Dua korban banjir ditemukan tewas mengambang di Jakarta Timur dan Bekasi. Mereka diduga tenggelam dan terseret arus banjir.
19 Jan 2026 16:53 WIB · Metropolitan
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
JAKARTA, KOMPAS — Dua orang tewas karena terseret arus banjir di Jakarta Timur dan Kota Bekasi. Warga diimbau selalu waspada karena banjir masih berpotensi terjadi hingga pekan depan.
Di Jakarta Timur, RP (18) ditemukan tewas di sisi kolong Jembatan Kirana Tol JORR RT 009 RW 008 Kelurahan Cakung Barat, Jakarta Timur. RP diduga tenggelam akibat terseret banjir.
Kepala Polsek Cakung Komisaris Widodo Saputro dalam keterangannya, Senin (19/1/2026), menjelaskan, insiden itu dilaporkan warga pada Sabtu (17/1/2026). Pelapor melihat korban terjatuh saat melintasi kawasan banjir.
”Saat banjir merendam lokasi kolong jembatan Tol Kirana Rorotan, korban terjatuh dan tenggelam,” katanya.
Setelah menerima laporan ada korban tenggelam, polisi bersama personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), satuan pelaksana Dinas Sumber Daya Air Kecamatan Cakung, dan pemadam kebakaran langsung mencari korban.
Tim, kata Widodo, mengerahkan 3 perahu karet, 4 pompa air, dan 1 ambulans. Pencarian dilakukan di sekitar kolong Jembatan Kirana Tol JORR. Jasad RP baru ditemukan pada Minggu (18/1/2026).
”Saat ditemukan, korban sudah meninggal. Jenazahnya sekarang telah diserahkan kepada keluarganya,” ujar Widodo.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/18/8b11d561f5558345e731f72bc1b0e39f-FAK_8674.jpg)
Korban jiwa akibat banjir juga jatuh di Kota Bekasi, Jawa Barat. Korban adalah Namat (79), warga Perumnas III, Kelurahan Aren Jaya, Bekasi Timur, Minggu.
Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Bekasi Idham Kholid mengatakan, korban diduga terseret banjir. Saat dievakuasi warga, Namat sudah meninggal.
Dua korban tewas itu menambah daftar panjang jatuhnya korban jiwa akibat banjir. Sepekan sebelumnya, banjir pada Senin (12/1/2026) juga menelan tiga korban jiwa. Mereka warga Cilincing, Jakarta Utara, yang tewas diduga akibat tersengat listrik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/18/b49c86f61df2795be35ee89ec5c5dcc1-FAK_8863.jpg)
Kepala Polsek Cilincing Ajun Komisaris Bobi Subasri, Selasa (13/1/2026), mengatakan, ketiga korban tewas berada di dua tempat yang berbeda. Pasangan suami-istri Hadi Warno (55) dan Naning Juniarti (50) ditemukan tewas di dalam rumah mereka yang berada di Semper Barat, Cilincing. Adapun Maya Saputri (43) ditemukan tewas di rumahnya di Kalibaru.
Korban Hadi dan Naning ditemukan pertama kali oleh anak mereka, MD (17). Saat itu, pada Senin (12/1/2026), sekitar pukul 10.30 WIB, ia baru saja pulang dari sekolah. Alangkah terkejutnya MD ketika masuk ke rumah dan melihat jasad kedua orangtuanya mengambang di air.
Dia pun berteriak meminta pertolongan tetangganya untuk mengevakuasi kedua orangtuanya tersebut. Dari hasil penyelidikan sementara, ujar Bobi, penyebab kematian kedua korban akibat tersengat aliran arus listrik saat banjir terjadi.
”Dari hasil penyelidikan, ditemukan ada kabel kulkas yang terkelupas,” katanya.
Adapun korban Maya Saputri ditemukan tewas tergeletak di rumahnya sekitar pukul 09.00. Dari keterangan sejumlah saksi, Maya membersihkan rumah yang terendam banjir sebelum ditemukan tewas.
Dari pemeriksaan jasad ketiga korban, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. ”Ada dugaan, ketiga korban tewas akibat tersengat listrik dari peralatan yang ada di dalam rumahnya,” kata Bobi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/18/91e4e19a86d0176358a9d29599611c41-FAK_7885.jpg)
Kepala BPBD Pemprov Jakarta Isnawa Adji mengatakan,
banjir melanda puluhan rukun tetangga (RT) dan jalan raya di Jakarta seiring hujan deras pada 12 Januari 2026. Setidaknya 1.137 warga mengungsi karena wilayah permukimannya terendam banjir hingga puluhan sentimeter.
Saat itu, curah hujan mencapai 150 milimeter (mm) per hari. Curah hujan ini dinilai melebihi daya tampung infrastruktur pengendalian banjir skala mikro dan makro yang dirancang untuk curah hujan 100 mm per hari dan 150 mm per hari.
Isnawa mengatakan, banjir yang dipicu hujan deras menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan harus terus ditingkatkan. Apalagi, prakiraan cuaca menunjukkan potensi hujan lebat masih akan terjadi hingga pekan depan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan curah hujan di wilayah Jabodetabek akan meningkat sepekan ke depan atau hingga 22 Januari 2026. Puncak intensitas hujan diprakirakan terjadi pada 18-20 Januari 2026.
Penulis:
Rhama Purna JatiEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Nur Adji