Krisis Orisinalitas Kecerdasan Buatan, Saat Ghibli Tak Lagi Milik Miyazaki

Karya seni, termasuk animasi, merupakan aset bernilai tinggi yang perlu mendapatkan perlindungan hukum melalui hak cipta.

12 Apr 2025 12:08 WIB · Ekonomi

Oleh Dimas Waraditya Nugraha

Di balik keindahan visual dan kedalaman cerita naratif animasi-animasi keluaran Studio Ghibli, berdiri sosok Hayao Miyazaki, seorang maestro yang selama puluhan tahun meletakkan standar etika dan artistik dalam dunia animasi.

Didirikan pada 1985, Studio Ghibli telah melahirkan karya-karya monumental yang dicintai lintas generasi dan budaya, mulai dari My Neighbour Totoro (1988), Princess Mononoke (1997), Spirited Away (2001), hingga yang terbaru, The Boy and The Heron (2023).

Film-film produksi Ghibli bukan sekadar tontonan visual. Mereka adalah perenungan mendalam atas hubungan manusia dengan alam, mitologi, dan emosi-emosi paling personal yang membentuk eksistensi. Karakter-karakter kuat, lanskap dunia yang sarat simbol, hingga alur cerita yang tak selalu mudah ditebak menjadi ciri khas yang tak lekang oleh waktu.

Dari sisi visual, sentuhan tangan Miyazaki dan timnya dikenal lewat penggunaan palet warna pastel yang lembut, tetapi kuat dalam membangun suasana. Setiap detail dan gerakan digarap secara manual, menyiratkan nilai kesabaran, disiplin, dan rasa.

Itulah yang memicu Miyazaki menyuarakan kekecewaan mendalam saat karya-karya yang lahir dari proses panjang itu mulai direplikasi oleh kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI).

Beberapa waktu terakhir, media sosial ramai dengan unggahan gambar berestetika mirip Studio Ghibli, yang dihasilkan oleh generator gambar berbasis AI milik OpenAI, anak perusahaan Microsoft, melalui model GPT‑4o. Tanpa sentuhan manusia, algoritma itu meniru palet warna, komposisi, hingga gaya visual khas Ghibli.

Saat jutaan pengguna terpukau oleh kemampuannya, Miyazaki justru melihatnya sebagai bentuk penghinaan terhadap kehidupan itu sendiri. Dalam sebuah dokumenter yang sempat viral, ia menyampaikan kritik tajam terhadap penggunaan AI dalam seni.

Studio Ghibli

”Siapa pun yang menciptakan hal-hal ini sama sekali tidak tahu apa itu rasa sakit. Jika Anda benar-benar ingin membuat sesuatu yang menyeramkan, Anda bisa melakukannya. Tetapi, saya tidak ingin teknologi ini menyentuh karya saya, sama sekali,” ujarnya.

Bagi Miyazaki, proses kreatif bukan hanya soal menghasilkan gambar bergerak. Ia adalah tentang memberi napas dan jiwa kepada gambar-gambar tersebut. Tentang menghadirkan rasa dalam setiap garis, dan membangun kedekatan emosional antara pencipta dan penonton.

Namun, OpenAI tampaknya punya pandangan yang berbeda 180 derajat dari Miyazaki. Setelah OpenAI merilis fitur generator gambar di ChatGPT pada akhir Maret 2025, banyak pengguna internet yang berbondong-bondong memanfaatkannya, terlebih karena kemampuan AI generatif ini yang bisa membuat gambar bergaya animasi Ghibli.

Quote

Algoritma harus dilatih pada sesuatu. Akan ada implikasi hukum karena mengambil karya seni orang lain dan belum meminta izin untuk melakukan hak tersebut.

Chief Operating Officer OpenAI Brad Lightcap menyebutkan, ada 130 juta pengguna yang membuat perusahaannya bisa mencapai permintaan 700 juta gambar. Ia menyebutkan bahwa India saat ini menjadi pasar ChatGPT yang tumbuh paling cepat.

Alih-alih merasa perlu mengklarifikasi soal gaya animasi Ghibli yang dipakai OpenAI, ia malah seolah ingin menunjukkan bahwa fitur generator gambar yang perusahaannya kembangkan sudah berada di jalur yang tepat. Bahkan, ia bertekad menjadikan fitur generator gambar sebagai salah satu produk terpopuler yang diluncurkan perusahaan tersebut.

Lightcap malah meminta para pengguna ChatGPT untuk bisa memahami perusahaannya melakukan yang terbaik dalam memenuhi permintaan pengguna. ”Kami menghargai kesabaran Anda saat kami mencoba melayani semua orang,” tulis Lightcap dalam unggahannya di X.

Seakan tidak melihat adanya potensi pelanggaran hak cipta, OpenAI mendorong dan mempromosikan ”Ghiblifikasi”. Promosi ini dilakukan lewat banyak cara, salah satunya CEO Open AI Sam Altman menggunakan gambar profil dengan potret bergaya Ghibli pada akun media sosial X miliknya.

Sam Altman, left, CEO of OpenAI, appears onstage with Microsoft CEO Satya Nadella at OpenAI DevDay, OpenAI's first developer conference, on Monday, Nov. 6, 2023 in San Francisco. (AP Photo/Barbara Ortutay)

Karya intelektual

Karya seni, termasuk animasi, merupakan aset bernilai tinggi yang perlu mendapatkan perlindungan hukum melalui hak cipta. Hal ini penting karena desain yang unik dan menarik kerap menjadi sasaran pencurian ide atau ditiru untuk tujuan komersial.

Perlindungan hak cipta berperan sebagai dorongan bagi para animator untuk terus berinovasi dan berkarya. Dengan perlindungan ini, karya mereka mendapatkan apresiasi yang layak serta terlindungi dari penyalahgunaan.

Dikutip dari The Economist, profesor di bidang visualisasi tiga dimensi dari Fakultas Seni, Desain, dan Arsitektur University of New South Wales, Australia, John McGhee, menyampaikan keprihatinan soal penggunaan konten gaya Ghibli yang luas dan tidak terkendali di internet.

”Jika tidak dikuratori dengan cara apa pun, itu tidak mewakili merek artis asli yang menghasilkannya,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi saat ini bila dibiarkan bisa membahayakan integritas merek. McGhee juga menunjukkan perbedaan budaya dan filosofis antara seniman tradisional seperti Miyazaki dan konten yang dihasilkan AI. Ia pun mengajukan pertanyaan penting: apakah model OpenAI dilatih tentang pekerjaan Studio Ghibli tanpa izin?

”Algoritma harus dilatih pada sesuatu. Saya menduga akan ada implikasi hukum karena mengambil karya seni orang lain dan belum meminta izin untuk melakukan itu,” kata MCGhee.

Menurut pakar teknologi Khoirul Anwar, penciptaan karya dengan bantuan AI tetap membutuhkan pengetahuan manusia meskipun kualitasnya ditingkatkan oleh mesin. Namun, Khoirul menekankan perlunya batasan yang jelas terkait proporsi kontribusi manusia dalam proses kreatif tersebut.

”Idealnya, harus ada ambang batas, misalnya kontribusi manusia dalam karya tersebut minimal 51 persen,” ujarnya.

Siswa SMA Katolik Frateran membuat cerita bergambar dengan aplikasi berbasis kecerdasan buatan di Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya, Senin (10/6/2024). Dalam kesempatan tersebut pelajar yang hadir diberi pengetahuan dasar mengenai aplikasi-aplikasi yang menggunakan kecerdasan buatan. Selain itu pelajar juga diberi arahan untuk bijaksana dalam menggunakan aplikasi berbasis kecerdasan buatan. Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Batas ambang ini perlu dibahas lebih lanjut oleh berbagai instansi pemerintah guna merumuskan standar yang tepat, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan saat ini.

Dari sisi pengguna, teknologi AI memberikan manfaat langsung yang dapat dirasakan masyarakat. Bahkan, penggunaan AI generatif kerap menimbulkan rasa bangga tersendiri bagi penggunanya.

Sementara, dari sisi pengembang, peningkatan algoritma AI secara berkelanjutan turut memperkaya basis data sehingga proses pengembangan teknologi menjadi semakin efisien.

Tentu saja, menghentikan laju pemanfaatan AI dalam seni dan kreativitas bukanlah solusi yang realistis. Hal yang perlu ditumbuhkan adalah kebijaksanaan dari para pengembang dan penggunanya.

Para pengguna teknologi AI tidak sepatutnya meremehkan orisinalitas para seniman yang menyisipkan emosi dan jiwa dalam setiap karya seni mereka.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dimas Waraditya Nugraha
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul