KTT BRICS 2025, Kisah Popularitas Manuver Politik Luar Negeri Indonesia

Manuver Indonesia bergabung dalam BRICS jadi sorotan. Tujuh dekade silam, manuver politik luar negeri Indonesia juga memantik atensi dunia.

09 Jul 2025 11:05 WIB · Politik & Hukum

Oleh Kurnia Yunita Rahayu, dari Rio de Janeiro, Brasil

Angin musim panas bertiup mengibarkan bendera Merah Putih yang terpasang di tiang-tiang di Leblon, Rio de Janeiro, Brasil, akhir pekan pertama Juli 2025. Di bawah langit biru cerah khas negara yang dilintasi garis khatulistiwa itu, Sang Dwi Warna terlihat kontras, menambah nuansa Indonesia dalam warna-warni dari bendera 10 negara lain yang juga terpasang di kawasan itu.

Berjarak 16 kilometer, melintasi garis pantai Leblon, Ipanema, dan Copacabana, menuju kawasan Flamengo, nuansa Indonesia kian terasa. Ucapan ”Selamat Datang” jadi satu dari 11 baliho ucapan yang sama dalam 11 bahasa berbeda yang terpasang di sepanjang jalan menuju Museu de Arte Moderna atau Museum Seni Modern (MAM), Rio de Janeiro, tempat penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-17 BRICS yang berada di Flamengo.

Nuansa yang sama menguat saat memasuki area MAM. Di hadapan lebih dari 20 pemimpin negara dan organisasi internasional, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva saat membuka forum tertinggi organisasi kerja sama antarnegara yang didirikan oleh Brasil, Rusia, India, dan China itu memberikan sapaan khusus untuk Presiden Prabowo Subianto.

”Saya ingin mengucapkan selamat datang, khususnya untuk Presiden Prabowo Subianto, yang untuk pertama kalinya berpartisipasi dalam KTT BRICS sebagai kepala negara,” tutur Lula da Silva, Minggu (6/7/2025).

Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva saat menyambut dan kemudian bersalaman dengan Presiden Prabowo Subianto ketika Prabowo tiba di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2025 di Museum of Modern Art (MAM), Rio de Janeiro, Brasil, Minggu (6/7/2025).

Presiden Prabowo yang hadir didampingi oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir, Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya pun berkesempatan menyampaikan gagasan Indonesia dalam tiga sesi pleno yang berlangsung dua hari berturut-turut.

Ketika foto bersama di hari terakhir KTT, Prabowo juga ditempatkan pada baris pertama dari total tiga baris yang diisi oleh para presiden, perdana menteri, menteri luar negeri, dari 11 negara anggota penuh BRICS, termásuk Indonesia; 10 negara mitra BRICS, dan delapan organisasi internasional.

Tak hanya di dalam ruang penyelenggaraan KTT, di area Vivo Rio, gedung konser yang dijadikan ruang pers untuk awak media dari sejumlah negara, enam jurnalis asal Indonesia juga menjadi sorotan. Baik tim media ofisial pemerintah negara lain maupun jurnalis dari berbagai media massa berlomba-lomba untuk mewawancarai wartawan Indonesia.

Indah Revina, wartawan RTV, misalnya, diwawancarai oleh tim media ofisial Presiden Lula da Silva. Yohanes Leonardo Rudolf, wartawan TV One, juga memberikan keterangan kepada wartawan dari NHK, perusahaan penyiaran asal Jepang.

Begitu pula Kompas, diwawancarai oleh jurnalis dari Al Mayadeen TV, kanal media televisi yang beroperasi di negara-negara Arab.

KTT BRICS Brasil

Semua jurnalis yang mewawancarai jurnalis Indonesia pun menanyakan hal senada. Mereka ingin mengetahui pandangan awak media mengenai keikutsertaan Presiden Prabowo dalam KTT Ke-17 BRICS dan posisi Indonesia yang sudah menjadi anggota penuh BRICS.

”Indonesia adalah kekuatan ekonomi yang besar, banyak pihak memprediksi bahwa dalam 20-30 tahun ke depan Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar ketiga atau keempat dunia. Jadi, saat Indonesia bergabung di BRICS, seluruh mata tertuju pada Indonesia,” kata Ali Hijazi, wartawan Al Mayadeen TV.

Quote

Indonesia adalah kekuatan ekonomi yang besar, banyak pihak memprediksi bahwa dalam 20-30 tahun ke depan Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar ketiga atau keempat dunia. Jadi, saat Indonesia bergabung di BRICS, seluruh mata tertuju pada Indonesia.

Dengan latar belakang itu, menurut Ali, kehadiran Indonesia akan membuat BRICS yang kini beranggotakan 11 negara, yakni Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, Etiopia, Iran, ditambah Indonesia, menjadi kekuatan yang sangat besar di dunia. Untuk itu, penting untuk mengetahui apa yang akan terjadi melalui rencana program dan kebijakan yang akan dilakukan oleh Indonesia di berbagai Bidang.

”Pandangan dari jurnalis mengenai hal-hal itu akan sangat menarik karena jurnalis selalu memiliki kelebihan untuk melihat situasi secara lebih jelas dan tegas ketimbang para politisi yang kerap berbicara secara diplomatis,” tuturnya.

Para pemimpin dan pejabat negara-negara anggota BRICS berpose untuk foto bersama selama KTT BRICS di Rio de Janeiro, Brasil, Minggu (6/7/2025). Tampak dari kiri ke kanan, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Presiden Indonesia Prabowo Subianto, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, Perdana Menteri India Narendra Modi, Perdana Menteri China Li Qiang, Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed, Perdana Menteri Mesir Mostafa Madbouly, dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi
Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2025 di Rio de Janeiro, Brasil, pada Minggu (6/7/2025).
Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2025 di Rio de Janeiro, Brasil, pada Minggu (6/7/2025).
Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2025 di Rio de Janeiro, Brasil, pada Minggu (6/7/2025).
Infografik BRICS

Sejak era Bung Karno

Antusiasme dunia terhadap manuver politik luar negeri Indonesia bukan pertama kali terjadi dengan menjadi anggota BRICS. Hal itu juga terjadi setelah Indonesia menginisiasi sekaligus menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, 1955.

Forum multilateral yang diikuti 29 negara itu menghasilkan Dasasila Bandung, berisi 10 poin kesepakatan tentang perdamaian, kedaulatan, dan kerja sama antarnegara yang menjadi menjadi landasan pembentukan Gerakan Non-Blok pada 1961.

Pada 1959, dua tahun sebelum Gerakan Non-Blok berdiri, Presiden pertama RI Sukarno mengadakan rangkaian lawatan ke Amerika Selatan. Brasil menjadi negara pertama yang dikunjungi Bung Karno. Kala itu, Bung Karno diterima oleh Presiden Brasil Juscelino Kubitschek de Oliviera di Rio de Janeiro, saat itu ibu kota Brasil.

Selama di Rio de Janeiro, dalam Harian Umum, 22 Mei 1959, yang dikutip Historia.id, 13 Juni 2024, Bung Karno tidak hanya dijamu, tetapi juga diundang untuk mengikuti Kongres Brasil. Ketika berpidato di sidang kongres itu, Bung Karno memperkenalkan Indonesia. Ia menjelaskan sejarah perjuangan kemerdekaan serta kebijakan politik dalam dan luar negeri setelah Indonesia merdeka. Pidato yang ia sampaikan dalam bahasa Inggris yang fasih pun membuat para senator Brasil terpukau.

Presiden Sukarno (tengah) dan Wakil Presiden Mohammad Hatta (kiri) membuka Pekan Olahraga Angkatan Perang di Stadion Ikada Jakarta, September 1952. Hadir di panggung kehormatan, Menteri Pertahanan Hamengku Buwono IX (kanan)

Selain sambutan dari Presiden dan Kongres Brasil, masyarakat setempat juga antusias terhadap presiden pertama dari Asia yang berkunjung ke negara Amerika Latin tersebut.

Mingguan Istimewa, 31 Mei 1959, yang dikutip oleh Historia.id, 13 Juni 2024, menyebutkan, warga Rio de Janeiro mempelajari riwayat hidup Bung Karno, antara lain dari media terbitan Amerika yang terbit di kota itu. Beberapa media dimaksud antara lain Time, Newsweek, dan LIFE, yang beberapa edisinya membuat potret Bung Karno di sampul depan.

Pada masa itu, Bung Karno memang menjadi sorotan media massa Amerika, karena Indonesia sukses menggelar KAA di Bandung pada 1955. Setelah itu, Presiden Sukarno juga mengadakan lawatan kenegaraan termasuk ke Amerika dan Uni Soviet.

Di hadapan rakyat Brasil, Bung Karno juga menyampaikan sikap Indonesia terhadap situasi global di tengah Perang Dingin. Sikap politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, menentang penjajahan, dan mendukung perdamaian dunia itu bertahan hingga saat ini.

Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta di depan Gedung Merdeka, Bandung, tempat pelaksanaan Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung.
Pandu Indonesia mengibarkan bendera negara-negara peserta Konferensi Asia-Afrika di Bandung, 19 April 1955.
Massa memadati area sekitar pelaksanaan Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung. Gedung Pabrik Kursi Rotan itu saat ini adalah gedung Bank OCBC NISP.
Massa memadati ujung Jalan Braga tempat Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung berlangsung. Titik ini saat ini masih persis seperti tampak pada foto.

Kendati bergabung dengan BRICS, Presiden Prabowo Subianto kembali menyampaikan kembali spirit Dasasila Bandung di panggung KTT BRICS.

Ia menegaskan sikap politik Indonesia yang tidak memihak pada kekuatan mana pun. Dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina, dorongan untuk merumuskan solusi damai dalam konflik Iran-Israel, serta perdamaian di negara-negara lain yang tengah berkonflik juga terus disuarakan.

Bagi para Presiden Indonesia, dari Bung Karno hingga Prabowo, pembangunan kesejahteraan bangsa tak bisa dimulai tanpa membangun perdamaian. Solidaritas antarnegara berkembang perlu terus digalang untuk membangun kolaborasi, tetapi tetap pada prinsip menghormati kepentingan dań kedaulatan masing-masing. Gagasan besar dan manuver politik luar negeri itu yang selalu mengarahkan mata dunia kepada Indonesia. Mampukah Indonesia menindaklanjutinya?


Kerabat Kerja

Penulis:

Kurnia Yunita Rahayu, dari Rio de Janeiro, Brasil
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan