PERANG

Sejumlah Tanker Bisa Melintasi Selat Hormuz, Krisis Energi Belum Berlalu

Sejumlah negara sudah ancang-ancang menghadapi krisis energi global yang disebabkan oleh perang Iran. Negara-negara di Asia paling terguncang oleh krisis ini.

25 Mar 2026 16:00 WIB · Internasional

ap/Mahmud Hossain Opu

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

BANGKOK, RABU – Sejumlah negara sukses melobi pihak terkait demi mengamankan pasokan energi. Sementara sejumlah "tanker hantu" terpantau melewati Selat Hormuz.

Dilaporkan Reuters pada Rabu (25/3/2026), Thailand menjadi negara terbaru yang sukses melobi untuk pasokan energi. Tanker milik Bangchak Corporation, raksasa migas Thailand, bisa melewati Selat Hormuz. "Tanker sekarang berlayar melintasi Samudra Hindia dan diharapkan mengantar minyak ke Thailand awal April," demikian pernyataan perseroan.

Bangchak menyebut, pelayaran itu berkat koordinasi Thailand, Oman, dan Iran. Sementara Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow mengungkap koordinasi dengan Duta Besar Iran di Bangkok, Nassereddin Heidari. "Saya bertanya apakah jika kapal Thailand perlu melewati selat, apakah mereka (Iran) bisa memastikan keamanan pelayaran?" kata Sihasak.

Ia juga menyebut, kapal milik SCG Chemicals sedang menanti izin melewati Selat Hormuz. Tidak disebut apa jenis kapal dan muatannya. SCG Chemicals adalah raksasa petrokimia Thailand.

Kabar itu beredar beberapa hari setelah kapal kargo Thailand, MV , Mayuree Naree, ditembak. Kapal terbakar dan awaknya dievakuasi.

Sebelum kapal Thailand diizinkan melintas, kapal Pakistan, India, dan China, sudah bisa melewati Selat Hormuz. Jepang juga menyebutkan, Iran akan mengizinkan kapal-kapalnya melintas.

Bloomberg melaporkan, sejumlah ”kapal hantu” juga dilaporkan melintas selat itu. Disebut kapal hantu karena nama kapal itu, berikut alat pelacak posisinya, sudah dihapuskan dari pendaftaran dan kapalnya dihancurkan. Faktanya, kini alat pelacak kapal itu memancarkan sinyal posisi melewati Selat Hormuz.

A notice imposing a 600-baht (18.5 USD) maximum purchase is displayed at a petrol station in Bangkok on March 17, 2026. From the capital Bangkok to Chiang Rai in the far northern reaches of the country, drivers and riders in Thailand queued for petrol Tuesday as shortages worsened and price rises loomed. Authorities imposed a cap on the retail price of diesel after the US-Israeli war with Iran disrupted shipping and damaged petroleum facilities in the Middle East, raising global oil prices. (Photo by ANTHONY WALLACE / AFP)

Sebuah papan pengumuman yang menetapkan batas pembelian maksimal 600 baht atau sekitara 18,5 dolar AS dipasang di sebuah SPBU di Bangkok, Thailand, 17 Maret 2026.

Sementara Duta Besar Filipina di Washington DC, Jose Manuel Romualdez, mengungkap sedang melobi Amerika Serikat. Tujuannya mencari pengecualian sanksi AS kepada sejumlah negara. Dengan demikian, Manila bisa membeli minyak dan gas bumi dari negara-negara itu.

Filipina mengimpor hampir seluruh kebutuhan gas dan minyaknya dari Timur Tengah. Serangan AS-Israel ke Iran membuat pasokan energi global, termasuk ke Filipina, terganggu.

Lembaga pemantau data perdagangan, Kpler, melacak setidaknya dua tanker Rusia mengarah ke Filipina. Tanker-tanker itu ditaksir akan tiba di Filipina pada pekan pertama April 2026.

Filipina menjadi salah satu negara paling awal mendapatkan minyak Rusia setelah AS memberi pengecualian 30 hari bagi ekspor energi Rusia. Sejak Rusia menyerbu Ukraina, AS dan berbagai negara menjatuhkan sanksi.

Sasarannya antara lain ekspor energi, pangan, dan pupuk. Tujuannya memotong pendapatan Rusia sehingga Moskwa kekurangan uang untuk mendanai perang di Ukraina.

Serangan AS-Israel ke Iran membuat harga minyak dan gas bumi melambung. Salah satu AS menurunkannya adalah mencabut sementara sanksi pada ekspor energi Rusia. Seluruh minyak yang dimuat ke tanker pada 20 Maret-19 April 2026 bebas dibeli siapa saja.

Kepada BBC, Larry Fink menyebut resesi global akan amat buruk kalau harga minyak sampai 150 dolar AS per barel. Fink adalah CEO BlackRock, lembaga manajemen aset terbesar di dunia dengan kelolaan 14 triliun dolar AS.

Infografik Selat Hormuz-Risiko Gangguan Pasokan

Terdampak krisis

Kawasan Asia terlebih dahulu terdampak krisis ini. Sebab, hampir 90 persen minyak dan gas yang melewati Selat Hormuz menuju negara-negara Asia.

Harga energi, pupuk, dan petrokimia melonjak karena dunia kehilangan hingga 20 juta barel minyak per hari dari produsen di Timur Tengah. Kondisi ini pun berpengaruh terhadap berbagai sektor perekonomian global.

Para eksekutif energi menyebutkan, pemerintah di seluruh dunia gagal menutup kekurangan pasokan minyak dan gas yang disebabkan oleh perang Iran. Berbagai upaya, mulai dari pelepasan cadangan minyak ke pasar hingga kebijakan AS melonggarkan sanksi minyak Iran dan Rusia, belum mampu meredam gejolak energi global.

”Secara keseluruhan, langkah-langkah darurat tersebut bahkan bukan setetes air dalam tong,” kata CEO Kuwait Petroleum Corp Sheikh Nawaf Al-Sabah, Selasa (24/3/2026).

Kuwait salah satu negara produsen minyak di kawasan Teluk. Ekspor minyak Kuwait dan negara-negara Teluk lainnya sangat bergantung pada tanker yang melalui Selat Hormuz.

Sebelum perang Iran, Kuwait memproduksi sekitar 2,6 juta barel minyak per hari. Namun, sejak awal Maret lalu, Kuwait mulai memangkas kapasitas produksinya secara bertahap. Sebab, penyimpanannya penuh karena ekspor terganggu.

”Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (negara produsen minyak lainnya) telah mempertahankan beberapa ekspor yang mengalir melalui jalur pipa yang melewati Selat Hormuz. Namun, ekspor tersebut serta langkah-langkah darurat lain tidak cukup untuk menutupi gangguan pasokan,” ujar Sabah.

Quote

Berbagai upaya, mulai dari pelepasan cadangan minyak ke pasar hingga kebijakan AS melonggarkan sanksi minyak Iran dan Rusia, belum mampu meredam gejolak energi global.

Perang pun berdampak luas. Banyak fasilitas energi di Teluk terganggu operasionalisasinya. Sejumlah negara Teluk mengecam Iran karena menjadikan negara mereka sebagai target serangan. Namun, Iran menegaskan hanya menyerang wilayah yang menjadi lokasi serangan ke negara mereka.

Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol mengatakan, krisis energi yang disebabkan perang Iran lebih buruk daripada guncangan minyak pada 1970-an. Ia menuding para pengambil kebijakan global tidak memahami parahnya krisis saat ini. IEA sedang berdiskusi dengan pemerintah di negara-negara Asia dan Eropa terkait pelepasan lebih banyak minyak dari cadangan strategis mereka.

”Parahnya guncangan tersebut berarti bahkan setelah pertempuran berakhir, pasar tidak akan pulih dengan cepat. Akan butuh waktu lama untuk kembali ke hari-hari normal seperti sebelum perang dimulai,” ujarnya, dilansir dari The New York Times.

Guncangan makin keras

Sejumlah negara Asia semakin keras merasakan guncangan krisis energi. Berbagai langkah dilakukan untuk mengatasinya, mulai dari menghemat penggunaan bahan bakar minyak (BBM) hingga mengurangi hari kerja untuk membatasi mobilitas warga.

Filipina bahkan telah mendeklarasikan darurat energi nasional. Sebelumnya, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr mengambil kebijakan membatasi jam kerja dan sekolah.

Kehidupan sehari-hari warga mulai terdampak, salah satunya pengemudi jeepney, moda transportasi ikonik di Filipina. Seorang pengemudi, Carlos Bragal Jr, menuturkan, upah hariannya menurun dari 1.000-1.200 peso (Rp 281.000-Rp 337.000) menjadi 200-300 peso (Rp 56.000-Rp 84.000).

Jeepney, moda transportasi ikonik di Filipina, mengisi bahan bakar di salah satu SPBU di Cebu, Jumat (30/1/2026).

”Saya menyekolahkan putri-putri saya dari pekerjaan ini. Kami memiliki kehidupan yang baik. Namun, sekarang, kami tidak tahu apa yang akan terjadi dalam beberapa minggu ke depan. Jika ini terus berlanjut, pasti akan menghancurkan keluarga kami,” ujarnya, dilansir dari BBC.

India juga terpukul oleh terhambatnya pasokan gas akibat perang Iran. Di kota Mumbai, 20 persen hotel dan restoran tutup sepenuhnya atau sebagian karena kelangkaan gas.

”Situasi sangat buruk. Gas untuk memasak sama sekali tidak tersedia,” kata Manpreet Singh dari Asosiasi Restoran Nasional India.

Di Sri Lanka, sejumlah stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) dipenuhi antrean pembeli. Warga berebut BBM yang semakin menipis. Mereka terancam kehilangan pekerjaan karena kelangkaan BBM berimbas pada berbagai sektor pekerjaan formal dan nonformal.

People queue up to refuel their motorbikes at a gas station in Dhaka on March 10, 2026. Oil prices sank and equities rallied on March 10 following a wild day of swings that came after Donald Trump said the US-Israel war on Iran would be ending earlier than thought. (Photo by MUNIR UZ ZAMAN / AFP)

Antrean pembelian BBM di SPBU di Dhaka, Bangladesh

”Kami sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat saya kembali bekerja setelah mengisi bahan bakar, mungkin sudah ada orang lain yang menggantikan pekerjaan saya,” ujar Nimal, operator mesin pemotong rumput di Kolombo.

Langkah darurat

Tak hanya Asia, krisis energi juga dirasakan Eropa, Australia, dan Amerika. Uni Eropa mengimpor lebih dari 90 persen minyak dan 80 persen gasnya. Para pemimpin Uni Eropa sedang menyusun langkah-langkah darurat untuk melindungi masyarakatnya dari lonjakan harga energi.

”Kekurangan pasokan dapat melanda Eropa pada April jika perang terus berlanjut,” ucap Menteri Ekonomi Jerman Katherina Reiche.

CEO Shell Wael Sawan tengah mencoba bekerja sama dengan pemerintah di Eropa untuk mengingatkan tentang berbagai langkah yang perlu diambil. Hal itu meliputi aspek permintaan, penyimpanan, dan pembelian energi.

A man fills up his car with gazole at an Esso petrol station in Rely, northern France on March 5, 2026. France's Ministry of the Economy will meet with fuel distributors on Masrch 5, 2026 to �ensure� that they do not impose excessive price increases compared with those in oil prices as the consequences of the war in the Middle East are starting to be felt at French gas station pumps: the government has noted �an increase of a few cents� in prices and has warned that inspections will be carried out to ensure that this rise remains �reasonable. (Photo by Sameer Al-DOUMY / AFP)

”Kurangnya persiapan telah memperburuk tantangan bagi Eropa dan bagian lain di dunia. Masalahnya adalah kita lebih berada dalam mode reaktif. Strategi energi terbaik adalah strategi yang benar-benar melihat lima sampai sepuluh tahun ke depan dan membangun ketahanan dari sekarang,” ujarnya.

Menteri Energi Australia Chris Bowen mengungkapkan, sekitar 109 SPBU di Victoria kehabisan setidaknya satu jenis bahan bakar akibat gangguan pasokan impor. Krisis ini meluas ke Queensland dan New South Wales sehingga mendorong pemerintah merilis cadangan strategis.

Meskipun menjadi negara produsen gas alam cair (LNG) terbesar di dunia, AS kesulitan untuk menutupi kekurangan pasokan dari Timur Tengah. Matt Schatzman, CEO NextDecade (produsen LNG AS), mengatakan, saat ini banyak perusahaan telah mencapai produksi maksimum.

”Semua (masalah) ini tidak akan terselesaikan dalam semalam. Ini situasi yang buruk. Tidakkah Anda pikir kami akan bergerak lebih cepat jika kami mampu?” ujarnya. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul