjadi pemantik bagi konsumen yang ”tercekik” oleh kenaikan harga minyak global.
Penggunaan mobil listrik kerap dipandang sebagai solusi untuk kendaraan yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan. Namun, pandangan ini tidak selalu benar. Masalah baru juga berpotensi muncul, salah satunya penggunaan bahan bakar batubara yang lebih besar.
Di Sri Lanka, pemilik kendaraan listrik terbiasa mengisi daya mobilnya pada malam hari. Sebab, saat malam, banyak mobil tidak digunakan. Jadi, pengisian daya dapat dilakukan sembari mobil terparkir.
Akan tetapi, hal itu justru menimbulkan masalah karena sebagian besar listrik di malam hari dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga batubara. Presiden Sri Lanka Anura Kumara Dissanayake mengimbau pemilik mobil listrik untuk mengisi daya mobilnya pada siang hari agar tidak semakin membebani pembangkit.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/19/3c3efc2e-a1f9-448d-9969-9c5dcd33c8c6.jpg)
”Isi daya mobil Anda pada siang hari ketika kita memiliki kelebihan listrik dari tenaga surya,” ujarnya.
Pemerintahan Dissanayake berencana memperkenalkan tarif untuk membatasi pengisian daya pada malam hari. Sebab, pengisian daya mobil listrik telah meningkatkan permintaan tambahan listrik sebesar 300 megawatt pada malam hari.
Selain itu, kendaraan listrik tidak sepenuhnya terlepas dari ketergantungan BBM. Sebab, beberapa pembangkit listrik di dunia menggunakan solar dan bensin. Jadi, saat pasokan BBM terkendala, operasional pembangkit pun berpotensi terganggu.
Tersumbatnya jalur minyak global di Selat Hormuz memang memicu kenaikan harga BBM yang menyusahkan banyak orang. Namun, di sisi lain, situasi ini mendatangkan musim semi bagi penjual mobil listrik yang kebanjiran cuan. (REUTERS/AP/AFP)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra