Lain Prabowo, Lain Jokowi Saat Sidang Tahunan MPR

Presiden Prabowo memilih tak mengenakan pakaian adat di Sidang Tahunan MPR seperti kebiasaan Jokowi. Prabowo baru akan mengenakannya saat upacara 17 Agustus.

15 Agt 2025 18:54 WIB · Politik & Hukum

Oleh Machradin Wahyudi Ritonga, Iqbal Basyari, Nikolaus Harbowo, Nino Citra Anugrahanto, Hidayat Salam

Pakaian adat dan Sidang Tahunan MPR sempat cukup lekat semasa kepemimpinan Presiden ke-7 Joko Widodo. Kala itu, apa yang dikenakan kepala negara selalu dinanti-nanti masyarakat. Alih-alih melanjutkan kebiasaan itu, Presiden ke-8 Prabowo Subianto tampil di Sidang Tahunan MPR 2025 dengan mengenakan pakaian sipil lengkap.

Rombongan Prabowo tiba di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (15/8/2025) sekitar pukul 08.35 WIB. Hadir dengan setelan kemeja lengan panjang, jas dan celana berwarna gelap, plus dasi biru muda, dan peci menghiasi kepala, Prabowo turun dari mobil Maung MV3 Garuda Limousine warna putih yang menjadi kendaraan dinasnya.

Kehadiran dan berpidato di hadapan 732 anggota MPR di sidang tahunan tersebut merupakan yang pertama kali bagi Prabowo sebagai presiden. Sebelumnya ia menghadiri sidang sebagai Menteri Pertahanan 2019-2024 atau tamu undangan MPR sebelum menjabat menteri.

Pertama kali hadir sebagai presiden, penampilan Prabowo yang dibalut pakaian sipil lengkap (PSL) berbeda dibandingkan dengan kebiasaan Jokowi. Selama periode kepemimpinannya, ayah dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming itu kerap mengenakan pakaian adat saat menghadiri Sidang Tahunan MPR.

Presiden Indonesia Prabowo Subianto memberi salam hormat saat berjalan di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (15/8/2025). Presiden Prabowo Subianto, untuk pertama kalinya menyampaikan pidato kenegaraan serta Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 pada Sidang Tahunan MPR.



KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)

15-08-2025

Pilihan Prabowo mengenakan PSL ini, menurut Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, sama sekali bukan berarti tidak menghormati adat istiadat warisan leluhur. Namun, pilihan busana tersebut lebih karena kebiasaan Prabowo. Lagi pula penggunaan pakaian adat tidak diwajibkan saat Sidang Tahunan MPR.

”Berdasarkan undangan, di situ tidak mewajibkan juga untuk mengenakan pakaian adat. Bukan berarti tidak menghormati pakaian adat, ini masalah kebiasaan. Beliau lebih memilih menggunakan PSL,” kata Prasetyo seusai menghadiri Sidang Tahunan MPR.

Pakaian adat, menurut rencana, akan dikenakan Prabowo dalam upacara detik-detik proklamasi kemerdekaan di halaman Istana Merdeka, Jakarta, pada 17 Agustus. Meski demikian, dia masih merahasiakan asal dari pakaian adat yang akan dikenakan atasannya itu. ”Daerahnya? biarlah itu menjadi surprise, ya,” ucapnya.

Para legislator juga tidak mempersoalkan pilihan pakaian Prabowo. Ketua DPR Puan Maharani menyebut tidak ada aturan khusus yang mengharuskan kepala negara mengenakan pakaian adat.

Presiden Prabowo Subianto (tiga dari kanan) berjalan keluar bersama Ketua DPR Puan Maharani (empat dari kanan) di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (15/8/2025). Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di pengantar Nota Keunagan dan RAPBN 2026 menargetkan defisit anggaran negara pada 2026 mencapai Rp638,8 triliun. Sementara itu, pemerintah menetapkan asumsi pendapatan negara pada 2026 sebesar Rp 3.147,7 triliun dan belanja negara ditargetkan mencapai Rp3.786,5 triliun.



KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)

15-08-2025

Puan menekankan, PSL memang dianjurkan dalam sidang tahunan. Namun, dalam rangkaian perayaan HUT Ke-80 RI, dia mengatakan akan ada opsi untuk mengenakan pakaian adat.

”Justru (sidang tahunan) baju nasional atau PSL. Kalau saya lihat dari undangannya hari Minggu (HUT RI), diharapkan semua yang hadir selain memakai baju nasional akan memakai baju adat,” kata politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu.

Kebiasaan pertama

Jika ditilik ke belakang, yang dikenakan Prabowo saat Sidang Tahunan MPR kali ini sama seperti di era presiden sebelum Jokowi. Kebiasaan kepala negara mengenakan pakaian adat di sidang memang dimulai di masa Jokowi. Catatan Kompas, tahun 2017 pertama kali Jokowi memulai tradisi tersebut. Ketika itu, pakaian yang dikenakannya berasal dari Bugis, Sulawesi Selatan. 

Pada 2018 Jokowi sempat hanya mengenakan setelan jas formal untuk menghadiri sidang yang sama. Kebiasaan berpakaian adat baru dilanjutkannya kembali pada 2019. Sejak saat itu ia rutin mengejutkan publik dengan tampilan pakaian adat dari sejumlah daerah saat menghadiri sidang pelaporan kinerja pemerintah tahunan tersebut.

Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) dan Presiden ketujuh RI Joko Widodo (kiri) melambaikan tangan setibanya untuk mengikuti Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2025 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (15/8/2025). ANTARAFOTO/Dhemas Reviyanto/app/rwa.

Bahkan, dari tahun ke tahun, pakaian apa yang akan dikenakan Jokowi selalu membuat publik bertanya-tanya. Sebab, biasanya ada makna tersirat yang coba ingin disampaikan sosok itu dengan busana-busana daerah tersebut.

Pada 2021 Jokowi mengejutkan hadirin saat tampil dengan pakaian adat Baduy, Banten. Ketika itu, ia mengenakan baju kampret berwarna hitam dan celana gelap yang diikatkan dengan beubeur (ikat pinggang) dan ikat kepala batik warna biru dan hitam. Kostum itu juga dilengkapi tas yang terbuat dari kulit kayu pohon terep bernama jarog atau koja. 

”Busana yang saya pakai adalah pakaian adat suku Baduy. Saya suka karena desainnya yang sederhana, simpel, dan nyaman dipakai. Saya juga ingin berterima kasih kepada Pak Jaro Saija, tetua adat masyarakat Baduy, yang telah menyiapkan baju adat ini,” tutur Jokowi di akhir pidatonya kala itu.

Kebetulan momen pakaian itu dikenakan Jokowi dalam suasana negara yang belum pulih seutuhnya dari hantaman pandemi Covid-19. Masa-masa sulit itu menuntut teladan keprihatinan pemimpin negara.

<p>Presiden Joko Widodo berpidato pada Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2021 dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI dalam rangka HUT Ke-76 Republik Indonesia di Ruang Rapat Paripurna, Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Senin (16/8/2021).</p>

Karena itu, AAGN Dwipayana, yang ketika itu menjabat Koordinator Staf Khusus Presiden, menjelaskan, pakaian adat yang dikenakan Jokowi memang ingin menyimbolkan kesederhanaan. ”Situasi pandemi seperti ini, Presiden harus betul-betul menunjukkan contoh,” ujarnya seperti diberitakan Kompas (16/8/2021).

Lain lagi yang terjadi pada 2020 saat Jokowi mengenakan pakaian adat Sabu, Nusa Tenggara Timur. Tampilan baju adat itu terdiri dari hi’i atau kain persegi panjang berjumbai yang disampirkan di bahu. Selain itu, ia juga memakai ikat kepala bermotif tenun yang sama. 

Dikenakannya pakaian adat asal Sabu terasa kian istimewa. Pasalnya, Pulau Sabu termasuk salah satu pulau terluar di bagian selatan Indonesia. Keadaan itu membuat wilayah tersebut seakan kerap terlupakan. 

Di sisi lain, kepedulian dan wacana pemerataan pembangunan menjadi salah satu ciri Jokowi. Secara tersirat, pakaian itu memberi pesan ihwal perhatiannya pada daerah-daerah terluar. Pun, semasa memimpin, Jokowi juga sering mengajak masyarakat mengenal dan menyukai produk dan budaya Indonesia. Oleh karena itu, pakaian-pakaian adat itu dikenakannya setiap peringatan 17 Agustus dan pidato kenegaraan. 

Presiden Joko Widodo saat menyampaikan Pidato Kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR RI Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (16/8/2022). Dalam Sidang Tahunan MPR RI ini Presiden RI Joko Widodo menyampaikan Pidato Kenegaraannya dengan memaparkan kondisi segala aspek yang terjadi di Indonesia dalam kurun satu tahun terakhir, baik dari segi politik, ekonomi, kesehatan, sosial, dan budaya. Presiden RI ke V Megawati Soekarnoputri, Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, Mantan Wakil Presiden Boediono, Mantan Wakil Presiden Hamzah Haz, dan beberapa tokoh lain juga turut hadir dalam Sidang Tahunan MPR RI ini. Selain dihadiri sejumlah tokoh tersebut, sejumlah tamu undangan tampak mengenakan pakaian daerah dalam acara ini. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO 16-8-2022

”Dengan mengenakan pakaian adat ini, Presiden Joko Widodo hendak mengajak masyarakat untuk mencintai produk-produk Indonesia yang dikenal kaya akan seni kriya, tenun, dan kebudayaan Nusantara,” kata Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono seperti diberitakan Kompas (14/8/2020).

Selain baju adat dari Baduy dan Sabu, Jokowi juga pernah mengenakan busana dari daerah lainnya. Di antaranya, dari Sasak, Nusa Tenggara Barat (2019); Pakisan, Bangka Belitung (2022);Tanimbar, Maluku (2023); dan Betawi, Jakarta (2024).

Persatuan bangsa

Menurut Wakil Ketua MPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno, pilihan Prabowo mengenakan PSL adalah hal yang biasa. Pakaian adat di sidang tahunan hanyalah variasi sehingga bukanlah sebuah keharusan.

”Nanti, 17 Agustus akan ada yang menggunakan PSL, baju adat, baju Nusantara, dan lain-lain,” katanya.

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menggunakan pakaian adat saat berjalan di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (15/8/2025). Presiden Prabowo Subianto, untuk pertama kalinya menyampaikan pidato kenegaraan serta Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 pada Sidang Tahunan MPR.



KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)

15-08-2025

Yang lebih penting dari sekadar busana yang dikenakan, menurut Eddy, adalah substansi pidato yang disampaikan Prabowo.

Di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jumat, Prabowo dua kali berpidato. Pertama, pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR serta Sidang Bersama DPR dan DPD. Siang harinya, pidato pengantar Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 beserta nota keuangannya pada Rapat Paripurna DPR.

Dalam pidatonya, banyak pernyataan Prabowo yang membangun optimisme bangsa. Meski demikian, Prabowo juga mengingatkan banyak pekerjaan yang menanti di masa depan. Indonesia, misalnya, harus lepas dari kemiskinan ekstrem dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Meskipun hadir tanpa mengenakan pakaian adat seperti presiden sebelumnya, semangat Prabowo tetap sama, yakni mewujudkan Indonesia yang bersatu dan maju. ”Untuk itu, kita harus saling bekerja sama. Kita harus bersatu dan bergotong royong. Bersatu. Berdaulat. Rakyat sejahtera, Indonesia maju. Dirgahayu Republik Indonesia ke-80. Merdeka!” seru Prabowo sebelum menutup pidato.





Kerabat Kerja

Penulis:

Machradin Wahyudi Ritonga, Iqbal Basyari, Nikolaus Harbowo, Nino Citra Anugrahanto, Hidayat Salam
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto