Nyaris tidak ada yang steril dari pengaruh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Bahkan, transmisi dampak negatif atau positifnya bisa dirasakan seketika.
09 Jun 2026 11:38 WIB · Tajuk Rencana
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS. Kondisi ini dirasakan banyak orang secara langsung dan tidak langsung. Masyarakat yang berurusan dengan ekspor-impor barang dan jasa akan secara langsung bersinggungan dengan kondisi nilai tukar. Adapun dampak tak langsung bisa dirasakan lewat berbagai hal, antara lain kenaikan harga barang konsumsi, mulai dari tempe dan tahu yang kedelainya diimpor hingga barang elektronik yang mengandung komponen impor.
Situasi global turut menambah kerentanan. Kondisi geopolitik yang masih penuh gejolak berpengaruh ke harga minyak dunia. Padahal, minyak berperan penting dalam perekonomian karena harga yang naik bisa membuat biaya produksi meningkat dan mendongkrak harga barang. Apalagi bagi Indonesia, sebagai negara pengimpor bersih minyak. Artinya, nilai ekspor-impor minyak Indonesia defisit karena nilai impor lebih besar daripada ekspornya.
Dalam data transaksi berjalan yang dirilis Bank Indonesia (BI), nilai transaksi minyak Indonesia defisit 23,951 miliar dolar AS pada 2023, defisit 23,42 miliar dolar AS pada 2024, dan defisit 22,471 miliar dolar AS pada 2025. Secara sederhana, untuk membayar defisit minyak saja, Indonesia memerlukan dolar AS sebesar 22,471 miliar pada tahun lalu.
Senin (8/6/2026), nilai tukar berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Rp 18.171 per dolar AS. Adapun berdasarkan catatan Reuters pada Senin petang, minyak mentah Brent untuk pengiriman 30 Juni 2026 seharga 94,74 dolar AS per barel dan minyak WTI untuk pengiriman 22 Juni 2026 seharga 92,34 dolar AS per barel.
Dalam asumsi makro APBN 2026, nilai tukar Rp 16.500 per dolar AS dan harga minyak Indonesia 70 dolar AS per barel. Sementara dari sisi kesejahteraan, tingkat kemiskinan 6,5-7,5 persen dan tingkat pengangguran terbuka diproyeksikan 4,44-4,96 persen.
Perpaduan pelemahan nilai tukar dan harga minyak yang naik tersebut baru sebagian yang mesti dihadapi warga Indonesia. Masih ada rentetan dampak lainnya, antara lain sebagian usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyerah menghadapi situasi yang terus-menerus tak pasti ini.
Data BI, setidaknya usaha kecil dan menengah membukukan pertumbuhan kredit negatif secara tahunan pada April 2026. Kredit modal kerja UMKM, yang pada Maret 2026 tumbuh minus 4 persen, kembali tumbuh minus 4,1 persen secara tahunan pada April 2026.
Sebagian usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyerah menghadapi situasi yang terus-menerus tak pasti ini.
Padahal, UMKM adalah sektor usaha penyokong perekonomian Indonesia, dengan sumbangan 60 persen produk domestik bruto dan menyerap 96 persen tenaga kerja. Jika jumlah UMKM yang menyerah semakin banyak, penganggur akan bertambah.
Situasi semacam ini bisa memburuk jika tak ada perubahan tata kelola yang menciptakan persepsi positif dan mengerek kembali nilai tukar rupiah. Sampai kapan akan bertahan?
Penulis:
RedaksiEditor:
Dewi IndriastutiPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar