Terdapat beberapa alasan yang membuat Manchester City kembali diunggulkan dalam perburuan gelar Liga Inggris. Arsenal dan Aston Villa patut waspada.
29 Des 2025 14:38 WIB · Olahraga
AP
Ada rumus yang selalu bekerja dalam karier cemerlang Pep Guardiola. Semusim setelah gagal meraih gelar juara liga domestik, sang manajer selalu mampu membawa trofi liga selanjutnya. Rumus itu terlihat tidak akan berlaku di Manchester City musim ini, sampai akhirnya momentum berbalik.
Guardiola bisa tersenyum lepas lagi. Dia semringah menyapa para pendukung tandang yang datang ke markas Nottingham Forest, Stadion City Ground, Sabtu (27/12/2025). Momen itu tersaji seusai City mencuri kemenangan 2-1 atas Forest dan naik ke puncak klasemen sementara.
Joe Cole, mantan pemain tim nasional Inggris, berasumsi, suasana batin Guardiola berbeda dibandingkan dengan musim lalu. ”Kalau dilihat di musim lalu, dia terlihat tidak bahagia. Dia lebih bahagia sekarang, tidak terlalu stres. Itu terlihat dan itu cukup buruk untuk Arsenal,” katanya dalam acara TNT Sports.
Tidak ada yang tahu isi hati Guardiola selain dirinya sendiri. Namun, kebenaran ucapan Cole bisa ditanyakan kepada salah seorang operator kamera di laga City versus Newcastle United sekitar sebulan lalu. Sang operator sempat menjadi korban pelampiasan emosi negatif Guardiola.
Jujur saja, ada energi lebih besar saat kami memenangi laga.
Guardiola lebih bahagia? Mungkin benar. Hanya saja, itu tergantung dari performa dan hasil City di lapangan. Tidak mungkin sang manajer bisa semringah seperti setelah kalah dari Newcastle. Kebahagiaannya tidak lepas dari tren positif Erling Haaland dan rekan-rekan dalam sebulan terakhir.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/23/0d88541c23360d3558874ea4b70b10c2-Britain_Premier_League_Soccer.jpeg)
City mencatat enam kemenangan beruntun di Liga Inggris sejak kalah di kandang Newcastle. Selisih tujuh poin dari tim pesaing juara, Arsenal, kini tinggal dua poin. Mereka resmi kembali ke perburuan trofi. ”Jujur saja, ada energi lebih besar saat kami memenangi laga,” ujar Guardiola.
City telah menemukan keseimbangan, terutama saat tanpa kehadiran gelandang andalan Rodri. Kemenangan di markas Forest menjadi salah satu buktinya. Di musim lalu dan awal musim ini mereka akan sangat kerepotan menghadapi tim dengan strategi '”parkir bus” dan transisi kilat seperti Forest.
Problem struktur bertahan yang sempat jadi isu terbesar City terlihat mulai luntur. Mereka melimitasi ancaman Forest yang hanya mampu menciptakan dua tembakan tepat sasaran. Jarak antarpemain City lebih rapat saat menghadapi serangan balik. Penggunaan formasi dengan banyak gelandang, 4-3-2-1, berpengaruh.
Perbaikan di sisi pertahanan itu tampak nyata dalam hasil empat laga terakhir. City hanya kemasukan 1 gol saat mampu memasukkan 11 gol. Rekor pertahanan itu bagai bumi dan langit jika dibandingkan dengan di awal musim. Mereka kemasukan 16 gol dari 14 laga pertama liga.
Stabilitas City tidak lepas dari formasi empat bek sejajar yang mulai solid. Sang manajer mengandalkan Matheus Nunes, Ruben Dias, Josko Gvardiol, dan Nico O’Reilly. City bisa nyaman menggunakan formasi yang sama karena tidak diganggu badai cedera seperti musim lalu.
Menurut Guardiola, penyegaran taktik turut membantu peningkatan performa City. Dia didukung oleh staf kepelatihan baru pada musim ini, mulai dari Pepjin Lijnders, Kolo Toure, hingga James French. ”Hasil memang membantu, tetapi metodologinya juga penting,” kata Guardiola yang merasa lebih seperti asisten dari Lijnders.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/15/aaa14671-9574-40d2-ae09-107d9f564567.jpg)
Di lini serang, City mulai terlihat seperti layaknya tim sepak bola yang berisikan sebelas pemain. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan Haaland. Di tiga laga dari enam kemenangan City terakhir di liga, Haaland tidak berkontribusi gol. Termasuk dalam pertandingan versus Forest.
Gelandang serang mereka, Phil Foden dan Rayan Cherki, bergantian menambah opsi di kotak penalti lawan. Pemerataan gol pun mulai terjadi. Tidak seperti di awal musim, Haaland sempat mencetak 11 dari 17 total gol City dalam delapan pertandingan pertama liga.
Cherki, gelandang yang baru dibeli dari Olympique Lyon di musim panas lalu, adalah asa terbesar di era baru City. Setelah menjadi pahlawan kemenangan lewat 1 gol dan 1 asis di City Ground, dia semakin terlihat sebagai pengganti sesungguhnya dari sosok Kevin De Bruyne.
Kreativitas Cherki menyala terang di musim debutnya. Dia sudah menghasilkan tujuh asis, terbanyak di liga sejauh ini. Pemain timnas Perancis itu bahkan mampu menghasilkan rerata 0,98 asis per 90 menit. Rasio itu merupakan yang tertinggi dalam sejarah Liga Primer.
Hal terpenting, Cherki memahami perannya dengan sangat baik sebagai kreator utama. ”Saya selalu ingin mencetak gol, tetapi itu bukan peran saya. Erling ada di sini untuk itu! Saya ingin memberikan umpan yang bagus kepada rekan-rekan setim saya dan saya sangat bangga akan hal itu,” ucapnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/27/441d9aea27fc9e969e67e961304fa24f-82122340ae7d4fa087005e5be866d1a4_0_701d250a086b407b9d4f6ef3300a83d6.jpg)
Dari pertahanan, serangan, hingga staf pelatih, City jauh lebih baik musim ini. Semua itu menambah keyakinan, Guardiola akan mengembalikan titel juara liga di akhir musim. Dia sudah memenangi 12 gelar liga dari 16 musim dalam kariernya. Sang manajer tidak pernah gagal menjuarai liga dua musim beruntun.
Pesaing utama City (40 poin) adalah Arsenal (42) dan Aston Villa (39). Arsenal mulai terlihat goyang karena badai cedera berkepanjangan. Villa sedang berapi-api dengan 11 kemenangan beruntun di seluruh kompetisi, tetapi konsistensi tim papan tengah itu selalu diragukan dalam jangka panjang.
Alhasil, dari pacuan tiga kuda dalam perburuan juara kali ini, City merupakan kuda yang paling prima sejauh ini untuk mencapai garis akhir di posisi terdepan. Adapun Arsenal dan Villa akan saling jegal pada tengah pekan ini. City bisa mengambil keuntungan dari itu. (AP/Reuters)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto