Saking frustrasinya, Arsenal bisa menang terus-terusan tanpa gol dari pemain sendiri. Arsenal memanfaatkan margin tipis di lapangan, termasuk saat menjamu Brighton.
28 Des 2025 08:50 WIB · Olahraga
AFP/ADRIAN DENNIS
LONDON, MINGGU — Bagi Arsenal, tak ada hal yang lebih penting saat ini dibandingkan kemenangan. Hanya itu cara mereka untuk menuntaskan dahaga juara berkepanjangan. Berbagai cara pun diupayakan untuk konsisten meraih tiga poin, termasuk bergantung pada gol bunuh diri pemain lawan.
Kemenangan kurang indah kembali diraih Arsenal di Stadion Emirates, London, Sabtu (27/12/2025). Mereka menang dengan margin tipis 2-1 atas tim tamu, Brighton and Hove Albion. Pembedanya adalah gol bunuh diri penyerang lawan, Georginio Rutter, pada menit ke-52.
Tiga kali beruntun di Liga Inggris, ”Si Meriam” menang dengan selisih satu gol. Empat dari enam gol terakhir mereka berasal dari bunuh diri pemain lawan. Data itu tampak kurang meyakinkan untuk tim calon juara, tetapi kenyataannya Arsenal masih memuncaki klasemen liga dengan 42 poin.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/28/ab7a7fef3c02e709d13dd2f7ae973287-Britain_Premier_League_Soccer_8_.jpg)
”Beberapa laga terakhir berlangsung ketat hingga akhir, tetapi hal terpenting adalah Anda harus menang dengan berbagai cara. Kami harus terus melaju dan meraih kemenangan. Tentu kami semestinya bisa lebih baik dari ini,” kata kapten Arsenal, Martin Odegaard, yang mencetak gol pembuka.
Arsenal jelas bisa lebih baik dari beberapa pekan terakhir. Mereka sudah membuktikan itu di tiga bulan pertama musim ini. Hanya saja, badai cedera yang datang tanpa henti tidak menguntungkan tim asuhan Manajer Mikel Arteta tersebut. Di laga tadi, misalnya, mereka mengalami krisis bek.
Gelandang Declan Rice terpaksa bermain di bek sayap kanan karena Jurrien Timber dan Ben White sedang cedera. Bek sayap kiri Riccardo Calafiori tiba-tiba dipastikan batal tampil karena cedera saat pemanasan. Adapun bek tengah Gabriel Magalhaes baru saja pulih setelah menepi sebulan terakhir.
Kondisi itu membuat stabilitas Arsenal agak terganggu. Mereka bisa kehilangan keseimbangan tiba-tiba. Seperti di laga tadi, Arsenal mendominasi permainan pada satu jam pertama. Tuan rumah nyaman dengan keunggulan dua gol, sampai tiba-tiba kemasukan pada menit ke-64.
Gol Brighton, lewat gelandang serang Diogo Gomez, merupakan tembakan tepat sasaran kedua tim tamu di laga tersebut. Hal itu memperlihatkan kesulitan Brighton untuk menembus kotak penalti lawan. Namun, setelah gol itu, Arsenal tiba-tiba kehilangan kendali dan momentum.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/28/7d3666b578729dbeacee0bedde6c4efd-wires_photo_2025_12_28T013120.628.jpg)
Arsenal ditekan pada setengah jam terakhir laga. Walaupun terkesan mendadak, kepanikan mereka terlihat sangat lumrah. Empat bek sejajar tuan rumah baru pertama kali bermain bersama di lini belakang. Mereka adalah Rice, William Saliba, Pierro Hincapie, dan Myles Lewis-Skelly.
Arteta membaca kepanikan itu. Sang manajer berupaya menetralkan situasi dengan memasukkan Gabriel yang baru sembuh cedera. Gabriel menggantikan Lewis-Skelly pada menit ke-71. Duet bek tengah Gabriel dan Saliba membuat pertahanan Arsenal sedikit lebih tenang.
Penjaga gawang David Raya turut memegang peranan penting dalam kemenangan Arsenal. Dia terbang menyelamatkan tembakan ke sudut atas tiang jauh dari penyerang Brighton, Yankuba Minteh. Tanpa sentuhan jari Raya, skor akan berubah jadi 2-2 dan Arsenal pasti semakin panik.
”David harus melakukan penyelamatan untuk menjaga hasil. Itulah yang terjadi, tetapi apa yang suka adalah kami mampu menghadapi berbagai masalah dengan luar biasa. Kemarin kami kehilangan Jurrien, hari ini giliran Calafiori. Spirit tim ini memperlihatkan betapa para pemain menginginkan (juara),” kata Arteta.
Jika dilihat sekilas, gol-gol bunuh diri yang didapatkan Arsenal tampak seperti keberuntungan. Namun, itu sama sekali bukan kebetulan. Arsenal dikenal sebagai tim terbaik dalam bola mati, khususnya tendangan sudut. Mereka sudah memasukkan sepuluh gol dari skema bola mati di liga.
Tim-tim lawan pun sangat reaktif dan terlihat panik ketika bertahan dari skema tendangan sudut Arsenal. Terbukti, tiga dari empat gol bunuh diri yang didapatkan Arsenal berawal dari skema tendangan sudut. Termasuk Rutter yang menyundul eksekusi tendangan sudut dari Rice.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/28/c2a0a23502e39d15c317ccbd364361c3-APTOPIX_Britain_Premier_League_Soccer_3_.jpg)
Di laga versus Everton, pekan lalu, Arsenal menang 1-0. Kemenangan itu tidak datang dari gol bunuh diri, tetapi dari kesalahan lawan di kotak penalti. Pemain Everton menyentuh bola dengan tangan saat menghalau umpan dari tendangan sudut. Skema bola mati Arsenal mematikan dengan berbagai cara.
Pelatih Brighton Fabian Hurzeler berkata, laga itu memperlihatkan kematangan Arsenal sebagai calon juara. Tim tuan rumah bisa memanfaatkan margin yang sangat kecil untuk menang. ”Saya pikir margin yang tipis itu menjadi pembeda di liga ini. Kami kalah karena kesalahan individu sendiri,” ujarnya.
Hasil itu membuat Arsenal sementara bisa kembali lepas dari kejaran Manchester City. Sebelum laga di Stadion Emirates, City sempat mengambil posisi puncak lewat kemenangan atas Nottingham Forest, 2-1. Arsenal merebut kembali posisi teratas beberapa jam setelahnya. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan