Langkah Besar Alexandra Eala

Alexandra Eala tak henti menjadi buah bibir dalam turnamen tenis WTA 1000 Miami. Dia ke semifinal dengan menyingkirkan Iga Swiatek.

27 Mar 2025 14:23 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

Foto Alexandra Eala, sambil diapit Rafael Nadal dan Iga Swiatek, saat acara kelulusan dari Akademi Tenis Rafa Nadal di Mallorca, Spanyol, pada 2023 meramaikan kembali media sosial. Foto itu tersebar setelah Eala mendapat kemenangan terbesar dalam kariernya ketika menyingkirkan Swiatek pada turnamen WTA 1000 Miami.

Momen tersebut terjadi pada perempat final di Stadion Hard Rock, Miami, Florida, Amerika Serikat, Rabu (26/3/2025) waktu setempat. Petenis berusia 19 tahun tersebut menang dengan skor 6-2, 7-5.

Tak ada teriakan atau senyum begitu Eala mendapat poin terakhir ketika bola dari pukulan Swiatek jatuh di luar lapangan. Eala hanya bengong dengan sedikit gemetar, termasuk ketika mendapat ucapan selamat dari Swiatek. Baru setelah bersalaman dengan wasit, Eala tersenyum, mengangkat tangan, merayakan kemenangan di tengah tepuk tangan penonton.

Di antara mereka yang berada di tribune terdapat orangtua, Mike Eala dan Rizza Maniego-Eala, yang terbang dari Filipina. Mereka berada di tribune tim bersama tim pelatih Eala dari Akademi Rafa Nadal.

Dari kiri ke kanan : Rafael Nadal, Alexandra Eala, dan Iga Swiatek berfoto bersama pada saat acara kelulusan Eala dari Akademi Tenis Rafa Nadal di Mallorca, Spanyol, tahun 2023. Dua tahun kemudian, Eala mengalahkan Swiatek pada perempat final WTA 1000 Miami, Kamis (27/3/2025) WIB.

Satu sosok lain yang juga spesial dan berada di tribune adalah Toni Nadal. Paman yang juga mantan pelatih Nadal ini adalah duta dari akademi yang pernah mengisi posisi direktur akademi pada 2016-2023.

”Banyak motivasi tambahan pada pertandingan hari ini. Saya ingin agar keluarga saya melihat langsung kemenangan saya. Juga, ada Toni yang datang ke Miami. Itu sangat berarti karena saya berlatih di akademi bertahun-tahun. Kebanggaan sebagai murid akademi ada pada diri saya,” tutur Eala yang bertanding di Miami karena mendapat wildcard.

Kemenangan atas Swiatek mengantarkan Eala pada kemenangan terbesar dan fase tertinggi turnamen sejak bersaing di arena profesional pada 2020. Itu terjadi setelah dia menyingkirkan juara Grand Slam lainnya, yaitu Jelena Ostapenko (juara Perancis Terbuka 2017) dan Madison Keys (juara Australia Terbuka 2025), pada babak kedua dan ketiga.

Dibandingkan Ostapenko dan Keys, Swiatek berada pada level berbeda meski belum meraih gelar pada 2025. Dalam usia 23 tahun, Swiatek memiliki lima gelar juara Grand Slam, pernah menjadi petenis nomor satu dunia, dan memiliki performa terbaik dalam tiga tahun terakhir.

Petenis Filipina Alexandra Eala mengembalikan bola ke petenis Polandia Iga Swiatek pada laga perempat final WTA 1000 Miami di Stadion Hard Rock, Miami, Florida, Amerika Serikat, Rabu (26/3/2025) waktu setempat. Eala menang dengan skor 6-2, 7-5.

Maka, Eala bagai tak percaya dengan yang diraihnya ketika melawan petenis Polandia tersebut. Apalagi, ini terjadi pada turnamen WTA 1000 yang hanya satu level di bawah Grand Slam.

”Saya sangat fokus pada perebutan poin demi poin. Maka, rasanya sulit untuk percaya atas apa yang terjadi. Saya membutuhkan waktu untuk mencerna semuanya karena saya tidak pernah mengalami ini,” tutur Eala ketika menjelaskan ekspresinya pada akhir pertandingan.

Dibandingkan Swiatek, Keys, dan Ostapenko, pengalaman Eala dalam Tur WTA masih minim. Dia baru bersaing pada turnamen WTA 1000 pada 2021 dan belum pernah melewati babak kedua sebelum di Miami 2025.

Pada level Grand Slam, satu-satunya petenis Filipina di Tur WTA ini baru bisa menembus fase kualifikasi sejak 2023. Namun, Eala mengatakan bahwa dirinya memiliki bekal untuk bersaing di arena profesional, yaitu kemampuan untuk memilah masalah dan emosi hingga bisa fokus pada pertandingan.

Kemampuan itu pula yang akan dibawa untuk menjalani semifinal melawan Jessica Pegula, Kamis malam waktu setempat atau Jumat pagi waktu Indonesia. Adapun semifinal lain mempertemukan petenis nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, dan Jasmine Paolini.

Ketangguhan Eala dipupuk sejak dia meninggalkan kampung halaman untuk berlatih di Akademi Rafa Nadal pada usia 13 tahun. Padahal, tenis bukanlah olahraga populer di Filipina.

Petenis Polandia Iga Swiatek mengembalikan bola ke petenis Filipina Alexandra Eala pada laga perempat final WTA 1000 Miami di Stadion Hard Rock, Miami, Florida, Amerika Serikat, Rabu (26/3/2025) waktu setempat. Eala menang dengan skor 6-2, 7-5.

Eala belatih di Mallorca karena mendapat beasiswa berkat gelar juara dari turnamen untuk petenis berusia 12-14 tahun, Les Petits As. Dia belajar mandiri karena tinggal di asrama, hidup bersama sesama petenis muda dengan cita-cita sama dan bersama pelatih-pelatih top.

”Meniti jalan untuk berkembang itu sulit. Saya tidak punya contoh (dari negara sendiri) meski banyak sosok lain yang bisa saya lihat. Semoga perjalanan saya di sini bisa menaikkan level tenis di Filipina,” kata petenis peringkat ke-140 dunia tersebut dalam New York Times.

Eala mengenal tenis dari kakeknya yang sangat menyukai olahraga ini. Dia memperkenalkan tenis pada semua cucunya dengan mengajak mereka ke klub tenis lokal. Di antara semua cucu, Eala dan kakaknya, Miko, menjadi yang paling tertarik pada dunia tenis. Miko, yang berusia 23 tahun, bermain tenis untuk Pennsylvania State University.

”Saya tak pernah membayangkan diri saya menekuni olahraga lain, selain tenis. Saya merasa terus berkembang dan punya potensi di cabang ini,” kata peraih medali perunggu tunggal putri Asian Games Hangzhou 2022 ini.

Petenis Filipina Alexandra Eala mengembalikan bola ke petenis Polandia Iga Swiatek pada laga perempat final WTA 1000 Miami di Stadion Hard Rock, Miami, Florida, Amerika Serikat, Rabu (26/3/2025) waktu setempat. Eala menang dengan skor 6-2, 7-5.

Eala menjadi bagian dari remaja putri yang menarik perhatian penggemar tenis pada tiga bulan pertama 2025. Mirra Andreeva, petenis Rusia berusia 17 tahun, menjuarai dua turnamen WTA 1000 secara beruntun, di Dubai dan Indian Wells. Saat ini, dia menempati peringkat keenam dunia dan menjadi petenis termuda di jajaran 100 besar dunia.

Petenis Australia berusia 18 tahun, Maya Joint, menjadi remaja lainnya yang sudah menembus peringkat 100 besar, yaitu di urutan ke-80. Eala akan menyusul berkat perjalanannya di Miami. Jika menghitung poin berdasarkan perjalanan ke semifinal, Eala akan menempati peringkat ke-75.

”Tentu saja, ini langkah besar, tetapi saya orang yang sama seperti dua pekan lalu. Saya harus tetap rendah hati dan bekerja keras. Hasil yang didapat akan sesuai dengan kerja keras itu,” katanya. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji